Refleksi Milad IMM: Memenuhi Panggilan Suci, Berbakti untuk Negeri

0
Heri Susanto. Foto: dok. pribadi.

Oleh Heri Susanto

“Kenapa harus sakit hati? Kau ditakdirkan untuk melakukan itu. Kau telah melengkapi jalan cerita, menunaikan takdir langit. Aku tidak pernah sakit hati.” – Tere Liye dalam Negeri Di Ujung Tanduk

SORE itu tidak seperti biasanya. Ada hal yang terus berputar di pikiranku. Jam lima aku sudah di rumah dan bersender di kursi depan teras. Ditemani nasi ketan dan novel pinjaman. Rintik hujan membuat sayup suasana. Hawa dingin yang baru turun dari lereng gunung Slamet menambah syahdu kota ini.

Hamparan sawah menghijau di seberang perumahan dan suburnya pepohonan yang berjajar dari pinggir kota sampai kaki bukit menimbulkan rasa takjub sekaligus syukur atas karunia Tuhan atas negeri ini. Negeri yang indah dan selalu dijajah.

Syukurku tiada terperi, begitu juga pedihku. Kopiku masih mengepul. Aku tengok sekali lagi novel tebal yang baru selesai aku baca. Happy Ending. Berakhir dengan kemenangan Wiranggaleng dan pasukannya dalam pertempuran melawan Peranggi (Portugis). Inilah novel yang membangkitkan langkahku untuk mengabdi untuk negeri. Menepis ego dan menghapus ragu.

Pram menulis kisah epos ini dengan sangat apik. Walaupun lelah dengan narasi yang panjang dan jalan cerita yang berliku, Pram mantap menancapkan pesannya pada pembaca. Novel ini bercerita bahwa arus utara bisa dihadang, orang desa bisa menjadi perwira, dan sambutlah panggilan negerimu untuk berjuang. Pram mengisahkan tokoh Wiranggaleng dalam Novel Arus Balik dimana ia bertarung sampai pusat kekuasaan Portugis di Malaka, memberikan segala-galanya, walaupun hanya secauk pasir sekalipun untuk membendung arus utara. Wiranggaleng menepis takdir bawaannya sebagai orang dusun. Ketika rakyatnya membutuhkan bantuannya, Wiranggaleng tanpa ragu memenuhi panggilan itu.

William Chittik dalam bukunya Science of cosmos, science of soul menyebutkan bahwa apa yang membuat manusia disebut ‘manusia’ bukanlah keistimewaan biologis, sosial, dan batasan historis, tapi fakta bahwa manusia memiliki akses ke ketidakhinggaan, pada Sang Mutlak. Sebagai Khalifah fil Ardh manusia diberi mandat untuk menebar kebaikan dan merefleksikan sifat-sifat mulia Tuhan. Seperti yang diutarakan Seyyed Hossein Nasr bahwa sebagai khalifah Tuhan di bumi dan menempati posisi sentral yang dia pegang, manusia adalah saluran rahmat bagi alam semesta.

Sebagai seorang muslim, adalah wajib hukumnya untuk mengaplikasikan dan menerapkan bahwa Islam adalah Din yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Penganutnya adalah sumber kebahagiaan, rahmat dan penjaga alam semesta. Oleh karena itu, seruan untuk berbakti untuk negeri, memberikan kerja nyata untuk bangsa adalah sebuah panggilan suci. Tidak terkecuali untuk siapapun dan dengan latar belakang apapun.

Dalam buku The Essential, Nashr menuturkan bahwa “The Islamic conception of man is summarized in the doctrine of al-insan al-kamil, the universal or perfect man, a doctrine whose essence and full manifestation is to be found in the Prophet of Islam.” (Konsep Islam tentang manusia dirangkum dalam doktrin al-insan al-kamil, manusia universal atau sempurna, sebuah doktrin yang esensi dan manifestasi penuhnya dapat ditemukan dalam Nabi Islam). Oleh karena itu, sebagai menjadi Insan Kamil (manusia universal) adalah cita-cita bagi seorang muslim. Meniru akhlak Kanjeng Nabi Muhammad. Insan kamil adalah manusia yang meleburkan jiwanya pada kebagian semesta. Mampu menghujani semua mahluk dengan kebaikan dan cinta kasih tanpa memilah-milah.

