Mendengar Curhat Guru PAUD, Melihat Wajah Buram Pendidikan Kita

0
Khafid Sirotuddin.

Oleh Khafid Sirotudin*

KONDISI panas dari teriknya matahari menjelang dhuhur tidak menyurutkan semangat dan kegembiraan 90-an guru-guru PAUD se Kecamatan Weleri mengikuti outbond di Talang Gantung Adventure Desa Sidomukti Weleri tiga pekan lalu. Raut wajah sumringah dan gembira terlihat jelas dari wajah-wajah pahlawan tanpa tanda jasa yang kesemuanya kaum ibu itu.

Setelah istirahat Shalat Dhuhur dan makan siang, mereka berkumpul di Hall Bambu Talang Gantung Adventure. Bahagia dan senang rasanya berada di tengah-tengah guru PAUD yang tergabung dalam HIMPAUDI Kecamatan Weleri ini. Dipandu koordinator acara ramah tamah dan pembagian doorprize dari-oleh- untuk guru-guru PAUD pun dimulai.

Kami berusaha menjadi pendengar yang baik. Dan meluncurlah berbagai masukan, ungkapan, curhatan dari para pahlawan bagi generasi bangsa kita.
Ibu-ibu superwoman tersebut mengungkapkan uneg-unegnya nyaris tanpa beban, apa adanya, tulus dan tanpa basa basi.

Dari curhatan para guru PAUD yang hadir, setidaknya kami mencatat beberapa hal, antara lain:

Pertama, gaji mereka bervariasi antara Rp 100 ribu hingga 300 ribu per bulan. Sebuah nilai penghargaan yang tidak sebanding dengan tanggungjawab sebagai pendidik moral dan mental anak-anak balita, tunas-tunas bangsa, anak-anak kita. Itupun masih dengan catatan.

Kalau SPP dari wali murid anak kurang lancar, maka yang diterimanya kurang dari itu. Sebuah dana yang hanya cukup untuk membeli wedak viva dan sekedar beli bensin untuk motor sebulan.

Kedua, insentif dari Pemerintah/APBN TA 2018 baru keluar di akhir Desember. Itupun tidak utuh 12 bulan dan tidak semua guru PAUD mendapatkan. Oh ya, itupun masih dipotong pajak. Hasil segini-pun didapat setelah berjuang melalui “demo” HIMPAUDI ke Jakarta.

Ketiga, insentif dari Pemkab Kendal TA 2018 sebesar Rp 200 ribu per bulan dipotong pajak, alhamdulillah diterimakan selama 10 bulan saja.

Keempat, insentif dari pemprov Jateng zong alias tidak ada sama sekali pada TA 2018.

Kelima, hanya dua PAUD di Weleri yang mendapatkan bantuan PIP dari Pemerintah pada TA 2018.

Rasanya hati kami menangis, miris dan tragis mendengarkan semua curhatan guru-guru PAUD. Betapapun kita semua tahu bahwa konstitusi UUD 1945 mewajibkan alokasi APBN/APBD sebesar minimal 20% untuk pendidikan yang di dalamnya termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Lalu dimanakah komitmen kepala pemerintahan, kepala daerah, para wakil rakyat yang dulu berjanji (saat kampanye) untuk mensejahterakan mereka.

Kami salut dan bangga dengan guru-guru PAUD yang mengundang kami untuk sekedar berbagi cerita, curhat tentang sisi lain, fakta dan wajah buram dunia pendidikan kita.

Kami pun belajar bersyukur, bersabar dan tersenyum sebagaimana para guru PAUD tetap tersenyum menerima ketimpangan pendapatan yang diterima. Apalagi bila pendapatan mereka dibandingkan dengan insentif seorang Guru Besar di PTN/PTS, atau dibandingkan dengan tantiem direksi BUMN/Bank, uang kehormatan anggota DPR, atau sekedar disandingkan dengan TPP Guru SMA/SMK dari Pemprov Jateng.

Sesalkan apa yang musti disesalkan..
tapi jangan kelewat putus asa..

(WS Rendra)

Wong salah ora gelem ngaku salah,
Suwe-suwe sopo wonge sing betah..
Saiki aku ngerti sak nyatane,
Kowe selak golek menangmu dewe…

Demikian penggalan lagu suket teki yang dinyanyikan dengan merdu oleh seorang guru PAUD menutup pertemuan kami siang itu. Seakan tidak terjadi ketimpangan pendapatan yang sangat njomplang di antara sesama guru, dosen, ustadz, pendidik dan pengajar anak-anak kita, generasi emas bangsa Indonesia.

Dan kamipun ikut larut bernyanyi dan berjoget bersama mereka.

Merdeka ! []

*Ketua LKHP PWM Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here