Tiga Karakter Gerakan Kiai Dahlan yang Patut Dicontoh Kader Muhammadiyah

0
Pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan. Foto: Istimewa.

TabloidCermin.Com, Semarang – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah (Jateng) Tafsir mengatakan, gerakan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dari masa ke masa tidak banyak berubah. Hal ini terjadi lantaran Muhammadiyah sebagai organisasi induk yang dianggap telah mapan oleh Organisasi Otonom (Ortom) di bawahnya.

“IMM misalnya, sudah terbawa pada organisasi induknya yang sudah mapan. Maka gerakannya tidak agresif. Terkesan konstan dan agak datar,” katanya, saat ditemui di kediamannya, Jl. Tanjung Sari Barat III / 3 Ngaliyan Semarang, Selasa (15/1/2019) lalu.

Dari sudut pandang lain, Tafsir menjelaskan, jika mengacu pada desertasi Dr. Alfian tentang Muhammadiyah, ada tiga karakter yang dimiliki Kiai Ahmad Dahlan. Pertama, tidak banyak berwacana, namun penekanannya langsung pada aksi. Kedua, lambat tapi pasti, lalu yang terakhir menempuh jalan tenang dan damai.

Tiga karakter Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, menurut Tafsir, nampaknya masih mengilhami laku warga Muhammadiyah termasuk AMM-nya. Dengan karakter seperti ini, Muhammadiyah tidak terlalu menonjol tapi juga tidak pernah hilang. Eksistensinya tetap terjaga. Tidak seperti Organisasi Masyarakat (Ormas) yang meledak-ledak di awal, tapi eksistensinya tidak bertahan lama.

“Muhammadiyah, jika diibaratkan lomba lari, startnya lari maraton bukan sprint. Sprint itu hanya untuk lari 100 meter. Memang kesannya tidak populer dan tidak dinamis, namun tidak akan termakan oleh waktu,” jelas Tafsir.

Dalam hal ini, konstan menurut Tafsir tidak berarti kehilangan semangat. Tapi justru gaya inilah yang bisa menjaga eksistensinya. Karena ber-Muhammadiyah, dan ber-AMM bukan hanya untuk sehari dua hari.

“Ber-Muhammadiyah itu untuk selamaya,” tandasnya. []

Reporter: Aulia
Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here