[Kajian Khusus 6-Habis] Istimbat Gabungan Tekstualis dan Kontekstualis

0
M. Danusiri

Oleh M. Danusiri*

IMAM asy-Syathibi menempatkan diri pada aras gabungan Dhahiriyyah wa Ma’nawiyyah dalam istinbathul ḥukmi, memutuskan sesuatu hukum. Ia merasa lebih cocog dan komrehensi dalam mengungkap kandungan makna (maqashidul ma’na) dari sang Syȃri’, yaitu Allah dan atau Rasȗlullȃh SAW.

Pada level pertama, ia sama sebagaimana yang ditempuh oleh Dawud adh-Dhahiri. Memutuskan sesuatu hukum secara tekstualis apa adanya. Oleh karena itu, ketika memahami Al-Qu’an Surat al-Maidah ayat 51, secara tekstual, umat Islam tidak boleh mengangkat atau memilih pemimpin dari orang Yahudi maupun Nashara. Perluasan makna dari kedua penganut agama ini adalah kaum kuffar atau dalam bahasa Indonesia satire adalah non muslim.

Meskipun tampaknya, paham Dhahiriyyah mengalihkan makna Yahudi dan Nashara menjadi kaum kuffar secara umum, sebenarnya masih tetap konsisten pada paham ke-dhahiriyyah-annya. Menurut mereka, setiap lafal selalu mengandung makna universal (kulliyyah) atau ‘am (umum). Itulah sebabnya ketika mereka memahami lafal ‘khamr’, bukan sekedar khamr, produk minuman keras yang digunakan untuk mabuk-mabukan oleh siapapun, produk orang Arab, melainkan dipahami sebagai kullu maa takhammara, yaitu apapun produk yang hakikatnya disengaja untuk bermabuk-mabukan, apakah wujudnya zat gas, zat cair, maupun benda padat produk belahan dunia manapun.

Oleh karena itu, ciu, jenewer, congyang, pil koplo, pil gendheng, kecubung, oplosan, brendi, vodka, manson, dan masih banyak lagi yang sejenisnya adalah haram hukumnya sebagaimana khamr dengan indikator memabukkan (muskirun), rijsun, dan perbuatan syetan. Dengan cara berpikir dhahiriyyah ini, maka hukum memilih pemimpin kuffar adalah haram karena dilarang oleh Allah (Syari’), laa tattakhiẓu, , ,( jangan kamu ambil/pilih. . .).

Dalam konstelasi pilpres 2019 di Indonesia pada tahap ini, umat Islam boleh memilih Jokowi maupun Prabowo sebagai presiden karena keduanya secara formal adalah orang Islam. Akan tetapi, model istimbat gabungan Dhahiriyyah wa Ma’nawiyyah belum selesai sampai tahap ini, melainkan ada langkah selanjutnya.

Sebagaimana kaum Dhahiriyyah, Imam asy-Syathibi menjelaskan bahwa syariat itu selalu mengandung ashliyyah (yang asal) sebagaimana terkandung dalam nash dan tabi’iyyah (yang mendampingi). Ashliyyah dimaksudkan memelihara sesuatu yang ḍaruriyyah, yaitu sesuatu yang harus dijaga dengan baik karena kalau kehilangan itu akan binasalah kehidupan.

Contohnya menikah berketurunan. Jika karena alasan ingin beribadah melulu kepada Allah sehingga meninggalkan kawin, maka seratus tahun kemudian akan kosonglah di muka bumi ini dengan makhluk yang bernama manusia, berarti hancurlah kehidupan manusia.

Selanjutnya, sebagaimana kaum Ma’nawiyyah, di dalam memahami amar (perintah) atau nahi (larangan) selalu ada ‘illah (penyebabnya atau indikatornya). Oleh karena itu, memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mapun Prabowo-Sandi sama-sama boleh karena kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden sama-sama orang Islam.

Sampai tahap ini masih belum selesai pula karena menjadi tidak bermanfaat memilih dua pasangan sekaligus. Undang-undang pemilu hanya mengesahkan memilih salah satu dari kedua pasangan itu.

Untuk mencari makna tabi’iyyah (pendamping) kaum ma’nawiyyun mengembangkan pengertian ‘illah, shariḥ dan ghairu shariḥ. Yang dimaksud dengan shariḥ adalah ‘illah yang jelas tertera dalam teks atau nash, umpama orang Islam memilih pemimpin kaum kuffar dihukumi haram karena ada ‘illah, sebagaimana dalam surat al-Maidah ayat 51 di atas “waman yatawallahum minkum fainnahu minhum, , , “ (Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka).

Artinya, meskipun orang ini mengaku beragama Islam, melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok dalam Islam seperti shalat, puasa, dan haji, mereka tetap dikategorikan bagian dari kuffar atas petunjuk ayat 51 dari surat al-Maidah. Dengan kata lain mereka menjadi kaum munafiqun karena tampaknya muslim tetapi menjadi bagian dari komunitas Yahudi, Nashara, atau secara umum kuffar.

‘Illah kedua adalah orang yang nekad tetap memilih kaum kuffar sebagai pemimpin. Dalam posisi demikian, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka. ‘Illah ketiga, kaum nekad tersebut dikategorikan sebagai kaum dhalimun oleh Allah.

‘Illah ghairu shariḥ, yaitu ‘illah yang tidak disebutkan dalam nash, dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

‘Illah munasib mulaim, mengandung maksud keseuaian tabi’iyyah terhadap ashliyyah melalui cara tertentu. Umpama seorang ayah angkat mengawinkan anak angkatnya yang masih di bawah usia perkawinan.

Kehahalan ini dianalogikan dengan kekuasaan ayah kandung terhadap anak perempuannya. Ia halal mengawinkan anak tersebut meskipun belum mencapai usia perkawinan karena kekuasaan yang melekat padanya kepada anaknya.

‘Illah munasib mursal, mengandung mencari kesesuaian tabi’iyyah terhadap ashliyyah tergantung sepenuhnya pada ketajaman dan akurasi ijtihad dari mujtahid.

‘Illah munasib mulgha’ mencari kesesuaian dengan ashliyyah karena tabi’iyyah tersebut diguga mengandung maslahat. Wallahua’alam Bissawab. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here