Meluaskan Gerakan Pemuda Muhammadiyah

0

Oleh Fahrudin Eko Hardiyanto*

TabloidCermin.Com – Tak dapat dipungkiri masa depan gerakan persyarikatan Muhammadiyah akan bergantung pula pada sejauhmana kesiapan eksponen muda tampil sigap sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna cita-cita Muhammadiyah. Secara khusus, eksistensi Pemuda Muhammadiyah sebagai ‘anak lanang’ akan dituntut memiliki peran dan kontribusi yang lebih untuk ummat dan bangsa.

Peran-peran eksternal keummatan dan kebangsaan telah menjadi keniscayaan yang tak mungkin dihindari, selain sebagai kekuatan internal dengan fungsi strategis sebagai organisasi kader dan anak sholeh Muhammadiyah. Pertanyaannya, mungkinkah peran peran strategis ini bisa difungsikan dengan baik dan berdaya jika kapasitas, kompetensi, dan visi belum diarusutamakan? Mungkinkah sang pemuda akan menjadi organisasi kepemudaan yang visioner, berkemajuan, dan merakyat?

Jawabannya tidak mungkin, sepanjang pergelaran amal sholeh Sang Pemuda masih bersifat normatif, reaktif, dan rutinitas belaka: gerakan yang hanya berawal dan berakhir dari muktamar ke muktamar, musywil ke musywil, musyda ke musyda dan seterusnya. Sebuah kontestasi periodesasi semata paling banyak membuat tenaga dan keringat tersita.

Sudah saatnya Sang Pemuda menancapkan visi pergerakannya sebagai gerakan sosial (social movement) yang lebih nyata, bukan sekadar kata dan wacana belaka. Gerakan ini setidaknya memprioritaskan pada aksi nyata Pemuda Muhammadiyah pada urusan kemudahan rakyat untuk menikmati akses layanan pendidikan untuk rakyat, mendorong anak-anak muda menjadi entrepreneur dan memperkuat kompetensi pada sistem perkaderan untuk melakukan misi bela ummat dan bela negara.

Masih banyaknya ATS (Anak Tidak Sekolah), baik disebabkan karena putus sekolah maupun karena ketidakmampuan ekonomi dan sosial juga menjadi tanggung jawab Pemuda Muhammadiyah. Secara kelembagaan, Pemuda Muhammadiyah di level daerah hingga ranting-ranting didorong dan dikoordinasi oleh Pimpinan Wilayah PM untuk membuka dan mengelola ‘sekolah rakyat’. Sebuah layanan pendidikan sosial bagi rakyat yang kurang berkesempatan, miskin, dan terpinggirkan. Program pendidikan sosial (social school) ini dapat diwujudkan dalam kegiatan pendidikan non formal berupa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Satuan Pendidikan Sejenis (SPS). Tidak mudah memang mewujudkannya, namun juga tidak susah jika sudah menjadi hajat dan kerja organisasi. Kerja jamaan yang dapat saling membantu dan menguatkan, bermitra dan bersinergi untuk ummat dan bangsa ini.

Pemuda Muhammadiyah pada konteks ini dapat melakukan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) program Indonesia Mengajar yang telah ada. Betapa masih banyak anak-anak muda dan kader-kader Muhammadiyah khususnya yang merupakan alumni pendidikan guru yang belum berkesempatan mengabdikan ilmunya. Tentu saja mereka dapat dilibatkan secara optimal dalam program ini. Visi ini sekaligus menjadi peluang bagi Pemuda Muhammmadiyah untuk membangun kemandirian lapangan kerja dan mengurangi pengangguran terdidik.

Pada sisi lain, sudah saatnya pula Pemuda Muhammadiyah mendorong kader-kader dan kalangan muda lainnya memiliki etos wirausaha. Sang Pemuda harus berani memfasilitasi dan memiliki layanan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), berdakwah menyebarkan ilmu berwirausaha, melatih anak muda untuk berdaya secara ekonomi dan membangun jaringan dengan pemerintah dan dunia usaha.

Tak kalah strategisnya visi bela ummat dan bela bangsa. Visi ini perlu diperluas dari peran yang selama ini telah dijalankan secara baik oleh Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) sebagai pasukan elit Muhammadiyah yang senantiasa menjadi garda terdepan untuk menjaga persyarikatan, ummat, dan bangsa. Peran yang lebih luas tersebut dengan memperkuat kompetensi pada sistem pengkaderan untuk melakukan persemaian kader mubaligh/dai muda melalui program KODAMM (Komando Dai Muda Muhammadiyah) dengan tugas utama mendampingi ummat, membimbing dengan hikmah dan meluaskan dakwah Muhammadiyah hingga pelosok-pelosok desa.

Lantas bagaimana program ini semua dari segi pendanaannya? Tak perlu goyah dan menyerah hanya karena uang atau dana. Uang bukan segala-galanya meski kadang segalanya membutuhkan uang. Untuk meluaskan gerakan, Sang Pemuda harus berani bermimpi. Mimpi adalah kunci. “Jika kau ingin bermimpi, tidurlah. Namun jika kau ingin mewujudkan mimpi, maka bangunlah”. Bangun dan bergerak dengan visi dan arah yang jelas. Wahai Sang Pemuda, bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Wallahua’lam bisshowab.[]

*Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Pekalongan (Unikal) dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM Kabupaten Pekalongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here