[Laporan Utama] Muhammadiyah Mengutuk Terorisme

0
Muhammadiyah Jawa Tengah mengutuk segala tindakan teror atas nama apapun. Ilustrasi: Geotimes

Terorisme tidak ada dalam “kamus” Muhammadiyah. Muhammadiyah mengutuk segala tindakan teror atas nama apapun.

MUHAMMADIYAH adalah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) kegamaan yang berpandangan moderat. Tidak condong ke kiri (leberal) atau ke kanan (radikal).

Ditegaskan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah Danusiri, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan tidak pernah mengajarkan terorisme, baik secara lisan maupun literal. Hal ini bisa dilihat pada keilmuan Muhammadiyah seperti khittoh Muhammadiyah, Ideologi Muhammadiyah, AD/ART Muhammadiyah dan majalah-majalah Muhammadiyah.

“Di dalamnya tidak ada satupun yang menyinggung masalah teroris dan mengajarkan teroris. Terorisme bukanlah ajaran Muhammadiyah,” katanya kepada Tabloid Cermin, Senin (04/06).

Belakangan sejumlah teror terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di Surabaya, satu keluarga pengikut ISIS meledakkan dirinya di tiga Gereja yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Becela, GKI di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta. Tak lama dari kejadian tersebut, di Riau teroris menyerang Polda Riau. Sejumlah teroris pun berhasil ditangkap di berbagai daerah.

Danusiri menegaskan, Muhammadiyah mengutuk tindakan tersebut sebagaimana juga diungkapkan Din Syamsuddin dan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Haidar Nashir. “Seumpama ada salah seorang (oknum) Muhammadiyah yang demikian, berarti orang itu sudah murtad dari Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah harus bersih dari suatu hal yang berkaitan dengan terorisme,” ujar Danusiri.

Danusiri mengatakan, Muhammadiyah selalu berdialog dengan seluruh komponen bangsa. Dialog sebagai langkah bahwa Muhammadiyah tidak pernah sepakat dengan tidakan teror, dalam bentuk apapun dan alasan apapun.

“Cara kita memperlihatkan pada publik bahwa kita tidak pernah berkaitan dengan terorisme yaitu dengan selalu berdialog dengan seluruh komponen bangsa yang ada ini,” jelas Dosen UIN Walisongo Semarang tersebut.

Selain mengutuk keras, Muhammadiyah telah mengajarkan Islam yang berkemajuan. Islam Muhamadiyah tidak ada hubungan dengan gerakan teror. “Muhamamdiyah mensosialisasikan ideologi Muhammadiyah terhadap seluruh warga khususnya dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya,” imbuhnya.

Di sisi lain, lanjut Danusiri, Muhammadiyah juga menekankan pentingnya pendidikan dan sosial. Contoh nyata dari gerakan ini seperti menyantuni anak yatim, pembangunan rumah sakit, pembangunan sekolah atau yang lainnya. Gerakan tersebut diharapkan dapat menjadikan masyarakat dan bangsa cerdas, maju, sejahtera dan damai. Inilah yang dijunjung tinggi Muhammadiyah.

“Walaupun seperti itu kami (Muhammadiyah, Red) tidak pernah koar-koar bahwa kami pancasilais. Muhammadiyah langsung bergerak nyata. Dimana ada bencana disitulah ada posko Muhammadiyah. Contohnya lagi, santunan RS Roemani tiap bulan pasti ada pemeriksaan di kabupaten secara gratis. Ini bukan riya’ tapi memang nyatanya demikin demi kemaslahatan umat,” paparnya.

Ketua PWM Jateng Tafsir menambahkan, aksi terorisme bagian dari ekspresi keputusasaan dan kekalahan akibat ketidak mampuan menerima situasi ketidak adilan yang terjadi. Di sini, seolah-olah umat Islam selalu pada posisi salah. Ekspresi orang kalah biasanya mengarah kepada kekerasan. Seperti dalam sepakbola, lanjut Tafsir, yang kalah kadang ngamuk.

