Wakil Ketua DPRD Semarang Ajak Pemuda Peka Membaca Kondisi Zaman

0
Diskusi Madrasah Demokrasi Ikatan (MADIN) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah berjalan lancar, Kamis (28/3/2019). Foto: Ilyas

TabloidCermin.Com, Semarang – Zaman terus berkembang, anak muda dituntut memiliki kepekaan agar bisa terlibat dan menjadi bagian penting dalam perubahan.

Menurut Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang Agung Budi Margono, kepekaan anak muda harus dilatih, dikondisikan dan dilakukan. “Rasa peka tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus dilatih,” katan Agung dalam diskusi Madrasah Demokrasi Ikatan (MADIN) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah berjalan lancar, Kamis (28/3/2019).

Wakil Dewan dari Fraksi PKS ini menjelaskan, usia muda tidaklah panjang. Jika pemuda tidak terlibat dan tidak menjadi bagian penting dari perubahan-perubahan, maka berarti sudah melewati masa emas. Di Indonesia, kata dia, populasi pemuda sangat besar.

“Pemuda punya peluang, apalagi diera digital dan bonus demografi saat ini, maka pemuda harus bisa membaca zaman dengan cara berdiskusi, berdialog banyak berinteraksi dengan lingkungan dan mengambil peran besar,” katanya.

Namun di tengah-tengah peran itu, Agung melanjutkan, anak muda masa sekarang ditempa persoalan yang sangat kompleks. Mulai dari persoalan narkoba, free sex, hingga persoalan korupsi. Menurutnya, sekarang korupsi semakin muda, karena beberapa anak muda yang diharapkan jadi penerus generasi politik malah terjerat kasus korupsi. “Penyakit korupsi menyerang semua kalangan,” jelasnya.

Terkait dengan persoalan pemuda tersebut, Agung menambahkan, di Kota Semarang, pihaknya menginisiasi program parlement modern. Program ini bukan berarti serba internet atau gadget, tapi parlemen yang lebih terbuka, lebih aspiratif, era sekarang sudah berubah orang berekspresi tidak harus di jalanan. “Dengan adanya program tersebut, maka korupsi bisa ditekan,” katanya.

Dengan keterbukaan, kata Dia, rasa kritis demokrasi bisa tumbuh. Di satu sisi, praktik korupsi terjadi ketika ada proses otoritarian dan ketertutupan. Makanya, semua dibuka dengan parlement modern agar bisa diakses sehingga ekspresi-ekspresi itu ada kanalnya.

“Adanya program tersebut membuat semuanya mudah diakses dan berkonsekwensi bagi politisi untuk terbuka serta mau berkomunikasi dengan siapapun, dalam tanda kutip politisi ditelanjangi apa saja yang dilakukan,” jelasnya.

Di samping itu, Agung juga mengusung gagasan Semarang New Center sebagai ruang berekspresi publik, terutama kalangan muda. Ini dinilai penting, karena kenakalan remaja, menurutnya, terjadi karena tidak adanya ruang untuk berekspresi.

“Sebagai contoh, Salah satu ciri pemuda saat ini adalah berselvi, jadi anak muda butuh eksistensi, jika tidak difasilitasi maka akan menjadi problem dan mengarah pada sesuatu yang negatif,” jelasnya.

Di era sekarang, lanjut Agung, masyarakat tidak hanya berekspresi melalui mulut, tapi juga jari. Sehingga, masyarakat harus bisa bijak dalam bersosial media. Jangan sampai menyebar hoaks dan melakukan ujaran kebencian.

“Saya pikir, politik tidak melulu bicara tentang kekuasaan, politik juga persoalan pelayanan, pengabdian dan politik juga bagian dari kalangan anak muda untuk berekspresi. Politik yang perlu kita lakukan adalah politk gagasan. Sampaikanlah pendapat dan pertanggung jawabkan. Artinya harus ada data dan argumentasinya, bukan sekedar bicara dan bukan sekedar slogan,” pungkasnya []

Reporter: Ilyas
Editor : M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here