Haji di Mekkah, Mabrur di Rumah

0
Suasana jemaah haji di Kota Mekah. Foto: Republika.co.id

Berhaji bukan semata-mata mengunjungi Mekkah. Melainkan perubahan positif sepulangnya ke rumah.

TUJUAN ibadah Haji untuk beribadah kepada Allah dan memperbaiki perilaku pelakunya agar lebih baik (mabrur).

Ditegaskan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir, tujuan Haji untuk menjadi mabrur. Mabrur berarti diterima. Berarti juga kebaikan ritual dan kebaikan social atau vertical dan horizontal.

“Indikasi haji mabrur yaitu menjadi orang yang dermawan dan berkata lembut dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hajinya mabrur akan lebih suka memuji daripada mencela,” jelas Tafsir kepada Cermin, Jumat (17/08).

Sementara menurut Wakil Ketua Pembina LazisMu Jawa Tengah Hasan Asy’ari, Haji secara lughawi berarti menyengaja. Tujuan utamanya ialah melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah. Menurut Hasan, tujuan Haji secara esensi sama dengan ibadah yang lain seperti puasa, yaitu mengingat Allah.

“Tujuannya sama, la ‘allakum tattaqun, agar mengingat dan bertaqwa kepada Allah SWT. Haji pun arahnya ke sana,” jelas Dosen Pascasarjana UIN Walisongo tersebut.

Untuk itu, Hasan melanjutkan, orang yang melaksanakan ibadah haji harus betul-betul terpenuhi rukun wajib dan sunnahnya. Tidak berhenti di situ, haji harus sampai membentuk dirinya menjadi lebih baik.

“Itulah Haji mabrur. Maka banyak orang menyebut tujuan haji ialah menjadi Haji mabrur,” tambahnya.

Hasan menjelaskan, Haji mabrur sesuai janji Allah akan diampuni dosanya dan diberi surga. Namun, Haji mabrur tidak cukup dengan pengertian melaksanakan syarat wajib dan rukun haji. Tetapi setelah usai melakukan ibadah haji, pelakunya dapat menjadi lebih baik dan menebar nilai-nilai kebajikan.

“Tolok ukur Haji Mabrur ialah setelah pulang dari Mekah dan kembali ke masyarakat,” tegas Hasan.

Orang yang sudah pulang dari Mekah harus menjaga kesuciannya dari perkara-perkara yang membuat dirinya ternodai. Bila tidak maka hajinya percuma.

“Sudah haji tapi masih sombong, selalu mencacimaki, suka ngomongin orang, maka apa yang telah diupayakan selama haji tiada artinya,” imbuhnya.

Tahun 2018 Indonesia masih menjadi negara dengan kuota haji terbanyak di dunia. Jumlah jemaah Haji yang berangkat tahun ini mencapai 221.000 orang.

Muslim Indonesia dipandang paling antusias untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut. Dibuktikan daftar antrean yang hingga kini masih di atas 20 tahun.

Wakil Ketua PWM Yusuf Suyono tak menampik bahwa tidak semua jemaah haji menjadi mabrur. Hal ini dapat dilihat dari perilaku orang yang sudah naik haji di Indonesia.

Walaupun telah naik haji nyatanya tidak semuanya berubah menjadi lebih baik. “Seandainya semua jamaah haji mabrur, maka negara tidak butuh polisi, tentara, dan KPK, karena semua menjadi baik. Karena tujuan semua ibadah intinya sama, yaitu menjadi pribadi baik,” jelas Yusuf.

Makna Simbol Ibadah Haji
Lebih lanjut Yusuf menjelaskan, tujuan ibadah haji lebih rinci yang bisa dilihat dari ritual pelaksanaan haji yang memiliki makan tersendiri. Misalnya, pakaian ihram sebagai simbol dari kesetaraan.

“Entah presiden, jenderal, miskin maupun kaya pakaiannya sama. Derajatnya dimata Allah juga sama, yang menjadi pembeda adalah ketakwaannya,” jelasnya.

Selanjutnya thawaf, yang sama artinya dengan jam yang terus berputar. Namun, thawaf berputar kekiri, berlawanan dengan arah jam. Thawaf memutari ka’bah selama tujuh kali adalah simbolisasi, yaitu ka’bah ibarat Allah.