“Secara global umat Islam ada pada posisi kalah. Kalah politik maupun ekonomi. Saya prihatin dan sedih dengan cara yang ditempuh tersebut karena tidak elegan, tidak sportif dan melanggar kemanusiaan, melanggar norma. Saya tidak sepakat, seharusnya orang kalah ya harus berjuang untuk memenagkan pertandingan dengan cara yang fair” jelas tafsir ditemui Cermin di kediamannya, Kamis (07/06).

Menurut Tafsir, perilaku teror bisa melanda siapapun dari umat Islam. Siapapun bisa terjangkit perilaku teror karena Al-Quran memang bisa menghasilkan pemahaman sebagaimana ditampilkan para teroris saat ini.

“Jadi dalam hal tertentu Al-Quran bernada provokatif, misalnya dalam surat Al-Maidah dikatakan, wahai Nabi perangilah orang kafir dan orang munafik, dan bersikap keraslah pada mereka. Ayat tersebut berpotensi menghasilkan perilaku teror, sehingga radikalisme dan ekstrimisme tidak mungkin hilang selama ayat seperti tersebut ada, kecuali kita berani mengamadement Al-Quran,” jelasnya.

Dengan demikian, sekalipun dibentuk BNPT disetiap RT maka perilaku teror akan tetap ada. Namun, siapapun tidak boleh membiarkannya, sebaliknya harus tetap mencegahnya. Namun, tidak bisa diharapkan bahwa terorisme akan sama sekali hilang. “(Dalam aspek tertentu, Red) Itu bagian dari keseimbangan kehidupan. Kematian memang dibutuhkan supaya ada pergantian dan bumi tidak padat,” katanya.

Muhammadiyah telah melakukan upaya pencegahan dengan membangun paham agama yang moderat, inklusif, berkemajuan dan menghormati nilai kemanusiaan universal. Berkemajuan artinya Islam dipahami secara kontekstual, konteks ruang waktu, konteks iptek, dan islam sebagai upaya responsif terhadap modernitas. “Tiga hal ini yang menjadi inti dari prinsip Islam berkemajuan,” tuturnya.

Tafsir mengatakan, selama ini tidak ada perhatian khusus terhadap terorisme melalui penekanan bagaimana membangun Islam berkemajuan. Islam berkemajuan dikatakan Tafsir sudah cukup, yakni membangun masyarakat berwawasan ke-Indonesiaan, Keislaman dan Kemanusiaan Universal. Jika hal ini berhasil, maka tidak mugkin seseorang menjadi teroris.

“Kendalanya saat ini tidak ada pendidikan yang memuaskan semua orang. Mana ada paham yang memuaskan semua orang?” ujarnya.

Wakil Ketua Pembina LBMH dan LPP Pontren Suparman Syukur menambahkan, aksi terorisme yang mengatasnamakan agama karena ketidaksadaran mereka terhadap praktik-praktik kegamaan yang dilakukan Rasulullah. Khusunya ketika berhadapan dengan orang-orang yang tidak seiman.

“Mereka tidak sadar bahwa Rasulullah saw pun ketika menghadapi orang yang beragama lain, yang tidak se ide-seiman. Tapi mereka mau mengikuti aturan negara Rasulullah, menjamin untuk bisa hidup dalam satu ke hidupan yang tentram,” katanya.

Suparman menjelaskan, dalam Al-Quran telah berungkali disebutkan ud’u ila sabilika bil hikmah, ajaklah mereka dengan cara yang baik, sopan dan santun. Suparan menyebut para teroris hanya memahami kalimat terakhir di dalam Al Qur’an yaitu wajadalhum billati hiya ahsan.

“Mungkin orang-orang (teroris) memahami wajadalhim itu dan musuhilah, hancurilah mereka. Itu makna yang kurang benar. Kata wajadil, jadalah, yujadiluh, hadapilah mereka dengan baik dan benar,” jelas Suparman.

Reporter : Ilyas/ Fawaid
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang di Tabloid Cermin edisi cetak, Juni 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here