[Laporan Utama] Jihad Kekinian Ala Muhammadiyah

0
Jihad masa kini bagi Muhmamdiyah adalah pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekonomi. Ilustrasi: Istimewa.

GERAKAN teror atas nama jihad gencar dilakukan sekelompok orang yang mengaku paling taat beragama. Gagal paham makna jihad dalam Al-Qur’an ditengarai menjadi pemicu gerakan tersebut.

Salah paham mengenai makna jihad dibernarkan Wakil Ketua Pembina Lazismu Jawa Tengah Hasan Asy’ari Ulama’i. Menurut Hasan, harus dibedakan makna jihad pada zaman Nabi dengan kondisi sekarang.

Hasan menjelaskan, sesuai dengan akar katanya jihad berasal dari kata jahdun dan juhdun. Jahdun berarti kesulitan dan juhdun kesungguhan. Jadi segala upaya yang sungguh-sungguh dan terdapat berbagai kesulitan, itu namanya jihad.

“Maka Nabi mengatakan, orang yang menuntut ilmu ialah mujahid fisabilillah. Karena orang belajar itu membutuhkan kesungguhan, membutuhkan tekad, semangat, perjuangan dan banyak rintangan. Itu yang dimaksud jihad,” jelas Wakil Direktur Pasca Sarjana UIN Walisongo ini, Senin (04/05).

Pada kasus-kasus, lanjut Hasan, Nabi menyetarakan jihad dengan seorang ibu yang melahirkan. Karena ibu yang melahirkan pasti sungguh-sungguh. Seorang ibu ingin anak lahir sehat dan selamat. Bahkan jauh-jauh hari telah mencari tempat yang baik supaya penanganannya lebih cepat.

“Selain biayanya mahal, nyawa menjadi taruhannya, itu makna jihad dari perspektif bahasa,” terangnya.

Lebih lanjut Hasan menjelaskan, ketika pasukan Muslim pulang dari perang Badar Nabi Muhammad bersabda bahwa baru saja kaum Muslim pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar. Jihad besar yang dimaksud Nabi ialah jihad perlawan terhadap godaan nafsu. Menurut Hasan, hal tersebut menunjukkan, jihad adalah perjuangan sugguh-sungguh. Di ayat Al-Quran juga disebutkan, tidak sama derajat orang yang hanya berdiam diri dibandingkan dengan orang yang berjuang.

“Karena itu kata mujahid puya makna umum. Memang banyak dalam Al-Quran jihad dikaitkan dengan perang, karena saat itu banyak terjadi peperangan,” imbuhnya.

Dosen FUHUM UIN Walisongo Semarang tersebut kemudian menegaskan, beberapa hal harus dibedakan terkait makna jihad dulu dan sekarang. Pertama, perang Nabi bagian dari jihad untuk menegakkan kalimatullah. Sehingga koridor yang dilakukan murni kebenaran fiisabilillah. Indikatornya, Nabi tidak memulai perang dengan orang lain dan tidak ada deklarasi untuk memerangi orang lain. Namun, ketika diperangi maka harus melawan dan mempertahankan diri.

Kedua, lanjut Hasan, ada qoidah-qoidah bahwa perang dalam Islam tidak membabi buta. Bahkan ketika musuh menyerah maka tidak boleh diserang. Apalagi terhadap orang yang tidak memusuhi dan tidak menyerang. Maka tidak boleh memusuhi.

“Itu bukan jihad, tapi kejahatan. Perang dilakukan dalam upaya mempertahankan diri. Beda dengan yang dilakukan sekarang, tiba-tiba menyerang, itu bukan jihad. Kalaupun seumpama pemerintah dianggap menyerang masyarakat, menyerangnya lewat apa? lewat ideologi? perang saja dengan debat tidak usah main hakim sendiri,” tegas Hasan.

Hasan menyayangkan, ayat Al-Quran jadi landasan melakukan aksi teror karena hasil penafsiran yang gegabah. Kemudian menganggap dirinya mewakili suara Tuhan. Padahal Tuhan menciptakan dan memelihara dengan baik.

“Kok manusia memerintahkan untuk merusaknya. Tuhan sendiri rahman dan rahim, yang tidak menyembah-Nya saja tetap dikasihi dan diberi rezeki kok, kan aneh kalau ada orang yang mengatasnamakan ayat Al-Quran memukul orang lain,” tuturnya.

Jihad Muhammadiyah
Hasan menambahkan, mencerdaskan masyarakat dan menguatkan ekonomi supaya kokoh termasuk jihad yang oleh Muhammadiyah, kini diwujudkan dengan amal usaha.

“Orang Islam tidak boleh takut dengan istilah jihad. Tetapi jika terlalu gegabah memahami jihad akan menjadi masalah, seola-olah jihad itu membawa senjata. Jihad itu kan dimulai dengan harta, kemampuan diri, kecerdasannya, itu namanya jihad,” paparnya.

Muhammadiyah menurut Hasan tidak banyak bicara. Maka dibuatlah wadah ekonomi dan wadah pendidikan untuk menyelamatkan umat. Selain itu, jihad saat ini bisa dengan mengatur strategi politik yang baik. Yakni politik adiluhum yang berbasis akhlak. Ekonomi di Indonesia, lanjutnya, adalah ekonomi keummatan. Bukan berbasis individual yang orientasinya memperkaya perorangan.

“Kita butuh mujahid-mujahid perekonomian, mujahid-mujahid pendidikan, mujahid-mujahid perbankan hingga mujahid politik juga harus ada. Walaupun dikucilkan oleh teman-teman politik lainnya, tapi dia tetap berada pada garis yang benar karena sadar bahwa dia adalah wakil rakyat,” pungkasnya.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang di Tabloid Cermin versi cetak edisi Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here