Dimana Ganti Untung Jalan Tol?

0
Ketua LHKP PWM Jawa Tengah, Khafid Sirotudin.

Oleh Khafid Sirotudin*

BAKDA maghrib, Ahad 10 Maret 2019, kami kedatangan tamu istimewa kurang lebih 20 orang. Kami anggap istimewa karena mereka berasal dari lima kecamatan, delapan desa di Kabupaten Kendal. Tidak satupun yang kami kenal sebelumnya, kecuali seorang, Mardiyono ML, Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Negeri Solo (UNS).

Mengingat tamu yang cukup banyak, kami menerima mereka di warung kopi Tritisan Coffee and Tea Weleri, 100 meter dari tempat tinggal kami. Sambil ngopi santai, mereka yang terdiri dari bapak-bapak dan saudara-saudara itu mulai memperkenalkan diri. Ada yang berasal dari Kecamatan Ringinarum, Ngampel, Brangsong, Kaliwungu dan Kaliwungu Selatan.

Sebenarnya mereka mau datang lebih banyak beserta keluarganya. Namun, menurut mereka pekewuh, kalau nantinya merepotkan kami. Yang hadir malam itu hanyalah perwakilan dari masing-masing kecamatan.

Setelah ta’aruf satu per satu selesai, saudara kita ini menyampaikan uneg-unegnya dan curhat atas masalah yang dihadapi. Katanya, sudah dua tahun mereka berjuang menuntut Ganti Untung atas tanah-tanah sawahnya yang terkena proyek Tol Batang-Semarang. Bahkan sebelum jalan tol diresmikan tanggal 21 Januari 2019 oleh Bapak Presiden, mereka sempat didatangi oknum aparat agar tidak melakukan demo sambil dijanjeni masalah ganti untung segera direalisasi. Meski sampai hari ini belum dilaksanakan.

Sebenarnya proses pengukuran atas lahan-lahan sawah yang terkena proyek Tol seksi Batang-Semarang sudah selesai. Proses ganti rugi juga sudah diproses sesuai ketentuan. Masalah utamanya adalah adanya Mal Administrasi atas estimasi nilai tim appraisal ganti untung terhadap lahan-lahan sawah sumber utama kehidupan yang petani miliki.

Khusus untuk lahan-lahan sawah yang mereka adukan, bahkan sudah didukung dengan penilaian Lembaga Ombudsman RI melalui Laporan Akhir Hasil Penelitian atas kasus tersebut, yang foto copynya diberikan kepada kami.

Sebenarnya saudara-saudara kita tersebut hanya menuntut keadilan agar bisa diberikan ganti untung yang patut dan wajar sebagaimana petani lain yang sama-sama terkena proyek jalan tol. Berdasarkan data yang ada- sesuai saran Ombudsman RI- ganti untung yang sepatutya mereka terima hanya bertambah lebih kurang Rp 15 milyar untuk seluruh lahan mereka yang sekarang sudah dipakai jalan tol. Sebuah nilai yang terlalu kecil apabila dibandingkan nilai proyek jalan tol yang Trilyunan rupiah.

Sebanyak 20-an bapak-bapak dan saudara-saudara yang datang menemui kami malam itu, mewakili 87-an KK pemilik lahan sawah korban jalan tol seksi Batang-Semarang. Yang membuat hati bertambah trenyuh dan sedih, sejak proyek pembangunan tol dimulai sampai sekarang saudara kita petani-petani itu kehilangan mata pencaharian, bahkan ada satu keluarga yang terpaksa bertempat tinggal di bekas kandang ayam, serta beberapa keluarga lain nunut urip di rumah saudaranya. Astaghfirullah al adhiim.

Tidak tahukah para pemimpin dan pimpro jalan tol bahwa doa orang-orang yang terdzalimi itu sangat makbul dan pasti dikabulkan oleh Allah Tuhan semesta alam?

Semoga sedikit tulisan ini bisa dibaca oleh para pemangku kebijakan dan bisa segera diselesaikan hak-hak rakyat bawah sesuai apa yang pernah disampaikan pemerintah bahwa tidak ada ganti rugi dan yang ada ganti untung untuk lahan-lahan yang terkena proyek jalan tol. []

*Khafid Sirotuddin, Ketua LKHP Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here