[Kajian Khusus] Paradigma Memutuskan Suatu Hukum

0

Oleh: M. Danusiri

Bagian 1

KETIKA seseorang bertanya MMOK (makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetika) atau perbuatan itu apa hukumnya? Maka jawaban yang diperoleh tentu satu di antara lima putusan hukum: halal, sunnah, wajib, makruh, atau haram.

Hukum yang diputuskan tidak pernah keluar dari salah satu dari lima putusan hukum itu. Kalau ada nama putusan hukum lain di luar yang lima, tentu hanya sekedar sinonimnya. Umpama halal menjadi mubaḥ (bebas melakukan atau bebas meninggalkan) sunnah menjadi mandub (anjuran dari Allah dan atau Rasululah) atau mustaḥab (perbuatan yang disenangi Allah dan atau rasul-Nya) dan wajib menjadi farḍu (dalam bahasa Indonesia menjadi perlu).

Memang, paradigma ilmu fikih hanyalah al-aḥkamul khamsah.

Mengacu pada Thomas Kuhn, paradigma berarti pernyataan umum yang dengannya ilmuwan bertindak. Pernyataan disebut juga proposisi atau qaḍiyah, yaitu hubungan antara subjek (mauḍu) dan predikat (mahmul) yang dapat ditinjau dari segi benar atau salah.

Muhammad adalah seorang manusia. Lafal Muhammad disebut subjek dan seorang manusia disebut predikat. Pernyataan itu dikatakan benar karena lafal seorang manusia sebagai predikat mengiyakan subjek lafal Muhammad. “Kera bukan sapi. Pernyataan ini disebut salah karena predikat lafal sapi membukankan subjek lafal kera.

Jadi, benar atau salah, bukan ditinjau dari segi moralitas. Melainkan kelurusan/ketepatan hubungan logisnya. Sementara itu, kerja ilmuwan berada di ranah rasio atau akal, bukan di ranah fisik atau intuisi (qalb), meskipun landasan yang paling dasar fuqaha adalah iman.

Jadi, ilmu itu di akal semayamya. Akan tetapi, yang bidang garapnya adalah merespon perbuatan lahiriyah, umpama menanggapi seseorang mengonsumsi (MMOK) atau berbuat sesuatu yang dapat diamati oleh indra (didengar, dilihat, dicecap oleh lidah, diraba, dicium baunya).

Selanjutnya, The body of Knowledge (sosok: dasar, ruang lingkup, metode, objek, tujuan, manfaat) ilmu fiqh, lengkap dengan seluruh perangkatnya. Umpama: ushulul fiqh, fiqhul lughah, muqaranatul maẓahib, dan qawaidul fiqhiyyah hanya melaksanakan amanah untuk memutuskan suatu hukum. Ia bekerja (ijtihad) untuk menghasilkan putusan hukum.

Contohnya, jika kamu berbuat begitu, maka hukumnya haram. Jika kamu makan itu, maka hukumnya haram. Kamu harus melakukan salat farḍu karena hukumnya wajib. Kamu tidak boleh minum khamr karena hukumnya haram. Sebaiknya kamu melaksanakan salat rawatib karena hukumnya sunnah.

Ketika hukum sesuatu telah dihasilkan, tugas ilmuwan fikih (fuqaha) sudah selesai. Soal orang mau melakukan putusan hukum atau tidak melakukannya, sudah bukan wewenang fuqaha. Itulah sebabnya, banyak orang sudah tahu bahwa berzina itu hukumnya haram dan tetap melaksanakannya, fuqaha tidak memiliki kompetensi untuk berbuat supaya orang tersebut tidak melakukan zina.

Sepanjang hidupnya, manusia, apakah itu mukmin atau kafir, shalih atau qabiḥ (orang yang berbuat nista), muwaḥḥid (bertauhid) atau musyrik, muthiun (orang yang taat pada Allah dan atau utusan-Nya) atau mulḥidun (melanggar batas aturan Allah dan atau rasul-Nua) dan manum (memperoleh nikmat dari Allah dan atau rasul-Nya) di satu sisi atau maghḍub (dimurkai Allah dan atau rasul-Nya) dan maḍlul (disesatkan oleh Allah) tidak pernah bisa keluar dari lima bilik putusan hukum. Sehari semalam ia hanya keluar masuk dari bilik-bilik hukum yang lima itu. Ia hanya bisa keluar dari bilik putusan hukum manakala sudah keluar dari kehidupan dunia, alias sudah mati.

Demikian ilustrasi matrik hidup fiqhiyyah manusia hingga berakhir dengan kematiannya:

Manusia ideal dalam pandangan fikih ialah manakala ia meninggal tepat berada di bilik wajib atau minimal sunnah. Artinya, ia sedang berbuat tentang sesuatu yang diwajibkan atau di sunnahkan oleh Allah dan atau Rasulullah sebagai syar’i (pembuat pembuat). Orang itulah yang matinya disebut ḥusnul khatimah. Sebaliknya, manusia gagal adalah manusia yang mati sedang berada di bilik putusan hukum haram. Dia itulah orang yang matinya disebut suul khatimah.

Kelihatannya, kebanyakan manusia meninggal berada di bilik putusan hukum mubaḥ. Jenis kematian ini tentu masuk dalam kategori zona bebas karena ia sedang tidak dihukumi beramal yang memperoleh pahala maupun tidak berbuat yang berkategori terkena dosa.

Yang jelas, secara logis, kematian jenis zona bebas tidak termasuk ḥusnul khatimah. Untuk itulah Shidqul iradah (pendirian teguh) harus tertanam kuat di hati manusia dan mampu mendesakkan keluar untuk berbuat secara fisikal yang dapat diamati oleh indra (penglihatan, pendengaran, perabaan/syaraf, penciuman bau, dan pencecapan oleh lidah) sehingga hidup ini berakhir dalam posisi ḥusnul khatimah. bersambung… []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here