[Laporan Utama] Kutuk Teror, Gencarkan Workshop Anti Radikalisme

0
Muhammadiyah Jawa Tengah mengutuk segala tindakan teror atas nama apapun. Ilustrasi: Geotimes

SEKRETARIS Majelis Tabligh dan Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Shofa Muthahar mengatakan, maraknya aksi teror belakangan ini karena pemahaman yang salah memahami agama. Islam tidak dipahami secara arif dan bijaksana.

“Memahami ajaran Islam jika tidak arif-arif dalam mengemasnya maka bisa menjadi radikal,” kata kepada Tabloid Cermin (03/06).

Maka, lanjut Shofa, Muhammadiyah gencar mengadakan workshop anti radikalisme sebagai upaya mengembangkan Islam yang tawasut dan santun yang membawa rahmat bagi semesta alam. Salahsatunya workhop yang dilaksankan pada tanggal 10-11 Maret 2018 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Workshop tersebut diikuti majelis Tabligh, Ortom dan majelis lembaga se-Jawa Tengah. Para mubaligh disasar karena mereka merupakan agen transformasi paham keagamaan.

“Pelatihan tersebut diharapkan para mubaligh bisa membawakan ceramah yang menentramkan, disamping itu tetap fokus dalam visi Muhammadiyah yaitu mewujudkan Islam yang berkemajuan. Jangan sampai spirit jihad Muhammadiyah dimaknai sebagai qital yaitu saling membunuh, tapi jihad harus di tempatkan pada pos yang sesuai tantangan zaman sekarang,” paparanya.

Shofa melanjutkan, Islam Muhammadiyah untuk membawa negara Indonesia sebagai negara kesatuan menjadi negara yang bermartabat, maju, dan mandiri di dalam konstelasi negara-negara global. Muhammadiyah Sangat meminimalisir dan tidak mengendaki terjadinya konflik, baik konflik sesama muslim maupun konflik dengan pemerintah.

“Fokus dakwaknya adalah bagaimana menjadikan Islam maju dan memberikan karya terbaik kepada bangsa dan negara. Masalah terorisme tidak menjadi fokus karena hal itu akan hilang seandainya ketidak adilan itu tidak ada. Jadi yang ditekankan bukan terorisnya tapi Islam yang rohmatal lil alamin,” katanya.

Shofa menilai, Jawa termasuk daerah yang berpotensi tinggi mengenai terorisme. Menurutnya, Jawa Tengah ibarat pulau yang berada di tengah-tengah kadang. Di satu sisi memang tidak terlihat geraknya. Namun, begitu meledak akan memunculkan efek yang dahsyat. Jawa Tengah bukan penentu seperti Jakarta dan Surabaya, tetapi Jawa Tengah ketika sudah meletus pengaruhnya kemana-mana.

“Sejauh ini Jawa Tengah adem ayem, tapi begitu meledak akan sangat dahsyat. Kita kenal Negara Islam Indonesia (NII) itu berasal dari Jawa Tengah, kemudian aliran radikal dan teroris juga ada di Jawa Tengah, baru kemudian meluas di tempat yang lain,” pungkasnya.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang di Tabloid Cermin Cetak Edisi Juli 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here