Merawat Budaya Literasi Muhammadiyah

0

Oleh Hendra Apriyadi

MUHAMMADIYAH dan KH Ahmad Dahlan adalah dua nama yang tidak dapat dilepas pisahkan. Keduanya saling terkait dan terhubung erat. Muhammadiyah adalah nama organisasi. Sedangkan KH Ahmad Dahlan nama pendirinya.

Muhammadiyah besar karena pendirinya kuat berliterasi menggerakan dan menggembirakan melalui pengajian di jenjang Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah dan Pusat.

Untuk memberikan dasar ajaran kepada gerakan yang dibentuknya, KH. Ahmad Dahlan sering mengutip dua ayat Al-Qur’an dalam QS. Ali Imran ayat 104 dan 110 yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar kepada Allah.”

Ayat 104 dari QS. Ali Imran di atas mengandung makna agar setiap muslim berusaha menyatukan diri dalam gerakan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kesengsaraan, dan kemelaratan. Begitulah pemahaman KH. Ahmad Dahlan terhadap wahyu dan realitas sejarah ummat Islam Indonesia.

Hal terpenting untuk dicatat, pemahaman KH. Ahmad Dahlan yang terhadap Surat Ali Imran bukanlah faktor utama yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah. Tetapi dari pengajian-pengajian itulah Muhammadiyah bisa menjadi besar.

AR Fakhrudin pernah berpesan agar di tiap ranting ada pengajian. Seperti memberdayakan dan merawat budaya baca dan tulis di kalangan ranting harus diperkuat untuk mencetak generasi penerus Muhammadiyah yang hebat dan kaya dengan ilmu-ilmu pengetahuan.

Sebagaimana diwahyukan dalam QS. Al-Alaq ayat pertama, Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca. Membaca menjadi keniscayaan untuk memahami suatu ilmu. Tetapi untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan individu perlu adanya pemberdayaan.

Dalam konteks sejarah, rendahnya kesadaran masyarakat dalam membaca telah menggugah Muhammadiyah untuk mendirikan Taman Pustaka. Taman Pustaka pertama kali didirikan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1920 dan telah menerbitkan 1000 eksemplar majalah Suara Muhammadiyah tiap bulan.

Pada tahun 1929, Taman Pustaka menerbitkan 700.000 buah buku dan brosur yang didistribusikan saat Konggres/Muktamar.

Upaya KH Ahmad Dahlan dalam memberdayakan budaya membaca tidak berhenti begitu saja. Usahanya terus dilanjutkan kader Muhammadiyah hingga sekarang. Gerakan 1000 Taman Pustaka Muhammadiyah merupakan salah satu program unggulan MPI PP Muhammadiyah periode 2010-2015.

Siapa saja yang pernah melihat maju dan pesatnya perkembangan peradaban tentu akan menghargai khasanah perbukuan dan literasi Muhammadiyah. Watak kemajuan Muhammadiyah sejak lahir telah konsisten menjunjung tinggi pengetahuan untuk memajukan bangsanya dari keterpurukan akibat penjajahan atau kejumudan.

Berbagai kegiatan dilakukan seperti mengenalkan literasi kepada anak SD, SMP dan SMA. Tidak hanya kepada pelajar saja akan tetapi guru juga diajak untuk menumbuhkan budaya membaca.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tegal Jawa Tengah memiliki Taman Pustaka Muhammadiyah. Taman Pustakan diinisiasi Majlis Pustaka dan Informasi PDM Kabupaten Tegal. Kemudian lahir pula Rumah Baca Literasi di bawah Pimpinan Ranting Muhammadiyah Karangdawa Margasari serta ratusan komunitas literasi yang di bina dan digerakkan secara langsung oleh Taman Serikat Pustaka Muhammadiyah Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kita patut bersyukur atas kerja para relawan yang tergabung dan menggerakan serta menggembirakan dan merawat budaya literasi di jenjang Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah serta Pusat. []

*Penulis adalah Ketua MPI PDM Kabupaten Tegal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here