Memaksimalkan “Pasar Santri” untuk Pesantren Mandiri

0
Sejumlah pesantren Muhammadiyah mulai menggerakkan perekonomian untuk kelangsungannya agar tidak bergantung kepada lembaga lain.

DIMANA ada perkumpulan orang disitulah ada perputaran uang. Pesantren merupakan salah satu tempat dimana orang-orang berkumpul dalam waktu yang cukup panjang. Maka selain sebagai tempat menimba ilmu, pesantren dapat menjadi tempat dimana uang berputar setiap hari. Bahkan dalam waktu yang tidak terbatas selama pesantren masih kokoh berdiri.

Peluang usaha di pesantren sudah lama dibaca masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren, terutama di pesantren-pesantren tradisional. Kalau kita lihat, dimana ada pesantren di situlah akan banyak masyarakat yang membuat usaha-usaha ekonomi seperti kantin, toko, foto copy, layanan mencuci pakaian (laundry), dll. Di mana ada pesantren di situlah muncul unit-unit usaha yang menyediakan kebutuhan santri setiap hari.

Kehadiran pesantren dalam aspek ini menjadi angin segar bagi masyarakat sekitar. Masyarakat dapat terbantu secara ekonomi. Pesantren ibarat pasar dimana santri diposisikan sebagai pembeli utama sedangkan masyarakat adalah penjual dan proses transaksi ekonomi.

Peluang usaha di sekitar pesantren sangat terbantu oleh aturan pesantren yang membatasi gerak santri. Santri tidak bisa sembarangan meninggalkan kawasan pesantren. Kondisi ini secara tidak langsung memaksa santri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semata-mata hanya di lingkungan pesantren. Usaha-usaha di sekitar pesantren akhirnya menjadi pelarian santu-satunya para santri.

Di sinilah pesantren memiliki kontribusi ganda. Di samping mecetak para santri yang ahli agama, pesantren juga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar. Semakin banyak jumlah santri di salah satu pesantren semakin besar pula pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar pesantren.

Karena pendirian usaha di sekitar pesantren bersifat kultural dan menjadi milik pribadi, pesantren tidak mendapat apa-apa kecuali hanya sebagai lembaga yang “menciptakan pasar”. Padahal di sisi lain, pesantren membutuhkan banyak dana untuk kelancaran program-programnya. Selama ini pendanaan pesantren masih mengandalkan dana dari luar seperti sumbangan orang tua santri. Bahkan uang pribadi sang kiai digunakan untuk keperluan pesantren.

Atas dasar inilah pesantren harus mulai melihat dirinya sebagai lembaga yang membutuhkan dana banyak agar kegiatan berjalan lancar. Upaya-upaya ekonomi kreatif perlu dilakukan. Di sinilah pesantren perlu ambil bagian dengan menjadikan santri sebagai pasar potensial yang dapat mendatangkan keuntungan besar.

Hal ini perlu dilakukan tidak semata-semata untuk menjadikan santri sebagai ladang bisnis atau memangkas pendapatan penghasilan masyarakat sekitar. Tetapi semata-mata agar kebutuhan keuangan pesantren bisa tercukupi dan pesantren tidak menggantungkan dana dari luar atau kepada pengelola pesantren.

Terobosan ini sudah dilakukan oleh sebagian pesantren-pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Misalnya Pesantren Ahmad Dahlan Kabupaten Tegal yang disamping mengembleng santri dengan ilmu agama juga mendirikan sejumlah unit usaha. Seluruh hasil usaha pesantren diperuntukkan untuk keberlangsung operasional pesantren.

Langkah ini perlu dilakukan pesantren-pesantren lain, khususnya pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Dengan harapan, pesantren dapat mandiri secara ekonomi dengan tanpa melepaskan diri dari iklim keagamaan para santri. [Redaksi]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here