“Sama dengan kehidupan manusia di dunia, jadi manusia harus berorientasi Ilahi, orientasi Ilahi itu, manusia berfikir, berkata dan bertindak sesuai dengan ridha Allah,” jelas Yusuf.

Kemudian sa’i atau lari-lari kecil dari Bukit Sofa dan Marwa. Waktu itu siti hajar berjalan, berlari mencari air untuk menghidupi anaknya Ismail yang kehausan. Jika dibiarkan maka anaknya akan mati. Sehingga intinya, sa’i adalah mencari kehidupan.

“Makanya banyak yang jadi dosen, pengusaha, dan sebagainya, itu yang dinamakan sa’i,” ucap Yusuf.

Adapun Wukuf di Padang Arafah berarti tau diri. Menurut Yusuf, maksud Wukuf ialah agar umat Islam mengerti bahwa dirinya adalah makhluk sehingga tidak sombong, sok gagah, sok kaya, atau sok soan.

“Emang kita siapa? wong Allahu akbar, Allah yang maha besar dan membesarkan kita,” jelas Yusuf.

Kemudian yang terakhir melempar Jumroh. Menurut Yusuf, melempar jumroh adalah melempar ajakan setan. Orang yang haji Mabrur adalah orang yang dapat melempar ajakan setan. Sebagai contoh Nabi Ibrahim yang mau menyembelih anaknya Ismail.

“Ada setan yang mau menggagalkannya. Namun Nabi Ibrahim tidak tergoda oleh setan dan melemparinya dengan batu,” jelas Yusuf.

Yusuf menegaskan, intinya dari ibadah haji, dari Ihram sampai melempar Jumroh ialah pendidikan dari Allah supaya manusia menjadi mabrur.

“Makanya jika Haji sekali sudah Mabrur kita tidak wajib lagi haji berkali-kali. Karena kewajiban haji hanya sekali, selanjutnya adalah sunnah,” ucap Yusuf.

Asal Usul Perintah Haji
Perintah wajib haji bagi umat Islam berdasarkan Al-Qur’an Surat Ali Imron Ayat 97: walillaahi ‘alannaasi hijjul bayti manistathaa’a ilaihi sabiila yang artinya, “mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggung mengadakan perjalanan ke Baitullah”

Menurut Hasan Asy’ari, ayat tersebut turun setelah Nabi berada di Madinah. Kalaupun ada hubungan dengan amalan Nabi SAW ialah karena di Al-Quran juga disebutkan “wa addzin finnas bil haj”.

“Itu sejarah Nabi Ibrahim supaya melaksanakan perintah haji waktu itu. Mereka datang dari berbagai tempat untuk menjalani,” jelas Hasan.

Jika ditelusuri lebih jauh, lanjut Hasan, perintah haji sebenarnya sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad. Haji telah diperintahkan dari masa ke masa kepada Nabi sebelumnya, khususnya Nabi Ibrahim. Kemudian datang firman Allah yang memerintahkan haji bagi umat Islam.

Ketua PWM Jateng Tafsir menambahkan, perintah Haji kepada umat Islam turun pada tahun ke-6 Hijriyah. Tetapi saat itu Nabi Muhammad belum bisa melaksanakan karena Mekah masih dikuasai oleh orang kafir Quraisy.

Nabi kemudian membangun kekuatan umat Islam di luar Mekkah. Hingga pada tahun ke-8 Hijriyah nabi mampu memobilisasi massa ke Mekkah. Kaum kafir akhirnya menyerah tanpa syarat kepada umat Islam hingga terjadi perpindahan kekuasaan.

“Kita kenal tragedi itu dengan istilah fathu Mekkah, yaitu pembebasan kota Mekkah dari kaum kafir,” kata Dosen Ushuludin UIN Walisongo tersebut.

Nabi baru bisa melaksanakan ibadah Haji pada tahun ke-9 Hijriyah. Haji pertama nabi sekaligus menjadi haji terakhir kalinya karena setelah itu Nabi wafat. Haji tersebut kemudian dikenal dengan haji wada’.

Reporter : Ilyasi
Editor : M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here