Insan kamil adalah sosok par excellent yang mampu menerapkan takbir, tahmid dan tahlil dari ritual ke dalam alam real. Takbirnya adalah menjunjung derajat dan kemakmuran rakyat yang tertindas. Tahmidnya adalah membersihkan negerinya dari segala kebodohan, kejahatan dan kedhaliman. Tahlilnya adalah menebar kebaikan kapanpun dan di manpun, sebagaimana kuasa Tuhan yang tiada terbatas. Sebagai manusia universal, amal kebaikan sosok ini tidak bisa dibatasi oleh agama, suku atau golongan. Ia adalah universal, layaknya sinar sang surya yang menyinari alam raya.

Kontowijoyo, Pemikir besar Muhammadiyah, menuturkan bahwa Islam haruslah menjadi paradigma dalam melihat realitas sosial. Islam harus menjadi relevan dan memberi solusi bagi setiap permasalahan bangsa. Dengan cara inilah Islam bisa menjadi agama sepanjang zaman. Konsep yang diusung oleh pemikir ini adalah Paradigma Islam dan Pengilmuan Islam. Menurutnya, Islam sebagai nilai subyektif yang diyakini oleh umat muslim harus ditransformasikan menjadi nilai-nilai objektif. Sehingga bisa diterima oleh setiap manusia, apapun agamanya, apapun kelompoknya.

Proses objektifikasi ini adalah melakukan transformasi ajaran Islam, nilai dan tauladan keislaman ke dalam tataran transendental. Posisi dimana nilai Islam menjadi nilai universal, nilai yang selalu benar kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun. Dengan nilai-nilai transendental ini Islam akan hidup dan merahmati segala mahluk di alam.

Seperti yang dijabarkan Najib Burhani bahwa Muhammadiyah hendaknya beranjak dari gerakan puritanisme menuju kosmopolitanisme. Gagasan kosmopolitanisme Islam adalah refleksi dari Islam sebagai rahmatan lil’almin, muslim sebagai masyarakat dunia. Kosmopolitanisme adalah membentuk peradaban dengan mengakomodir dan merangkul segala bentuk perbedaan dan kelompok masyarakat. Layaknya kejayaan Islam masa lalu. Peradaban Islam masa lalu adalah Masyarakat Utama (madani), yang dibangun dari nilai-nilai puncak berbagai peradaban lain baik peradaban India, Mesir, Yunani dan Persia.

Harapanku. Mungkin, dalam kesempatan yang Indah ini. Ditemani mega yang memerah megah. Milad IMM esok akan menjadi momentum perubahan dan perbaikan bangsa. Momen yang mampu memformulasikan nilai-nilai Islam menjadi objektif dan transenden. Mampu memberikan napas dan nadi Islam pada setiap ikhtiar teknis untuk perbaikan negeri. Islam yang perlu dikobarkan bukanlah islam sajadah atau kopiah, namun Islam yang mampu merubah dan memberi rahmah.

Kuberharap, kerja untuk negeri bukan hanya sekadar kerja rutinitas, namun kerja ritual spiritualitas. Kerja yang menjadi perubahan untuk negeri dan persembahan Tuhan. Kerja nyata sebagai bentuk lain dari sebuah persembahyangan.

Di sinilah aku, duduk termenung di pergantian hari. Dengan semayup suara azan bahwa aku akan memenuhi panggilanMu. Seruan Islam dan Kemenagan sudah menggema, siapapun dirimu, dari manapun dirimu, jika panggilan agama sudah bersiar maka tugas harus dijalankan.

Aku datang ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Kusambut panggilan-Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. []

Heri Susanto, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah 2015-2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here