Nahi Mungkar yang Bijaksana

0
Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir. Foto: Istimewa

Oleh: Tafsir

NAHI mungkar pada dasarnya merupakan satu upaya menegakkan agama Allah yang bermuara pada terbentuknya manusia yang baik sehingga dapat membentuk kehidupan masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam. Umat Islam diperintahkan mencegah kemungkaran karena kemungkaran termasuk perbuatan keji, melenceng dari syariat dan akan merusak tatanan kehidupan.

Perintah agar umat Islam mencegah kemungkaran salah satunya terdapat dalam Surat Al-Imran ayat 104, Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada kebajikan, menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”(Al-Imran :104).

Amar Ma’ruf dalam ayat di atas berarti menyuruh pada kebaikan. Kebaikan yang dimaksud, secara universal berarti perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan nahi mungkar ialah mencegah terjadinya perbuatan yang melenceng dari ajaran syariat Islam.

Buya Hamka mengartikan ma’ruf dalam ayat di atas, yaitu yang dikenal, dimengerti, dapat diterima, dan dipuji karena patut dikerjakan manusia yang berakal. Sedangkan mungkar berarti yang dibenci dan ditolak karena tidak patut dan tidak pantas untuk dikerjakan.

Dari ayat tersebut, Buya Hamka menyimpulkan bahwa ada tiga kewajiban bagi umat Islam, yaitu menyuruh berbuat ma’ruf, melarang berbuat mungkar, dan mengajak kepada kebaikan. Ketiga kewajiban berpusat pada yang terakhir, yaitu mengajak pada kebaikan, yang berarti Islam sebagai agama yang dapat memupuk kepercayaan kepada Tuhan.

Inilah hakikat kesadaran beragama dengan pengetahuan, sehingga umat Islam dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Jika kita pahami lebih mendalam, inti dari amar ma’ruf dan nahi mungkar sebenarnya untuk membentuk tatanan masyarakat yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam secara universal. Yakni Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi umat manusia dan seluruh semesta alam.

Oleh karena itu, pemahaman nahi mungkar harus berdasar pada kesadaran terciptanya tatanan yang damai dan harmonis di tengah-tengah masyarakat. Pemahaman seperti ini akan bedampak pada cara kita menerapkan nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat.

Dalam batas tertentu menerapkan nahi mungkar mungkin terasa mudah. Tetapi dalam batas yang lebih luas nahi mungkar menjadi sangat sulit, terutama dalam kehidupan bernegara.

Menerapkan nahi mungkar dalam konteks ini harus disertai dengan pengetahuan yang mumpuni dan mengetahui permasalahan secara detail. Jangan sampai tindakan kita dalam mencegah kemungkaran justru melahirkan kemungkaran baru atau justru merusak tatanan yang sudah mapan. Menerapkan nahi mungkar dibutuhkan sikap dan cara-cara yang arif dan bijaksana.

Rasulullah SAW dalam Hadis Riwayat Muslim bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.”

Hadis di atas adalah tuntunan dari Rasulullah ketika umat Islam melihat satu kemungkaran. Hanya saja sebagian kita barangkali masih keliru memahami naksud hadis tersebut. Sebagian dari kita ada merasa mampu mencegah kemungkaran kemudian berusaha mencegahnya tanpa melihat lebih dalam situasi dan kondisi di lapangan. Padahal persoalan kemungkaran di tengah-tengah masyarakat kita merupakan problem yang komplek dan biasanya selalu berkaitan dengan situasi lain, seperti politik, ekonomi, social, dan budaya.

Dengan demikian, hadis di atas harus kita pahami sesuai kapasitas. Yakni, apabila seseorang melihat kemungkaran dan ia mampu menghilangkan dengan tangan maka tidak cukup dengan lisan, dan orang yang mampu dengan lisan maka tidak cukup hanya dengan hati.

Menurut Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani dalam kitabnya Hasyiyah asy-Syarwani halaman 217, proses nahi mungkar harus dimulai dari tindakan yang paling ringan. Beliau berkata: “Wajib bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk bertindak yang paling ringan dulu kemudian yang agak berat. Ketika kemungkaran sudah bisa hilang dengan ucapan yang halus, maka tidak boleh dengan ucapan yang kasar. Dan begitu seterusnya.”

Dalam kehidupan bernegara, seorang warga negara yang baik tidak lantas bisa begitu saja main hakim sendiri karena alasan nahi mungkar. Segala tindakan yang berhubungan dengan hukum maka harus dipasrahkan kepada hukum dan segala yang berpotensi melanggar hukum maka tidak boleh kita lakukan. Kita hanya perlu terus mendorong dan membantu pemerintah dalam menegakkan kemungkaran, termasuk bentuk kemungkaran yang berpotensi merusak tatanan kehidupan bangsa dan Negara. []

*Penulis adalah ketua PWM Jawa Tengah dan dosen Fakultas Ushuludin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here