Calhaj LPP KBIH Muhammadiyah Jateng Dibimbing Mandiri di Tanah Suci

0
Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (LPP KBIH) Pimpinam Wilayah Muhammadiyah Jawa tengah menggelar Rapat koordinasi. Foto: pwmjateng.com

JAMAAH Haji yang berangkat melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah dan Aisyiyah Jawa Tengah tahun 2018 sebanyak 5.183 orang. Mereka diberangkatkan setelah mendapat bimbingan khusus sesuai dengan karakter Muhammadiyah.

Sekretaris Lembaga Pembinaan dan Pengembangan (LPP) KBIH Jawa Tengah Nurbini mengungkapkan, program LPPKBIH Muhammadiyah sifatnya pembinaan dan pengembangan. Kegiatan rutin dilaksanakan dengan mengumpulkan calon jamaah Haji sesuai eks karesidenan, yaitu Kota Semarang, Pati, Pekalongan, Surakarta, Kedu dan Banyumas.

“Secara bergantian kita turun ke bawah dengan jadwal berbeda-beda. Ada yang 3 bulan sekali dan ada yang 6 bulan sekali. Kita berkoordinasi, berkonsolidasi dan menginventarisir problem-problem KBIH Muhammadiyah dan Aisyiyah,” kata Nurbini kepada Cermin, Senin (12/08).

Nurbini mengatakan, pembeda KBIH dengan KBIH lain ialah manasik Haji yang dilakukan sesuai sunnah Nabi. Misalnya, tidak mengenal umroh berkali-kali. Tetapi menyarankan untuk tawaf berkali-kali. Tawaf ada dasarnya yaitu sunnah. Sedangkan umrah tidak ada dasarnya.

“Muhammadiyah menganjurkan tarwiyah, yaitu pada tanggal 8 dzulhijjah menginap di Mina. Ini yang dilakukan Rasulullah dulu. Jika jamaah ada yang tidak melakukan tarwiyah mungkin karena ada pertimbangan-pertimbangan teknis,” tambahnya.

Jamaah Haji yang berangkat melalui KBIH Muhammadiyah tahun ini sebanyak 5.183 orang. Mereka berasal dari KBIH di beberapa daerah dengan rincian, 360 orang dari Pati, 1.693 orang dari Surakarta, 976 orang dari Banyumas, 630 orang dari Pekalongan, 695 orang dari Kedu 695, dan 769 dari Kota Semarang.

Anggota LPPKBIH Muhammadiyah Abdullah mengatakan, LPPKBIH Muhammadiyah mengkoordinir kegiatan manasik haji di masing-masing KBIH dengan prinsip pembinaan satu atap dari LPPKBIH. Untuk persiapan jamaah dilakukan rapat koodinasi sebanyak 3 kali, yaitu terkait persiapan sebelum beerangkat, ketika jamaah berada di tanah suci yang dilakukan secara nasional dan koodinasi evaluasi.

“Kita juga kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi. Alhamdulillah di sana ada koordinatornya,” kata Abdullah kepada Cermin, Selasa (13/08).

KBIH Muhammadiyah menurutnya bagus di pelayanan karena menekankan aspek kemandirian. Empat prinsip yang selalu disampaikan di KBIH Muhammadiyah dan Aisyiyah Semarang yaitu dalam proses manasik haji. Pertama, kemandirian dalam prosesi perjalanan (safar). Kedua, kemandirian dalam hal ibadah haji maupun ibadah mahdlah lainnya. Ketiga kemandirian dalam kesehatan. Keempat, kemandirian dalam keamanan. Termasuk menjaga kondisi antar jamaah yang berbeda karakter.

“Untuk kesehatan ada tiga kali tatap muka yaitu bekerjasama dengan RS Roemani, dengan dokter kita dan dengan dinas kesehatan,” tambahnya.

Yang membedakan KBIH Muhammadiyah dengan luar Muhammadiyah adalah kemandirian ini. “Di luar hanya mengharapkan seluruh jamaah hanya ngikut pada ustad atau kiainya. Kita tidak. Prinsipnya jamaah harus pintar melalui proses manasik haji di atas 20 kali rata-rata.

“Di setiap pemberangkatan Haji Muhammadiyah selalu ada keistimewaan sendiri. Sebagai media pencerahan, yang awalnya gak paham ibadah jadi paham, yang awalnya jarang ibadah jadi rajin,” terang Abdullah.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here