[Kajian Khusus 4] Varian Istimbath 2

0

Oleh: M. Danusiri

IMAM asy-Syathibi menggolongkan metode istinbath kedua adalah kaum syi’ah bathiniyyah. Mereka disebut juga: syi’ah isma’iliyyah karena Isma’il yang mereka angkat sebagai imam, syi’ah sab’iyyah, hanya mempercayai tujuh imam saja.

Mereka adalah (1) Ali bin Abi Thalib, (2) Hasan bin Ali bin Abi Thalib, (3) Husein bin Ali bin Abi Thalib, tetapi sebagian mengangkat Muhammad bin Hasan al-Hanafiah putra ke tiga Ali, (4) Ali bin Husein as-Sajad, tetapi sebagian mengangkat Zaid as-Syahid bin as-Sajad, terkenal sebagai syi’ah zaidiyyah saudara al-Baqir, sebagian mengangkat Zainal ‘Abidin (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja’far ash-Shadiq, dan (7) Isma’il bin Ja’far ash-Shadiq), tetapi mayoritas mereka mengangkat Musa al-Kadzim.

Mereka disebut juga syi’ah tabriyyah (tidak bersangkut-paut) dan sangat membenci sahabat Nabi Muhammad saw: Abu Bakar, ‘Umar bin Khatahab, ‘Usman bin ‘Affan, maupun‘Aisyah dan Ḥafshah yang keduanya istri Rasulullah, sebagaimana terlihat dalam syahadad mereka.

Metode istinbath kaum ini sangat subjektif menurut madzhab mereka. Seluruh teks Alquran maupun as-sunnah mereka tafsiri secara bathiniyyah, juga versi mereka sendiri. Siapa yang harus menjadi Pemimpin Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan Ahlul Bait (W. Montgomeri Watt, Islamic Politikal Thougt, Edinburg University pers, Edimbung, 1968 hal. 43).

Imam adalah keturunan Ali melalui pernikahan dengan seorang wanita dari bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad bin al-Hanifah. (Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj. Abd. Rohman Dahlan dan Ahmad Qorib, Jakarta, Logos, 1996 hal 37). Imam didasarkan pada nash. (Moojan Momen, an Introduction to Shi’i Islam, Yale University Pers, London, 1985, h. 153).

Syi’ah

Setelah Nabi wafat, Ali menjadi imam berdasarkan penunjukan khusus yang dilakukan Nabi sebelum beliau wafat. Suksesi keimaman sebelum beliau wafat. Suksesi keimaman menurut faham ini harus berdasarkan nash atau penunjukan imam terdahulu.

Keimaman harus jatuh pada anak tertua.(Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh Al-Islam, Mesir, An-Nahdlah, 1976, hal 154). Imam adalah manusia suci (ma’shum dari dosa) sebagaimana ajaran semua syi’ah imamiyyah. Imam adalah orang yang paling baik (the Best of Man), ucapan dan perbuatannya tidak boleh bertentangan dengan syari’at. Sifat dan kekuasaan imam hampir sama dengan Nabi. Perbedaannya, kalau Nabi memperoleh wahyu, sedangkan imam tidak memperolehnya.(http://wahanakreasi4.blogspot.co.id/2010/12/syiah-sabaiyah-dan-syiah-ghulat.html).

