Viral Mahar Nikah Sandal Jepit, Ini Tanggapan Ustadz Jaka Prasteya

0

TabloidCermin.Com, Surakarta – Beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial pernikahan dengan mahar sepasang sandal jepit. Mahar itu diberikan warga Desa Sumberadi, Kecamatan Somalangu , Kebumen bernama Budi kepada istrinya Julia. Akad nikah berlangsung Sabtu 29 Desember 2018 pukul 07.30.

Mahar sandal jepit menjadi sorotan di media sosial dengan tanggapan yang beragam. “Kemungkinan ini hanya sensasi, maharnya Sandal Jepit, tapi uang seserahan ke mertua, bisa puluhan juta, itu yang tidak diperlihatkan. Katanya sandal dipilih sebagai filosofi selalu berjalan beriringan, bersama-sama ke mana-mana,” kata Ustadz Jaka Prasetya ketika mengisi Kuliah Tujuh Menit (Kultum) di hadapan guru dan karyawan Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Surakarta, Rabu (9/1/2019).

Seperti apakah mahar yang baik?

Ustadz Jaka mengutip Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 4: “Dan berilah kepada wanita (calon istri) mahar, sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” Mengutip pendapat Syaikh Muhammad Sholih Al Munajjid, Ustadz Jaka mengatakan, mahar bisa berupa uang, harta benda, emas, perabotan rumah tangga atau sesuatu yang bermanfaat lainnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang mengatakan: “Menikahlah meskipun maharnya hanya dengan cincin besi.” Mahar bisa juga berbentuk jasa, seperti jasa mengajari bacaan Al-Qur’an, atau jasa lainnya.

“Tapi yang lebih utama adalah mahar berupa harta walau sedikit. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (QS. An Nisa: 24): “mencari isteri-isteri dengan hartamu”. Jika calon suami miskin, dan ia tidak memiliki harta untuk dijadikan mahar, maka boleh menikahi wanita dengan mahar berupa pengajaran ayat-ayat Al Qur’an,” katanya.

Ustadz Jaka melanjutkan, mahar adalah hak isteri yang tidak boleh diambil. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Dosa paling besar di sisi Allah ialah orang yang menikahi wanita lalu ketika telah menyelesaikan hajatnya darinya, maka dia menceraikannya dan pergi dengan membawa maharnya.” Mahar disunnahkan disebutkan dalam akad nikah.

“Disunnahkan menyebut mahar dalam akad nikah, meskipun tidak disebutkan dalam akad nikahnya tetap sah,” imbuhnya.

Terkait pemberian mahar dengan kontan dan hutang, Ustadz Jaka mengatakan, sebagian ahli fiqh berpendapat, mahar tidak boleh diberikan dengan cara dihutang keseluruhan. Tetapi sebagian lainnya mengatakan, mahar boleh ditunda pembayarannya, tetapi menganjurkan agar membayar sebagian mahar dimuka mana ketika akan menggauli istri.

“Dan di antara fuqaha yang membolehkan penundaan mahar (diangsur) ada yang membolehkan hanya untuk tenggang waktu terbatas yang telah ditetapkannya. Ini adalah pendapat Imam Malik,” katanya.

Ustadz Jaka juga mengutip Kitab Fathul Qarib yang menyebutkan, mahar disunnahkan antara 10 dirham-500 dirham. Jika dikonversi ke rupiah kurang lebihnya antara Rp 550.000,00 sampai Rp 27.500.000,00. Jika mahar terlalu kecil atau remeh, maka kesannya kurang menghargai istri (kecuali jika kemampuan suami sedikit).

“Sebaliknya apabila mahar terlalu mahal akan membebani calon suami.
Hal ini akan mengurangi keberkahan pernikahan,” tuturnya.

Sementara itu, Waka Humas SD Muhammadiyah 1 Surakarta Jatmiko menambahkan, para guru dan karyawan perlu memperkuat diri dengan menambah ketaqwaan karena zaman milenial serba digitalilasi. Guru harus dapat menguasai Informasi dan Teknologi (IT) karena apa yang berhubungan dengan dakwah di masyarakat bisa menjadi viral dan harus disikapi secara bijaksana.

“Sebagai Guru dan karyawan di lembaga islami yang unggul dalam prestasi dilandasi akhlaqul karimah, guru dan karyawan tentu sangat dituntut dapat lebih dalam lagi dalam belajar keimanan dan ketaqwaan karena zaman ini zaman melenial yang sebagian sudah digital, dan apa saja yang menjadi viral tentang kejadian yang ada di masyarakat, menyangkut dan berhubungan dengan dakwah,” jelasnya. []

Reporter : Badrun Nuri/ Jatmiko
Editor: M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here