[Laporan Utama] Wajah Seni Muhammadiyah di Panggung Dakwah

0
Sanggar Seni Serambi Bagelen Purworejo saat mentas. Serambi Bagelen Purworejo merupakan salah satu produk kesenian Muhammadiyah Jawa Tengah. Foto: Istimewa.

Kontribusi Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tak diragukan lagi. Berdirinya sejumlah rumah sakit, lembaga pendikan, dan sejumlah amal usaha milik Muhammadiyah menjadi bukti kiprah Muhammdiyah. Lalu bagaimana kiprah Muhammadiyah di bidang lain, seperti kesenian?

MUSYAWARAH Nasional (Munas) Tarjih ke-22 Tahun 1995 memutuskan bahwa hukum karya seni adalah mubah. Dengan satu catatan penting, kesenian diperbolehkan selama tidak berdampak pada kerusakan, bahaya, kedurhakaan dan menjauhkan dari Allah.
Demikian pengembangan kehidupan seni dan budaya di kalangan Muhammadiyah. Kesenian harus sejalan dengan etika atau norma-norma Islam.

Putusan Munas yang telah berlaku selama 24 tahun tersebut hingga kini masih menjadi acuan Muhammadiyah dalam berkesenian. Di lingkup struktural Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, kesenian Muhammadiyah menjadi tanggungjawab penuh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO). Beberapa kesenian telah direalisasikan sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Sekretaris LSBO PWM Jateng Muhammad Fakhrudin menjelaskan, Muhammadiyah berusaha memadukan tiga jenis kesenian, yaitu kesenian Islami, modern dan tradisional. Kegiatan kesenian yang menjadi prioritas saat ini yaitu sastra, seni tari, seni rupa dan seni musik.

“Target utamanya adalah pemuda-pemuda Muhammadiyah yang memiliki hasrat berkesenian dan memilik kreativitas yang tinggi, seperti membuat puisi, cerpen dll,” jelas Fakhruddin kepada Cermin, Rabu (11/09).

LSBO PWM Jateng terus mendorong kesenian warga Muhammadiyah dengan merealisasikan sejumlah program kerja, diantaranya, mengadakan event-event kesenian pada waktu tertentu, khususnya saat memperingati hari besar Islam. Bagi Masyarakat luas, Muhammadiyah terus memperkenalkan kesenian Serambi Bagelen Purworejo yang merupakan hasil produk kesenian Muhammadiyah.

Ditegaskan Fakhruddin, Muhammadiyah mengembangkan kesenian dan kebudayaan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Muhammadiyah menghidupkan sastra Islam sebagai bagian strategi membangun peradaban dan kebudayaan Muslim. Kesenian Muhammadiyah menurut Fakhruddin berbaur dengan budaya lokal Nusantara.

“Kita umat Islam mengembangkan kesenian dan kebudayaan lokal dan tidak ke arab-araban,” katanya.

Sementara itu, Ketua LSBO PWM Jateng Dandung Danadi menambahkan, kesenian yang berusaha dikembangkan Muhammadiyah tidak hanya sekadar untuk menumbuhkan perasaan halus dan keindahan. Lebih dari itu, Muhammadiyah menjadikan seni dan budaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus sebagai media dakwah membangun kehidupan yang berperadaban.

“Seni sebagai fitrah manusia memiliki daya tarik yang tinggi. Seni bisa menyatukan antar golongan tanpa melihat perbedaan, jadi sangat efektif sebagai media dakwah,” jelas Dandung.

Secara praktis, Dandung melanjutkan, pola pengembangan kesenian di Muhammadiyah tidak hanya fokus pada satu macam kesenian. Tetapi melihat potensi yang menonjol di masing-masing daerah. Kesenian tersebut kemudian dikemas sebaik mungkin agar bisa menjadi daya tarik untuk masyarakat luas.

Kita berkesenian bukan untuk warga Muhammadiyah saja, melainkan untuk masyarakat luas,” jelasnya.

Seni Islam dan Muhammadiyah
Ketua PWM Jateng Tafsir menjelaskan, bidang kesenian di Muhammadiyah sebagai realisasi kesadaran bahwa manusia tidak bisa lepas dari kesenian. Seni bagian dari fitrah manusia yang harus dipenuhi. Dengan seni kehidupan menjadi indah. Tafsir menegaskan, Allah Maha indah dan menyukai sesuatu yang indah.

“Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia yang menyukai keindahan, dan keindahan tersebut ada pada kesenian,” kata Tafsir kepada Cermin, Senin (10/09).

Sesuai dengan hasil Munas Tahun 1995, Tafsir menjelaskan, hukum kesenian bagi Muhammdiyah adalah mubah, yakni diperbolehkan. Hukum tersebut, kata Tafsir, bisa mengarah pada 3 hukum, yaitu halal, makruh dan bahkan bisa haram. Bagaimana menempatkan tiga hukum tersebut?

“Tergantung kepada konten dan isi dari kesenian tersebut. Ada seni Islami dan seni tidak Islami. Seni Islami mampu mengingatkan kita kepada Allah sedangkan seni yang tidak Islami membuat kita lupa kepada Alllah. Yang tidak islami inilah yang diharamkan,” jelas Dosen UIN Walisongo ini.

Lebih lanjut, Tafsir berpendapat, era sekarang seniman muslim memiliki tantangan besar. Mereka harus mampu bersaing dengan seniman pada umumnya, disamping itu juga harus bisa menjaga nilai-nilai keislaman.

“Muhammadiyah peduli terhadap kesenian, sehingga dibentuklah LSBO untuk menghasilkan seniman-seniman yang Islami,” katanya.

Hanya saja, kata Tafsir, kesenian di Muhammadiyah tidak mudah berkembang. Pasalnya, sebagian warganya masih berfikiran puritan dan salah kaprah memahami Al-Quran dan Hadist, sehingga sempit memahami seni dan budaya.

“Kita terjebak dakwah bapak-bapak saat mengisi pengajian tentang bid’ah, sehingga warga serba terbatas. Akhirnya kreativitas Seni Muhammadiyah buntu,” tutur Tafsir.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang di Tabloid Cermin Edisi Cetak, September 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here