[Laporan Khusus] Risalah Pencerahan dari Tanwir Bengkulu 2019

0
Ketum PP Muhamamdiyah Haedar Nashir memberikan sambutan dalam acara Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung di Kota Bengkulu, 15-17 Februari 2019. Foto: Istimewa.

Kompleksitas masalah keummatan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama terlihat semakin jauh dari karakter asli bangsa Indonesia. Hal ini terlihat ketika agama dijadikan komoditas politik. Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu berusaha memberikan pencerahan dan melawan arus itu.

MENJELANG Muktamar di Surakarta, Juni 2020 mendatang, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan Tanwir ke-2 di Bengkulu. Di samping sebagai momen evaluasi program, forum permusyawaratan tertinggi di bawah Muktamar itu menegaskan sikap Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Tanwir secara khusus mengusung tema “Beragama yang Mencerahkan.”

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sambutannya menjelaskan, setidaknya ada dua pertimbangan penting mengapa mengangkat tema tersebut dipilih. Pertama, Muhammadiyah ingin mendorong umat Islam untuk menyebarluaskan pesan-pesan dan praktik Islam yang mencerahkan hati, pikiran, sikap, dan tindakan dalam kehidupan.

Kedua, dalam kehidupan sehari-hari masih dijumpai pemahaman dan pengamalan Islam yang tidak atau kurang menunjukkan pencerahan. Hal ini menimbulkan masalah sendiri dalam kehidupan bangsa.

Haidar mencontohkan, di antara sikap tersebut adalah ghuluw atau ekstrem dalam beragama, intoleransi, kekerasan, takfiri, penyebaran hoax, politisasi agama, ujaran-ujaran buruk yang menebar marah, kebencian, dan permusuhan atas nama agama serta praktik hidup yang menggambarkan kesenjangan antara lisan dan perbuatan.

“Jika dirujuk pada kandungan Al-Quran, Islam adalah din at-tanwir, yakni agama pencerahan yang mengeluarkan umat manusia dari “al-dhulumat” (segala bentuk kegelapan) kepada “an-nur” (kehidupan yang bercahayakan ajaran Ilahi),” katanya, Jumat (15/2).

Risalah Pencerahan

Tanwir Muhammadiyah berlangsung di Kota Bengkulu pada Tanggal 15 hingga 17 Februari 2019. Dihadiri segenap tokoh bangsa, di antaranya, Presiden Indonesia Joko Widodo, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, dan para menteri kabinet kerja. Lalu, segenap Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Pusat Aisyiyah, serta perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dari berbagai penjuru juga hadir dalam acara itu.

Sebagai gerakan yang menisbahkan dirinya “pengikut Nabi Muhammad”, Muhammadiyah berusaha mengaktualisasikan Islam Berkemajuan dengan menghadirkan Islam sebagai agama pencerahan. Karenanya, Tanwir Muhammadiyah tahun ini, menyampaikan delapan risalah pencerahan untuk perbaikan umat.

Pertama, beragama yang mencerahkan, mengembangkan pandangan, sikap, dan praktik keagamaan yang berwatak tengah (wasathiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusian, laki-laki maupun perempuan
Kedua, menghadirkan pemahaman agama yang memberikan jawaban atas berbagai problem kemanusian. Seperti, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan masalah lain, baik yang bercorak struktural maupun kultural.

Ketiga, menegaskan khazanah `iqra, yakni menyebarluaskan penggunaan media sosial yang cerdas disertai kekuatan literasi berbasis tabayun, ukhuwah, ishlah, dan ta’aruf.
Keempat, dalam beragama yang mencerahkan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat.

Kelima, menyoroti perlunya umat Islam melakukan perubahan strategi, yakni dari perjuangan melawan sesuatu (al-jihad li-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-al-muwajahah). Kaum Muslimin diharapkan mampu memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama, apalagi dalam kehidupan saat ini yang berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan yang kian kompleks.

Keenam, perlunya membangun manusia Indonesia yang lebih religius, berkarakter kuat, dan berkemajuan.

Ketujuh, mendorong terciptanya politik yang beradab. Ciri-cirinya disertai jiwa ukhuwah, damai, toleran, dan lapang hati dalam menghadapi perbedaan pilihan politik.

Kedelapan, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bermisi dakwah dan tajdid, terus berkomitmen kuat untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang mencerahkan kehidupan. Hal itu mesti diresapi dalam jiwa, alam pikiran, sikap, serta tindakan para anggota, kader dan pimpinan Muhammadiyah.

Mengembalikan Islam Sebagai Tata Nilai

Menurut Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah (Jateng) Tafsir, delapan risalah pencerahan tersebut dimaksudkan guna mengembalikan agama sebagaimana fungsi aslinya.

Tafsir yang juga menghadiri Tanwir di Bengkulu memandang, fenomena agama menjadi komoditas politik semakin santer. Hal ini yang membuat kehidupan keberagamaan di Indonesia terasa panas. Agama dijadikan alat untuk untuk menghakimi yang lain hanya karena beda pilihan politik.

“Muhammadiyah berusaha mengembalikan Islam sebagai tata nilai,” tegasnya, saat ditemui di Ruang Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humanioran (Fuhum) UIN Walisongo Semarang, Rabu (20/2).

Sejauh ini, lanjut Tafsir, pergesekan antar warga Muhammadiyah belum terlihat di dunia nyata. Masih dalam pergesekan di media sosial. Meskipun begitu, hal tersebut dipandang tidak pantas dalam kehidupan beragama di Indonesia.

“Makanya Muhammadiyah mengantisipasi. Masyarakat diingatkan untuk mengembalikan agama kepada fungsi aslinya,” tambahnya.

Dalam sidang Tanwir yang dibuka oleh Joko Widodo tersebut, PP Muhammadiyah telah mempersiapan rancangannya, kemudian disepakati dalam sidang sebagai hasil Tanwir. Delapan poin tersebut, ditegaskan Tafsir, akan menjadi bagian dari landasan normatif dan landasan moral Muhammadiyah dalam membangun paham keagamaan.

“Bagian. Bukan keseluruhan. Salah satu semangatnya itu,” pungkasnya.(Aulia’/rif)

Note: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin versi Cetak Edisi Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here