Refleksi Sumpah Pemuda, Cak Nanto: Saat ini Tak Ada Distorsi Tua dan Muda

0
Cak Nanto mengisi Talk Show Refleksi Menjelang Satu Abad Sumpah Pemuda di di Gedung Auditorium Juwono Sudarsono Fisip Universitas Indonesia (UI) Sabtu (3/11/2018). Foto: Istimewa

TabloidCermin.Com – Ketua Bidang Hikmah Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Sunanto memberikan gagasan tentang pemuda saat ini. Menurutnya, saat ini sudah tidak ada lagi distorsi antara golongan tua dan golongan pemuda.

“Selama pemuda dapat membuktikan kapasistasnya, bukan tidak mungkin mereka mampu menjadi pemimpin,” kata Cak Nanto, sapaan akrabnya, saat mengisi Seminar dan Talk Show bertajuk “Refleksi Menjelang Satu Abad Sumpah Pemuda” di di Gedung Auditorium Juwono Sudarsono Fisip Universitas Indonesia (UI), Sabtu (03/11/2018).

Namun demikian, lanjut Cak Nanto, meski sudah banyak kaum muda yang berkiprah dan dipercaya menjadi pemimpin, hanya sedikit dari sosok tersebut yang berasal dari bawah. Keberhasilan mereka dikatakan Cak Nanto buka karena proses, tetapi karena bantuan dari keluarga atau kerabat.

“Banyak dari mereka yang berhasil, namun mereka tidak merasakan apa itu berproses. Keberhasilan mereka dibantu oleh nama besar keluarga atau lainnya,” katanya.

Seminar dan Talk Show yang digelar Fisip UI tersebut merupakan refleksi memperingati Sumpah Pemuda sekaligus deklarasi terbentuknya Himpunan Mahasiswa Pascasarja Ilmu Politik UI untuk pertama kalinya. Selian Cak Nanto, hadir sebagai pembicara Guru Besar Ilmu Politik UI Prof Burhan Djabir Magenda M.A Ph.D, Ketua Pascasarjana Ilmu Politik UI Meidi Kusnadi Ph.D, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, dan mewakili mahasiswa, Ketua BEM Fisip UI Fuadil Ulum juga ikut serta. Ketika bicara soal pemuda, Cak Nanto menepuk-nepuk bahu Fuadil.

“Sosok muda dan aktiv seperti Fuadil yang ditempa dan berproses dari bawah ini jika berhasil, dapat dikatakan sebagai keberhasilan kaum muda hari ini,” ucap Cak Nanto.

Sementara Prof. Burhan yang menyampaikan materi pembuka menceritakan sejarah terjadinya sumpah pemuda. Dia menegaskan bahwa pemuda sejak zaman dahulu selalu memiliki fungsi pembaharuan yang progresif.

“Dulu kita dipisahkan dengan yang namanya Jong-Jong. Ada Jong Jawa, Jong Sumbawa, Jong Sumatra dan lainnya. Namun, di 28 Oktober 1928, Pemuda membawa pembaharuan yang akhirnya mempersatukan negara ini. Bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia,” katanya.

Di zamannya, peristiwa Sumpah Pemuda menurut Prof Burhan merupakan sesuatu yang baru dan progresif. “Semangat itu yang harus terus di tiru,” katanya.

Meidi Kusnaedi menambahkan, pemuda harus lebih meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya agar dapat diakui di tengah masyarakat.

Reporter : Badrun Nuri
Editor: M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here