Persepsi Isma’iliyyah terhadap Isma’il sebagai pemimpin dapat dijelaskan melalui tujuh tingkatan syi’ah sebagai berikut: (1) murid disumpah untuk beriman model Syi’ah 7, (2) beriman bahwa imam adalah sumber segala pengetahuan, (3) murid harus beriman bahwa Tuhan menciptakan: 7 langit, 7 bumi, 7 lautan, 7 planet, 7 warna, 7 nada musik, 7 logam, dan 7 imam. (4) Tujuh Imam itu adalah: Ali, Hasan, Husein, Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Shadiq, Isma’il. Di dunia langit ada 7 rasul (nȃthiq, yang bersabda): Adam, Nuh, Isma’il bin Ibrahim, Musa, Muhammad, Ali, dan Isma’il. Masing-masing rasul mempunyai 7 orang pembantu yang disebut ash-shamit (yang diam, artinya sami’na wa atha’na kepada nȃthiq). Isma’il sebagai nȃthiq terakhir sehingga menjadi imam sepanjang zaman. (5) Setiap pengikut syi’ah 7 yang mengikuti pelajaran tingkat 5 diajarkan: bahwa Isma’il sebagai nȃthiq (terakhir dan sepanjang zaman) ,dibantu oleh 7 as-shȃmit: Seth, Syem, Isma’il bin Ibrahim, Harun, Simon, ‘Ali, dan Muhammad bin Isma’il. Ke 7 shamit, masing-masingnya dibantu oleh 12 nȃqib (utusan). Mereka itulah juru dakwah di kalangan umat manusia. Dapat dipahami bahwa: imam, nȃthiq, dan ash-shȃmit berada di alam ghaib, sedangkan nȃqib berada di alam empiris. Angka 12 juga menunjuk arti: 12 bulan, 12 zodiak, dan 12 kabilah Esrail. (6) Pada tingkatan ke 6, pengikut Isma’iliyyah diajarkan tentang filsafat Mani (berasal dari agama zoroaster, Iran kuno, kata zandaqah, terambil dari agama Mazdaq). Dari sinilah berakar kebolehannya nikah mut’ah dengan wanita mana dan siapapun, di samping fatwa-fatwa para imam tentang nikah muth’ah. (7) Siapa yang lulus pada pembelajaran tingkat ke 7 memperoleh predikat al-‘ȃrif. Mereka bebas dari aturan formal agama. Segala sesuatu menjadi suci baginya (Syeid Ameer Ali, The Spirit of Islam. India:Idarah Adabiyyat-i Delhi, 1978, h.338).

Menurut mereka, imam memiliki ciri fisik, meliputi: (1) dilahirkan dalam keadan suci, (2) terlahir dalam keadaan berkhitan, (3) apabila menyentuh bumi, ia bertumpu pada kedua telapak tangan sambil mengucapkan dua kalimah syahadat, (4) tidak junub, (5) kedua matanya tertidur sedangkan hatinya tidak (6) tidak pernah menguap, (7) tidak mengeluarkan ingus, (8) bisa melihat dari belakang seperti melihat dari muka, (9) Angin yang keluar dari perutnya berbau seperti kasturi,bumi disuruh menutupi dan menelannya, dan (10) apabila memakai baju besi Rasulullah, ukurannya tepat tapi kalau dipakai orang lain baik tinggi ataupun pendek ukurannya selalu lebih sejengkal. (http://wahanakreasi4.blogspot.co.id/2010/12/syiah-sabaiyah).

Atas dasar doktrin kepemimpinan itu, sebenarnya, dalam konstelasi politik di Indonesia 2019 ini, tentu mereka tidak berkepentingan mengangkat Jokowi-Ma’ruf Amin atau Prabowo-Sandiaga Uno sebagai pemimpin umat atau presiden dan wakil presiden. Jika mereka konsisten dengan ke-imȃmah-annya, tentu pemimpin mereka sekarang ini berkedudukan di Libanon yang dikenal sebagai milisi druz, dan merupakan gerakan di bawah tanah di bawah salah satu nȃqib, barangkali nȃqib yang membawahi teritorial Indonesia.

Akan tetapi, karena begitu mudahnya mereka berpecah, termasuk dalam dalam hal imamah, maka bisa saja mereka memilih pemimpin yang bukan syi’ah dengan mencari alasannya tersendiri karena telah terbebas dari aturan formal agama. Al-Quran Surat al-Maidah/5:5152 maupun sejumlah hadis sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan ini tidak lirik sama sekali sebagai landasan berpolitik.

Untuk syi’ah di Indonesia, jika mereka itu termasuk kategori bathiniyyah, atau secara umum syi’ah imamiyyah iṡna ‘asyariyyah, konon berpihak kepada Jokowi-Ma’ruf Amin. Terserahlah kepada mereka atas dasar keyakinan mereka atau atas dasar semangat demokrasi. Hanya perlu ditekankan dari unsur manapun harus bermain secara sportif, jujur, dan bermartabat. Wallahu A’lamu bi ash-Shawab. bersambung…

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here