[Laporan Khusus] Command Centre: “Revolusi 4.0” Ala SMK Muhammadiyah Bligo

0

SEKOLAH Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah Bligo Kabupaten Pekalongan menyambut baik wacana revolusi industri 4.0 yang belakangan menjadi salah satu perbicangan nasional bahkan internasional. Inovasi-inovasi yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi dilakukan demi efektifitas dan terciptanya proses pembelajaran yang lancar. Di SMK Bligo, wujud nyata dari program ini berupa pembuatan Command Centre.

Kepala SMK Muhammadiyah Bligo Lukman Hakim menjelaskan, ruang Command Centre merupakan sebuah ruangan khusus untuk memantau aktivitas siswa di sekolah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Menurut Lukman, Command Centre setidaknya akan berfunsi tiga hal. Pertama, memantau aktifitas siswa dan pembelajaran mengunakan CCTV yang dipasang di berbagai titik, seperti di kelas, kantin, taman, tempat parkir, dan lain lain. Selian CCTV juga dipasang sound sistem di beberapa titik sebagai alat komunikasi satu arah.

“Di ruang Command Centre ada CCTV yang tekoneksi semua ke ruangan-ruangan sekolah dengan informasi yang disampaikan satu arah. Jadi kami tidak harus datang ke lokasi karena peringatan kepada siswa yang melanggar bisa langsung disampaikan melalui pengeras suara,” ujar Lukman kepada Tabloid Cermin, Jumat (16/11).

Dengan demikian, siswa diharapkan lebih disiplin dan tidak hanya main-main di sekolah karena seluruh aktifitasnya dipantau langsung. “Dampak paling signifikan adalah ketertiban sekolah. Contoh kasus di sekolahan temen, dulunya banyak ditemukan siswa yang hanya santai-santai. Setelah ada Command Centre tidak ada siswa yang main-main,” tutur Lukman.

Kedua, di Ruang Command Centre akan ada aplikasi yang terhubung dengan website sekolah.id. Lukman menjelaskan, aplikasi tersebut berfungsi, diantaranya, bisa kehadiran siswa. Sekolah sudah punya alat yang nantinya akan dipasang di pintu masuk sekolahan. Siswa akan mengisi absen di sana menggunakan kartu yang disediakan pihak sekolah.

“Kita tidak pake fingeprint karena kesensitifan alat tersebut, mudah luntur. Kami nanti pakai kartu nama dan kedepannya kita akan pakai scan HP menggunakan barcode,” katanya.

Meski demikian, Lukman mengakui, sistem tersebut bisa dicurangi siswa. Siswa bisa menitipkan kartu untuk mengisi absen kepada temannya. Di sinilah peran guru difungsikan. Guru harus mengecek kondisi siswa di kelas, tidak cukup hanya melihat absensi kehadiran secara digital.

“Jika di absensi lengkap ternyata siswa di kelas kurang, maka bisa dipastikan ada yang curang, nitip absen kepada temannya. Yang nitip atau dititip nanti kita berikan sanksi,” jelasnya.

Menurut Lukman, aplikasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai absensi siswa. Nantinya ada juga laporan pelajaran di sekolah, seperti raport online. Setiap guru mendapat aplikasi tersebut. Begitu juga dengan wali murid sehingga bisa memantau memantau anaknya.

“Aplikasinya sudah jadi, tapi karena ruang Command Centre belum jadi, kami nunggu. Eman-eman kalau belum ada ruang Command Centre, terus dipakai tapi tidak ada yang jaga,” tambahnya.

Ketiga, Ruang Command Centre juga berisi mesin digital informasi. Mesin ini akan digunakan untuk laporan-laporan yang bisa diketahui oleh berbagai pihak di sekolah. Mesin juga dipasang di berbagai lokasi.

Lukman menjelaskan, pemanfataan teknologi ini rencananya akan mulai dilaunching bulan ini. Sebelumnya, pihak sekolah mulai lakukan uji coba.

“Persiapan sudah 74 persen. CCTV sebagian sudah dipasang karena sebenarnya kami hanya menambahi yang sudah ada. Yang kurang hanya di ruangan dan pemasangan sound,” katanya.

Selain untuk kedisiplinan siswa, Lukman melanjutkan, Commad Centre bagian dari salah satu respon terhadap revolusi 4.0, dimana, peran manusia sudah mulai digantikan oleh mesin. Pihaknya kemudian mencoba untuk mendigitalisasi sistem di SMK muhammadiyah Bligo.

Command Centre menurutnya sangat diperlukan di SMK Muhammadiyah Blego karena banyaknya jumlah siswa dan luasnya lingkungan sekolah. Selama ini pihaknya baru memanfaatkan beberapa CCTV guna memantau siswa. Hal tersebut dirasa kurang efektif.

Luas SMK Muhammadiyah 11. 887 meter. Sementara jumlah siswa sebanyak 1.282 orang. Sekolah merasa kewalahan bila harus memantau siswa dengan cara manual.

“Tentu saja dengan perubahan sistem ini, kami akan mengubah tata tertib untuk skorsing siswa. Kalau ada siswa yang melanggar nanti kami panggil orang tuanya,” imbuhnya (pin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here