[Laporan Utama] Gerakan Muda Abad Kedua

0
Cover Tabloid Cermin Edisi Januari 2019.

Keberhasilan dakwah Muhammadiyah tidak lepas dari peran para kadernya yang telah melalui proses pengkaderan matang. Proses kaderisasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) ikut menentukan gerakan Muhammadiyah di masa depan.

MEMASUKI Abad ke-2, Muhammadiyah telah berhasil menjadi organisasi besar dengan aset melimpah di berbagai daerah. Cabang dan ranting serta ribuan amal usaha berhasil didirikan. Karya dan keberhasilan Muhammadiyah telah banyak dirasakan masyarakat, baik lokal maupun nasional, bahkan internasional.

Capaian Muhammadiyah setelah 106 tahun berdiri, tidak bisa lepas dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) yang dalam perjalannya melahirkan beberapa Organisasi Otonom (Ortom). Seperti Nasyiatul Aisyiyah (1913), Pemuda Muhammadiyah (1932), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (1961), Tapak Suci Putra Muhammadiyah (1963), serta Hizbul Wathon (1918).

Ortom-ortom tersebut menjadi salah satu wadah berproses kader muda Muhammadiyah. Masing-masing ortom memiliki fokus dan gerakan berbeda, namun tidak lepas dari ideologi Muhammadiyah.

Surat Keputusan (SK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) No 137/KEP/1.0/B/2015, hasil turunan dari Muktamar di Yogyakarta, Malang, dan Makasar menyebutkan, pengkaderan Muhammadiyah mempunyai visi terciptanya kader Muhammadiyah Paripurna untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Tujuan pengkaderan, sebagaimana tercantum dalam SK PPM tersebut, membentuk kader Muhammadiyah yang berjiwa Islam, berkemajuan, serta mempunyai integritas dan kompetensi untuk berperan dalam persyarikatan, kehidupan umat, dinamika bangsa dan konteks global.

“Perkaderan di Muhammadiyah berdasar keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” kata Wakil Ketua Pembina Majelis Pendidikan Kader (MPK) dan Lembaga Litbang PTM PWM Jateng Ari Anshori saat dihubungi Tabloid cermin, Kamis (17/1)

Untuk menuju ke sana, Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini menjelaskan, tiga misi misi yang telah ditempuh. Pertama, mengintensifkan peneguhan ideologi Muhammadiyah di seluruh lini persyarikatan, Ortom dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Kedua, menyinambungkan pewarisan nilai-nilai ber-Muhammadiyah. Ketiga, mengoptimalkan revitalisasi kader.

“AMM das sollen dan das sein harus mengukiti panduan visi, misi, dan tujuan perkaderan yang digariskan Muhammadiyah,” tandasnya.

Eksistensi AMM
Sekretaris MPK PWM Jateng Zuhron Asrofi menuturkan, eksistensi AMM di Jawa Tengah cukup progresif. Dia mencontohkan, dalam kaitannya dengan dinamika berbangsa, ketika Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah meluncurkan program Madrasah Anti-Korupsi, Pemuda Muhammadiyah di Jateng langsung merespon dengan melakukan hal yang sama.

“Di Jateng sendiri eksistensi AMM cukup baik meskipun tidak merata di semua kabupaten/ kota. Ada di kabupaten/ kota yang gerakannya sangat aktif, ada juga yang kurang,” katanya, Jumat (11/1).

Di lingkup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), pengembangan dan pembenahan dilakukan terus menerus. Ketua Umum DPD IMM Jateng periode 2018-2020 Badrun Nuri mengaku, pihaknya sudah mempersiapkan formula gerakan untuk satu periode ke depan. Setidaknya, ada tiga lembaga otonom dan semi otonom yang ingin didirikan dalam rangka optimalisasi program kerja.

Pertama, Lembaga Madrasah Demokrasi (Madin). Lembaga ini akan konsen mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan demokrasi.

Kedua, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Komisariat Non-PTM (LP2KNP). Lembaga ini, menurut Badrun, penting mengingat IMM di kampus non PTM adalah organisasi ekstra yang memiliki konteks tersendiri.

Ketiga, Lembaga Riset Mahasiswa. Lembaga ini sengaja dibentuk untuk merevitalisasi ke-riset-an di tubuh IMM Jawa Tengah.

“Tiga lembaga itu adalah lembaga baru di DPD IMM Jateng periode 2018-2020. Bahkan bisa dibilang sepanjang sejarah DPD, baru ada kali ini,” terang pria asal Madura itu, Senin (14/1)

Hal lain yang tak kalah penting, saat ini DPD IMM Jateng tengah melakukan pendampingan persiapan pendirian dua cabang baru, yaitu Cabang IMM Pemalang dan Brebes. Pengembangan Cabang IMM menjadi salah satu rencana program kerja DPD IMM Jateng untuk pemerataan dan perluasan gerakan kader.

“Di Pemalang dan Brebes perlu didirikan cabang agar pemetaan kader bisa lebih maksimal dan kebermanfaatan IMM bisa merata di Jawa Tengah,” tambahnya.

Ditemui di tempat berbeda, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jateng Ahmad Basyiruddin mengatakan, selama dua tahun ini IPM sudah menggaungkan visi literasi berdikari. Perkembangannya, menurut Basyir, cukup baik. Sudah ada beberapa karya buku yang diterbitkan.

“Kami juga membuat pojok baca di kabupaten/ kota di Jawa Tengah,” jelasnya saat ditemui di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Jalan Singosari Nomor 33 Semarang, Senin (14/1).

IPM beberapa kali dinobatkan sebagai Organisasi Kepemudaan (OKP) terbaik, di tingkat Asean dan nasional. Di Jateng, pada 2018 lalu, IPM Kabupaten Klaten dinobatkan sebagai OKP terbaik. “Yang dinilai adalah organisasi administratif berbasis massa,” katanya.

Pria asal Blora ini menceritakan, pada awal kepemimpinanya, dari 35 Pimpinan Daerah IPM, ada dua Pimpinan Daerah IPM vakum. Namun, di akhir kepemimpinannya kini, 35 PD IPM daerah telah aktif.

“Tugas kami di tingkat Jateng mengaktifkan yang ada di daerah-daerah tersebut,” pungkasnya.

Sinergi Gerakan
Meski demikian, Wakil Sekretaris PWM Jateng Wahyudi menilai perlu adanya perbaikan hubungan antar ortom. Wahyudi melihat selama ini sinergi antar ortom di Muhammadiyah kurang berjalan dengan baik. Satu sama lain bergerak sendiri-sendiri.

“Kalau berbicara dulu, sering ada kegiatan IMM Semarang bekerjasama dengan NA (Nasyiatul Aisyiyah, red). Kenal banget itu. Sekarang, kan jarang,” ungkapnya saat ditemui di kantor Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo, Rabu (16/1).

Menurut Wahyudi, jika sesama Ortom tidak saling mengenal dikhawatirkan tidak akan mampu membangun koalisisi atau sinergi. Tidaknya adanya sinergi dikhawatirkan pria asal Sukoharjo ini dapat berpotensi menimbulkan egoisme. Misalnya, adanya sikap kader AMM yang hanya mau mengurusi cakupanya tanpa peduli dengan Ortom yang lain.

“Karena sudah masuk sebagai pimpinan wilayah, lalu tidak mau masuk ke tingkat daerah, atau merasa cukup hanya kenal dengan teman satu Ortomnya, kan ada egoisme semacam itu,” pungkasnya. (Aulia/rif).

Note: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin Cetak Edisi Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here