Muhammadiyah, Pilpres, dan Gerakan Moral Bangsa

0

Oleh Mustofa

MUHAMMADIYAH adalah gerakan besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah dikenal sebagai pengikut nabi Muhammad SAW.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam Dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber Al-Quran dan As-Sunnah (bab II pasal 4).

Muhammadiyah adalah gerakan Multifaced, dari jauh kelihatan doktriner tapi dari dekat merupakan sistimatis teologis yang menekankan aspek moral-etik dari Alquran dan As Sunnah (Nakamura 1983, 226).

Kelahiran Muhammadiyah

Muhammadiyah lahir di Kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan Teologi Al-Maun, yaitu gerakan yaitu keberpihakan kepada masyarakat miskin, terlantar dan tertindas.

Dalam perkembangannya Muhammadiyah lebih di kenal sebagai gerakan santri kelas menengah kota, aksi pemberdayaan rakyat kecil melalui pendidikan dan advokasi sosial (Abdul Munir Mulkan, 2002).

Dalam usia muda, Muhammad Darwis yang lebih di kenal Kiai Ahmad Dahlan, membuat langkah besar melawan tradisi dan takdir sosial umat Islam dan takyat di negeri ini. Aksi sosial KH. Ahmad Dahlan bukan semata sebuah gerakan keagamaan dalam arti ritual, melainkan sebagai sebuah gerakan kebudayaan.

Sebagai gerakan sosial dakwah, Muhammadiyah punya andil besar dalam perjalanan sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Muhammadiyah berdiri lama sebelum republik ini berdiri. Banyak peran yang telah dimainkan Muhammadiyah ketika republik belum berdiri. Banyak membantu bangsa Indonesia dalam menata karakter dan moral bangsa, diantaranya melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Dakwah moral Muhammadiyah membentuk karakter bangsa lewat jalur pendidikan sebagai bagian sumbangsih Muhammadiyah kepada bangsa. Muhammadiyah mampu menjalankan apa yang diamanati konstitusi kita terutama dalam pembukaan UUDN RI tahun 1945. Yakni, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Meminjam istilah Buya Syafii Maarif Muhammadiyah sebagai penjaga moral bangsa. Saat ini Muhammadiyah merupakan gerakan Islam terbesar modern di Indonesia. Seyogyanya Muhammadiyah harus terus melakukan progres, gerakan dakwah moral bagi bangsa Indonesia.

Menjelang Pilpres 2019, Muhammadiyah harus menempatkan posisi di tengah untuk tidak terjebak pada permainan politik sesaat yang transaksional. Apa yang disampaikan Ayahanda Haidar Nashir ketua PP Muhammadiyah pada Pembukaan Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 26 November 2018 lalu harus selalu diingat bahwa Muhammadiyah berdiri diatas kepribadian dan khitahnya untuk tetap mengambil jarak dari pergumulan politik praktis.

Muhammadiyah adalah rumah besar yang harus mengakomodir semua kepentingan. Dan Muhammadiyah tak akan pernah lelah untuk menyuarakan dakwah moral bangsa demi tegaknya NKRI. []

Penulis Ketua Majelis Hukum dan HAM PDM Kabupaten Pemalang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here