Revolusi Pendidikan Nasional Menghadapi Industri 4.0, Perlukah?

0
Heri Susanto

Oleh Heri Susanto, S.Farm, Apt.

MALCOLM X berkata, “Education is our passport to the future, for tomorrow belongs to the people who prepare for it today.” Bahwa pendidikan adalah kunci masa depan, dan masa depan adalah milik orang yang mempersiapkannya.

Pendidikan hendaknya bisa menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup. Sebagai kunci masa dengan, pendidikan tidak hanya menyoal masa lalu sebagai pelajaran, namun menyiapkan dan menyongsong masa depan. Apalagi kita memasuki era industri 4.0.

Istilah industri 4.0 sendiri muncul di Jerman, tepatnya saat diadakan Hannover Fair pada tahun 2011 (Prasetyo dan Sutopo, 2018:18). Revolusi industri keempat adalah kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya. Revolusi industri ini gabungan antara penggunaan mesin, komputer dan jaringan internet dalam proses produksi yang semakin meningkatkan efektivitas kerja.

Dalam perubahan yang serba cepat ini, materi-meteri yang diajarkan di sekolah akan segera using dan tidak kontekstual. Sebagaimana sindiran dari Fran Lebowitz, “In real life, I assure you, there is no such thing as algebra.” Dari berbagai euforia kemajuan dan gempita teknologi, perlu diingat bahwa setiap teknologi tidak bisa dipandang secara naïve. Teknologi bukanlah alat yang semata netral. Layaknya pisau, ia pun didesain untuk tujuan tertentu. Apakah untuk memotong sayur atau untuk menyayat daging.

Negara Jerman memiliki kepentingan yang besar terkait hal ini karena Industri 4.0 menjadi bagian dari kebijakan rencana pembangunannya yang disebut High-Tech Strategy 2020. Maka, bisa jadi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan Jerman agar selalu menjadi yang terdepan dalam dunia manufaktur (Prasetyo dan Sutopo, 2018:18).

Oleh karena itu, pendidikan harus bersifat kritis. Pendidikan harus bisa membedah kepentingan yang terselip dalam setiap teknologi. Pendidikan harus memiliki sikap atas arus ini. Akankah tergerus arus, mengunggagi arus, atau membuat arus balik.

Sistem pendidikan Indonesia harus segera tanggap untuk menghadapi datangnya masa tersebut. Dengan adanya masalah reduksi penggunaan tenaga manusia dan tuntutan penguasaan teknologi terbaru, maka perlu dirumuskan konsep Pendidikan yang sesuai bagi manusia Indonesia di masa revolusi industri 4.0.

Dengan adanya persoalan hilang dan munculnya profesi baru, kita perlu mengonsep ulang pendidikan yang fleksibel yang bisa tanggap atas segala arus perubahan. Karena teknologi selalu berkelindan dengan kepentingan, bukan hanya menyangkut masalah kesiapan pendidikan, namun juga bidang ketahanan, politik dan ekonomi.

Maka, aspek-aspek ekonomi-politik dan pertahanan adalah tema yang harus diulas dalam membedah kesiapan Indonesia dalam menghadapi revolusi Industri keempat. Jika agenda ini dilaksanakan dengan terlambat, maka Indonesia hanya akan menjadi penonton dan pengguna atas akrobat kemajuan ilmu dan teknologi dari negara-negara lain. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here