Ki Agung Sudarwanto Solo Ciptakan Wayang Peduli Lingkungan

0
Wayang Adiwiyata atau Wayang Peduli Lingkungan ciptaan Ki Agung Sudarwanto Solo. Foto: Istimewa.

TabloidCermin.Com, Solo – Bergelut menjadi dalang wayang kulit sudah biasa. Berbeda dengan dalang Agung Sudarwanto. Pria kelahiran Desa Kauman, Nganjuk Jawa Timur pada 4 Agustus 1979 ini membuat kreasi Wayang Adiwiyata atau Wayang Peduli Lingkungan

Ki Agung menggunakan media Wayang Transformatik (Transformasi Plastik) iringan gamelan, alat musik modern, seni tari dan di dukung tata lighting yang muaranya lebih terasa komunikatif di era industri 5.0.

Ki Agung merupakan anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kota Surakarta.

Ki Agung terinspirasi mengembangkan Wayang Peduli Lingkungan sejak Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Ketelan ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Solo tahun 2018 lalu.

“Wayang transformatik dengan lakon “kapan peduli lingkungan” siap digelar di berbagai instansi terkait yang peduli terhadap lingkungan,” ujar Ki Agung saat peringatan Hari Mendongeng Internasional, Rabu (20/3/2019).

Wayang Adiwiyata dipentaskan selama kurang lebih tiga puluh menit.

Pada suatu hari yang cerah telah terjadi pertemuan antara Sikun, Sijou dan Sime. Mereka membicarakan tentang kebersihan lingkungan, kita harus tetap menjaganya agar hidup ini menjadi sehat.

Sijou berpendapat itu bisa tercapai jika manusia sadar dan tanggap terhadap kondisi alam, maka dari itu ketiga tokoh tersebut memberikan contoh praktik baik menyikapi sampah di lingkungan sekitar.

Mereka tak sungkan mengingatkan sikap manusia yang kurang baik dalam memperlakukan sampah demi menyelamatkan bumi.

Mengetahui gerakan 3 S tersebut, sekelompok nyamuk, kecoa, lalat berbincang-bincang menyerang Sikun, Sijou dan Sime.

Kelompok 3S dianggap sebagai penghalang keinginan nyamuk, kecoa dan lalat dalam menyebarkan bakteri jahat di muka bumi. Terjadilah perselisihan dan konflik di antara kedua belah pihak. Siapakah yang menang dan yang kalah?

Jawabannya ada di pagelaran Wayang Adiwiyata Karya : Agung Sudarwanto.

“Kita siap berkolaborasi dengan Dinas Lungkungan Hidup ataupun pihak sekolah yang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Setiap pertunjukan saya selalu menyisipkan pesan moral di dalamnya. Ada pesan lima karakter utama, dari sisi religius, nasionalisme, integritas, gotong royong dan mandiri, di kemas dalam sajian lancaran sekolah pendidikan karakter, lancaran adiwiyata, lagu sekolah istanaku, lagu sampah,” jelas Ki Agung.

Sarjana Seni (SSn) lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ini sering dipercaya menyusun naskah dan mengarahkan pementasan dalang China di Nganjuk, Surabaya, Semarang, dan Madura.

“Sewaktu kecil, saya pernah diundang pentas di rumah Ki Manteb Soedharsono di Karangpandan dan Ki Anom Suroto. Pada tahun 1991, saya di tunjuk TVRI Surabaya untuk siaran dengan lakon Babad Alas Mrentani. Lalu pentas di RRI Semarang dan di Sragen dengan arahan almarhum Ki Prenggo Darsono dan almarhum Ki Gondo Darman,” ucap Ki Agung.

Ki Agung melanjutkan, berkat arahan dalang-dalang senior itu, tahun 1992, saat masih duduk di bangku SD kelas 6, Ki Agung mampu menyajikan pakeliran semalam di Nganjuk, Kediri, Surabaya, Ngawi, Magetan, Madiun, dan sekitarnya.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SDM 1 Ketelan Jatmiko, inovasi yang dilakukan oleh Ki Agung ini patut diapresiasi. “Ki Agung ini mampu berinovasi dengan kesenian wayang, tetapi tetap menjaga etika dan estetika budaya,” ujarnya. []

Reporter: Fawaid
Editor : M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here