Keuskupan Agung Kunjungi Muhammadiyah, Tafsir Ceritakan Ahmad Dahlan Pernah Belajar ke Gereja

0
Keuskupan Agung Semarang bersilaturrahim ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Kamis (14/3/2019). Foto: Ilyas

TabloidCermin.Com, Semarang – Keuskupan Agung Semarang bersilaturrahim ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Kamis (14/3/2019). Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Eduardus Didik Cahyono disambut hangat oleh para Ketua PWM Jawa Tengah H. Tafsir dan segenap pimpinan Muhammadiyah Jawa Tengah.

Eduardus mengatakan, kedatangannya ke Muhammadiyah untuk melanjutkan relasi-relasi yang sudah dibangun oleh pengurus sebelumnya agar terus terjalin dengan baik.
“Sebagai pengurus baru, kami harap kerjasama ini tetap berlanjut,” katanya.

Menurut Eduardus, banyak hal penting yang perlu dikolaborasikan dengan Muhammadiyah, seperti kerjasama di bidang pendidikan, kesehatan, kepemudaan dan lainnya. “Semoga relasi baik tetap berjalan,” imbuhnya.

Eduardus juga berterimakasih atas sambutan menyenangkan dari Pimpinan Muhammadiyah Jateng. Sehingga bisa saling mengobrol santai, terbuka, hangat. Selain itu, antara Muhammadiyah dan Katholik juga saling sharing tentang ajaran masing-masing.

“Kami sangat berterimakasih. Saya rasa sangat menyenangkan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir mengatakan, Katholik merupakan agama yang paling koordinatif. Karena sikap itu, Tafsir bercerita, Ahmad Dahlan pernah belajar ke gereja. Begitu pulang, Ahmad Dahlan mendirikan sekolah pertama di rumahnya.

“Terimakasih atas kunjungannya. Sudah banyak informasi yang kami terima. Siang ini kita kuliah katholik,” ucap Tafsir disambut tawa para hadirin.

Tanggapi Soal “Polemik Kafir”
Eduardus Didik Chahyono juga menanggapi terkait istilah “kafir” yang sempat ramai diperbicangkan belakangan ini. Menurutnya, istilah kafir adalah bahasa internal yang menjadi khas pemeluk agama Islam. Namun, lanjut Eduardus, perlu disadari saat berhubung dengan agama lain dalam ranah sosial, maka istilah yang dipakai adalah kaidah kemasyarakatan dan kondusif.

“Maka dicari kata-kata yang mendukung relasi persaudaraan. Kalau sedang mengkaji teologi Islam ya tetap memakai istilah kafir, jadi itu istilah di internal,” katanya.

Menurut Eduardus, di setiap internal ajaran agama ada istilah sebutan untuk orang luar. Kalau di Islam ada sebutan kafir yang diambil dari bahasa Arab. Sedangkan di katholik memakai istilah yang diambil dari bahasa Latin, yaitu infideles, yang berarti tidak beriman.

“Istilah itu tidak kita sampaikan di ranah umum, karena bukan tempatnya,” katanya. []

Reporter : Ilyas
Editor : M. Arif 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here