Haji Lagi di Negeri Sendiri

0
Latihan Manasik Haji Bersama Mts Muhammadiyah Trucuk. Foto: Istimewa.

DI tengah-tengah banyaknya umat Islam yang mengantre untuk berhaji justru sebagian lainnya telah berkali-kali berkunjung ke Baitullah tersebut. Beragam alasan mengapa banyak orang haji berkali-kali.

Menurut Wakil Ketua Pembina LazisMu Jawa Tengah Hasan Asy’ari Ulama’i, ada beberapa faktor yang membuat sebagian orang di Indonesia melakukan ibadah Haji berkali kali. Bisa karena menjadi petugas haji atau orang Kemenag yang mengurusi haji setiap tahun. Bisa juga karena banyak rezeki sehingga selalu rindu untuk pergi ke Mekkah.

“Orang bisa saja mendaftar haji maupun umroh kembali karena rindu ke Mekkah,” ucap Hasan kepada Cermin, Rabu (15/08).

Selain itu, lanjut Hasan, ada juga orang haji berkali-kali karena sambil bekerja. Termasuk juga tour guide atau pengawal jamaah yang memang tuntutan pekerjaan. Tetapi yang jelas bahwa tujuan ibadah haji adalah beribadah dan menyambut panggilan Allah.

“Kalau berhaji hanya untuk berbangga-bangga semata maka akan sia-sia,” tegas Hasan.

Hasan menjelaskan, ibadah haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang tergolong mampu. Bagi yang tidak mampu, Allah memberikan keistimewaan ibadah lain yang bernilai sama dengan ibadah haji.

Dalam beberapa riawayat disebutkan, ada beberapa ibadah yang nilainya sama dengan haji yaitu berwudhu’ dan sholat sunnah dua rakaat. Ibadah tersebut nilainya sama dengan orang yang baru lahir dari rahim ibunya.

“Contoh lain seperti kata Rasul ialah shalat Jumat. Jumatan yang dijalani dengan baik nilainya sama dengan haji. Lebih-lebih bagi orang yang tidak mampu,” jelas Hasan.

Hasan kemudian menyarankan, bagi yang tidak mampu naik haji lebih baik rajin beribadah dan istiqomah. Karena ukuran haji Mabrur bukanlah orang yang haji berkali-kali. Tetapi dibuktikan dengan perubahan perilaku yang semakin baik.

Hasan mengakui banyak umat Islam di Indonesia yang memilih haji berkali-kali. Tetapi bagi Muhammadiyah, lebih baik mengedepankan kepedulian sosial dari pada haji berkali-kali. Di sisi lain, bentuk kepedulian sosial juga memiliki nilai yang sama dengan haji. Sehingga meskipun tidak ke Mekkah masih bisa melakukan ibadah yang nilainya sama dengan Ibadah haji.

“Kata Rasul, orang yang memberi makan dan menebar perdamaian dan salam itulah yang dikatakan haji mabrur,” jelasnya.

Hasan menambahkan, ibadah haji adalah wadah agar orang yang melaksanakannya saling mengenal yang sifatnya mendunia. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, diciptakannya manusia dengan berbagai macam jenis dan suku ialah untuk mengenal. Di sini, Allah memberikan indikasi ta’arruf. Kemudian Allah memberi wadah yaitu haji karena hanya dengan haji seluruh umat Muslim di dunia berkumpul satu sama lain.

“Maka nilai sosialnya yaitu supaya dapat berta’aruf masif mendunia dan dapat saling menghormati, menghargai, toleran dalam berbagai pihak. Disanalah orang menjadi tau betapa beragamnya manusia,” ujar Hasan.

Oleh karena itu, Hasan menuturkan, umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang sudah diajarkan saat Haji. Sebab penilaian mabrur tidaknya seseorang tidak tergantung saat waktu haji, melainkan ketika sudah pulang ke kampung halaman.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir menambahkan, diantara alasan orang menunaikan ibadah haji lebih dari sekali karena kerinduan. Pihaknya tidak menyalahkan jika mendapati orang sering naik haji. Tetapi jika melihat kondisi banyaknya antrean haji, Muhammadiyah berharap, umat Islam yang sudah pernah haji tidak haji lagi demi memberikan kesempatan kepada yang lain.

“Nabi saja hanya melakukan Ibadah Haji sekali,” pungkasnya.

Reporter : llyas
Editor : M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here