Tafsir Ingatkan Peran Kebangsaan Tak Cukup Diraih Dengan Duduk Manis

0

TabloidCermin.Com, Semarang – Kader Muhammadiyah yang ingin mengambil peran kebangsaan melalui politik tidak cukup hanya dengan duduk manis. Tetapi harus dengan sungguh-sungguh dan upaya keras.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir dalam Temu Kader Muhammadiyah Pejuang Kebangsaan di Hotel Siliwangi Semarang, Rabu (23/1/2019). Tafsir mengatakan, pada masa Orde Baru Muhammadiyah mungkin bisa mengambil peran hanya dengan duduk manis. Tetapi sejak era reformasi hal itu tidak bisa lagi karena peran-peran dalam pemerintahan sudah harus ditempuh melalui kompetisi.

“Masa Orde Baru warga Muhammadiyah bisa mengambil peran kebangsaan, hanya duduk manis, minimal tiga mentri. Kemudian di MPR juga. Tapi ketika reformasi tidak bisa lagi. Peran itu harus lewat kompetisi,” ujar Tafsir di hadapan kader Muhammadiyah se Jawa Tengah yang terlibat dalam jabatan-jabatan politik.

Tafsir menegaskan, untuk bisa mengambil peran kebangsaan rumusnya hanya satu, yaitu punya pendukung banyak. Siapa yang punya pendukung banyak bisa merubah kekuasaan. “Itulah yang ditunjukkan Nabi ketika Fathul Mekah. Ketika pengikut nabi masih sedikit, nabi sadar hingga Abad ke-6 nabi baru dapat merubah rezim jadi mukmin,” tuturnya.

“Apakah Muhammadiyah punya pendukung banyak? Tidak. Makanya jangan heran kalau dari Muhammadiyah nyalon DPD nggak jadi,” tambahnya.

Tafsir lantas membandingkan perjuangan nabi dengan perjuangan Muhammadiyah yang sudah berusia lebih dari satu Abad. Usia itu cukup lama jika dibandingkan dengan masa perjuangan nabi yang hanya 23 tahun. “Nabi 23 tahun sudah mengislamkan Arab. Mengapa Muhammadiyah tidak bisa padahal sudah 106 tahun?” tanyanya.

Dijawab sendiri oleh Tafsir, Muhammadiyah berpaham puritan. Paham puritan memang tidak mudah diterima. Bahkan agama-agama di dunia yang puritan memang tidak mudah diterima. Berbeda dengan paham yang berbasis kultur, ia akan mudah diterima masyarakat. “Lalu apa yang akan kita pilih. Puritan atau paham yang diterima masyarakat?” katanya.

Paham yang kini dianut Muhammadiyah memiliki dampak tersendiri, termasuk dampak politik. Sebab politik membutuhkan masa yang banyak. Inilah mengapa kader Muhammadiyah tidak bisa duduk manis jika ingin mengambil peran kebangsaan. “Dan sekarang sudah kita tempuh. Ini pengalaman baru bagi Muhammadiyah untuk berperang dengan kompetisi,” tuturnya.

Kepada kader yang berkiprah di politik, Tafsir berpesan agar berperan layaknya bunga teratai yang tetap bersih meski hidup di tengah-tengah comberan.”Kalau shalat di tengah-tengah orang shalat sudah biasa, tapi kalau shalat di tengah-tengah orang maksiat baru luar biasa,” katanya, mengibaratkan. []

Reporter: Ilyas
Editor : M. Arifin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here