Cak Nanto, Kornas JPPR yang Tak Jarang Dapat Tekanan

0
Sunanto, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah. Foto: inforiau.id

Kesungguhan Sunanto menjadi bagian dari Jaringan Pendidikan Pemilih Rakyat (JPRR) sejak masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) berbuah manis. Kini pemuda yang sekaligus menjabat Ketua Bidang Hikmah Pusat Pemuda Muhammadiyah tersebut menjadi orang nomor satu di JPPR.

PENAMPILANNYA sederhana, humble, dan jenaka. Tiga sifat Sunanto ini dirasakan betul Muhammad Fackhruddin, salah satu sahabat karib Sunanto. Fachkruddin menulisnya akun Facebook Tanggal 2 April 2018.

“Tidak ada yang berubah sejak saya mengenalnya di Jogja sekitar 12 tahun lalu, kendati kini dia mulai merasakan manisnya hasil dari jerih payahnya selama merantau di Jakarta,” ucap Fackhruddin.

Ya, karir Cak Nanto, sapaan akrabnya, menjadi Kornas JPPR memang tidak bisa hanya dipandang dari sisi manisnya saat ini. Di belakang, rekaman perjalanan hidup dan karirnya mengambarkan kesungguhan yang luar biasa serta pengorbanan penuh. Bayangkan saja, sejak 1993, sewaktu di bangku SMA, Cak Nanto telah aktif menjadi bagian dari JPPR. Dan baru 2017 lalu didaulat menjadi Kornas. Jabatan tersebut diperoleh setelah sedikitnya 10 tahun mengabdi di JPPR sebagai Sekertaris Nasional (Seknas).

Lahir di Desa Lobuk Tanggal 24 September 1980, Cak Nanto memulai karirnya dengan mengabdi di JPPR di kampungnya. Berlanjut hingga ia kuliah di Jurusan Hukum Islam Universitas Muhamamdiyah (UM) Surakarta hingga membawa dirinya ke Ibu Kota.
JPPR merupakan jaringan 38 lembaga yang terdiri dari enam rumpun yaitu LSM, Ormas, NU, Muhammadiyah, Perguruan Tinggi, dan lembaga antar iman atau inter faith. JPPR merupakan organ independen bergerak mengawasi dan mensukseskan pemilu yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia.

“Saya juga tak tahu alasannya mengapa saya harus di sini. Saya tertarik saja, karena pemikir pemilu sangat sedikit, dan saya ingin ambil bagian agar menjadi yang terpenting,” ucap Cak Nanto mengisahkan asal mula bergabung dengan JPPR.

Selama menapaki tangga demi tangga perjalanan karirnya, keras dan pahit getir kehidupan tentu dia rasakan. Diantaranya, di saat banyak teman yang tidak kuat berkiprah di organisasi nirlaba seperti JPPR, Cak Nanto terus menapaki karirnya dengan sabar. Jati dirinya terus dibangun sebagai pendidik kepemiluan yang baginya merupakan tugas mulia dalam mengawal pesta demokrasi.

Kiparah di JPPR berjalan berdampingan dengan karirnya di oranisasi Pemuda Muhammadiyah. Cak Nanto merupakan kader Ikatan Mamahsiswa Muhammadiyah Sukoharjo. Dia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah IMM Jawa Tengah.
“Saya mengenal Cak Nanto bukan kader IMM Sukoharjo yang cengeng,” demikian kesaksian sahabatnya Fackhruddin.

Posisi penting yang kini dimiliki Cak Nanto merupakan sebuah pencapaian luar biasa dari seorang anak kampung mengingat dia bukan anak siapa-siapa yang bisa mengandalkan kekayaan orang tuanya. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan menuntut kemandirian dan kerja keras.

Dari latar belakang tersebut, Cak Nanto menjadi pribadi yang suka bergaul, jenaka, tetapi tetap sederhana. Sebagai pemimpin, Cak Nanto boleh dibilang sebagai orang yang memegang prinsip win win solution. Motto hidupnya “membesarkan sesama”.

“Kalau bisa maju bersama kenapa harus menang sendiri apalagi saling menjatuhkan,” katanya.

Pola-pola kepemimpinan ini juga diterapkan di lingkup keluarga. Cak Nanto menekankan prinsip keterbukaan, tidak menekan dan menghargai keputusan.

“Saya merasa relasi kepemimpinan harus terbuka. Itu yang saya bawa ke keluarga. Jadi ada pelajaran menghargai putusan, menghargai keinginan anak. Itu yang tidak bisa langsung sesuai dengan keinginan saya dan nggak masah bagi saya. Saya mengikuti sehingga berdampak pada kehidupannya,” jelas Cak Nanto.

Cak Nanto merasa bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan spirit. Sejak awal dirinya memang ingin hidup mandiri dan kemandirian itu kini telah didapat dan benar-benar dirasakan manfaatnya.

Kegiatan di JPPR yang berhubungan dengan dunia politik menjadi tantangan tersendiri bagi Cak Nanto. Tak jarang ia mendapat tekanan, bahkan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Meski, tidak sampai pada ancaman fisik. Teror dengan pesan singkat dari pihak-pihak terentu sudah biasa di dapatkan. Kedatangan tamu ke Kantor JPPR yang mengaku sebagai intel sering, seperti telah menjadi langganan. Selain itu, sering pula dianggap partisan, mendukung salah satu calon, padahal tidak.

“Kalau ancaman secara fisik tidak pernah, paling cuma teror sms, bahkan didatangi kantor JPPR sering. Banyak ancaman yang secara tersembunyi kadang nagku intel ke kantor ngcek dokumen, itu sering,” jelas Cak Nanto.

Tetapi Cak Nanto memastikan, JPPR adalah organ independen yang tidak berafiliasi dengan salah satu pasangan calon. Dalam proses pelaksanaan pemilu, setidaknya dua hal yang menjadi sasaran JPPR. Pertama, mengkritisi proses dan pelaksanaan Pemilu. Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat terkait Pemilu.

Upaya tersebut ditempuh dengan ikut memantau jalannya agar berjalan sesuai denhan aturan main dan mengedukasi masyaakat pemilih. Yang dilakukan, diantaranya, memanfaatkan tokoh masyarakat atau agama. Ada juga duta Pemilu yang bertujuan agar masyarakat punya kederakatan dengan Pemilu. Melalui JPPR Cak Nanto ingin mengabdi agar pemilih punya kesadaran dan tidak ditipu oleh janji politik. Yang terpenting baginya masyarakat bisa memilih dengan tanggung jawab.

“Bagi orang yang meimikirkan kekuasaan dengan cara kotor, saya berkeinginan agar masyarakat tanpa intimidasi. Ini berkat penyelenggara juga dan saya kira keberhasilan mulai nampai. Sekarang masyarakat hanya perlu didorong,” katanya.

Saat berbicara Indonesia, Cak Nanto berharap masyarakat yang berada di lingkungan yang majemuk ini dapat menghagai perbedaan satu sama lain. Peran seorang pemimpin ialah bertanggung jawab.

“Karena selama ini gampang sebagai janji kampanye, tapi sulit dilaksanakan. Maka harus ada keberpihakan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Reporter : Badrun
Editor : M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here