[Laporan Utama] Bencana Tak Ada Hubungan dengan Politik

0
Bencana di Indonesia oleh beberapa kalangan dijadikan alat kepentingan politik. Ilustrasi: Mojok.co

BENCANA alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonensia seringkali dihubungkan dengan politik oleh beberapa kalangan. Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Rozihan membantah adanya politisasi agama tersebut.

Menurut Rozihan, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak Allah. Termasuk bencana alam yang terjadi di tanah air belakangan ini. Rozihan menolak jika bencana dihubungkan dengan politik. Sebab, politik yang baik pun tidak bisa menjamin tidak ada bencana.

Baca: [Laporan Utama] Muhammadiyah Tanggap Musibah

“Pertanyaannya, apakah jika politiknya baik lantas tidak akan terjadi bencana? Apakah yang mendukung akan selamat dan yang tidak mendukung tidak selamat? Tidak, atas kehendak Allah, bencana alam akan menimpa semua tanpa memandang yang mendukung atau tidak mendukung,” katanya kepada Tabloid Cemrin, Senin (08/10).

Rozihan mengatakan, politik termasuk mu’amalah. Artinya, bersifat duniawi sehingga hukum dasarnya adalah mubah. Karena mubah, maka manusia diberi kebebasan memilih, berpolitik atau tidak. “Allah juga memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan dan dukungannya dalam politik,” jelasnya.

Baca: [Laporan Utama] Latgab: Siap Siaga Sebelum Bencana

Sementara bencana alam, lanjut Rozihan, bagian dari sunnatullah yang bersifat objektif. Baik muslim maupun non-muslim, bisa terkena bencana bila Allah menghendaki. “Di Mekkah orang muslim semua, lantas apakah di sana hujan terus karena penduduknya muslim? Tidak. Jadi, yang paling berpengaruh adalah faktor keadaan alamnya. Karena kita di alam, maka kita terkena hukum alam, sesuai lingkungan masing-masing,” papar Rozihan.

Contoh lain dikemukakan Rosihan, dua bangunan yang sama tingginya antara gereja dan masjid. Di gereja memakai penangkal petir, sedangkan mesjid tidak. Meski demikian, tidak menjamin tuhan lebih memelihara masjid dari pada gereja. “Walaupun di gereja isinya orang bernyanyi dan maksiat sekalipun, sedangkan mesjid isinya orang-orang ibadah, ketika ada petir menyambar, maka yang akan tersambar adalah bangunan mesjid karena tidak memakai penangkal petir dan tidak mengikuti sunnatullah ayat-ayat semesta,” katanya.

Rozihan melanjutkan, bencana alam yang terjadi di Indonesia bisa berupa azab atau murni sebagai musibah. Azab terjadi karena perbuatan manusia yang disebut siksa. Sedangkan musibah disebut juga ujian agar manusia lebih dekat kepada Allah. “Dalam Alquran dijelaskan, terjadinya kerusakan di lautan dan di daratan karena ulah tangan manusia. Dalam hal ini manusia diberikan kebebasan memilih, mana yang baik dan yang buruk karena manusia dikaruniai akal,” jelas Rozihan.

Apakah kemudian yang tidak patuh pada Allah lantas diazab? “Tidak juga, karena di beberapa daerah banyak non-muslim yang juga bermaksiat kepada Allah tapi tidak diazab. Seperti di Amerika, meskipun penduduknya rata-rata non-muslim, tapi di sana tidak diazab,” ujar Rozihan menyontohkan.

Menurut Rozihan, Allah selalu adil kepada manusia dengan memberikan instrumen yang sama, agar manusia bisa selalu siaga. Manusia dibekali kemampuan untuk terus berkembang sehingga dihasilkan beberapa tekhnologi modern. “Manusia harus selalu bersiap diri, dengan berkaca pada kejadian-kejadian yang telah lalu, jadi kalau ada bencana jangan menyalahkan Allah,” jelasnya.

Rozihan menegaskan, bencana terjadi erat kaitannya dengan faktor alam. Terutama di Indonesia yang memang disebut sebagai daerah cincin api atau lingkaran api. Seperti meletusnya gunung merapi, tidak bisa jika lantas dihubungkan dengan perbuatan manusia, apalagi politik. “Selamanya gunung merapi akan aktif dalam jangka waktu tertentu tanpa dipengaruhi faktor manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Danisiri menambahkan, paradigma politik akan selalu menjadi kendaraan politik. Bencana menjadi lahan meraup suara bagi gerakan politik dan lahan dakwah bagi agama. Sebab menurutnya, bantuan atau santunan dengan menggunakan simbol-simbol partai tujuannya untuk meraup suara.
“Memberikan santunan kepada yang terdampak bencana itu menggunakan simbol-simbol partai. Intinya bantuan itu untuk meraup suara,” ujarnya.

Sedangkan agama, seperti tindakan Muhammadiyah memberi bantuan tak lain dalam rangka dakwah. Harapannya agar orang itu tetap Iman, Islam, dan bersimpati kepada Muhammadiyah. Minimal, membentengi aqidah agar tidak dimanfaatkan non-muslim dalam kerangka misionaris atau dakwah.

Terkait hubungan bencana dan politik, Menurut Danusiri, telah ada dalam fiqih bencana yang dikeluarkan oleh Tarjih.

“Dalam fiqih bencana yang di keluarkan tarjih, dengan istilah tidak ada terkait pikiran magic dosa dengan maksiat. Menurut fiqih tarjih, bencana tsunami dan gempa peristiwa alamiah karena gerak lempeng bumi. Pergerakan lempeng bumi itu pasti ada perubahan,” ungkapnya.

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arifin
Note : Laporan ini tayang du Tabloid Cermin versi cetak edisi Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here