Sajak-Sajak Agus Saputro : Negeri Jungkir Balik

0

NEGERI JUNGKIR BALIK

Negeri Jungkir Balik
Pemimpinya njungkir karena pola pikirnya yang terbalik-balik.
Rakyatnya mikir, pemimpinya mondar-mandir bolak balik.
Rakyatnya bingung karena pemimpinya pada linglung.
Waktu Kampanye dipuja bagai nabi begitu jadi kinerjanya tai babi.

Ini Negeri, Negeri Jungkir Balik
Negeri nyata bukan fiksi.
meski ceritanya bikin geli.
Para mafia pada menerima gaji, konglomerat antri kompensasi,kebijakan politik kaya jual terasi, rakyatnya melongo geli menanti mati.

Ini Negeri, Negeri Amburadul
Penegak hukum semakin mandul, karena sengaja di buat gundul, pisau hukum di buat tumpul biar tidak bikin bingung penguasa otak dengkul.

Ini Negeri, Negeri Canda Tawa
Jadi tersangka masih bisa bergaya.
Punya kuasa serang balik saja.
Paling halal politik adu domba,
Korban satu dapat semuanya.
Penting raja bisa jumawa.
Di depan rakyat bisa bergaya.

Ini Negeri, Negeri Para Tikus.
Iklan bisa menyulap tikus jadi politikus.
Omongan wakil rakyat bau kakus.
Negeri jadi tidak terurus.
Otaknya nya di taruh anus.
Kemampuanya sabatas usap ingus.

Ini Negeri, Negeri Carut Marut.
Tapi jangan di kira rakyat tidak bisa mrengut.
Karena Rakyatnya tidak suka omongan bau kentut.
Apa lagi pengusa sudah saling berebut.
Rakyat marah penguasa tinggal menunggu maut.

2015

AKU SUDRA DARI GUBUK LERENG BUKIT NESTAPA

Menuju sunyi kota rantauku
Senja muram berlari meninggalkan malam
Bising seruling kuda-kuda besi berganti sunyi
Debu-debu jalan bersemayam dalam lelap tepi jalan gelap.

Aku kembali pada nestapa hidup penghalang mimpi indah dalam tidur ku
Rasioku terhenti dalam tirani realita kondisi
Detak semangatku meregang terkoyak pisau kasta dan pedang stigma
Keangkuhan harta mengikis optimis menuju kritis
Keangkuhan kasta membekap percaya berganti derita.

Lamunanku menyeret pada sadar asal diriku dari masa itu
Terlahir dan hidup digubuk bukan istana para paduka
Seorang anak dibesarkan dua orang janda bukan pangeran yang sudah disiapkan mahkota
Berteman kemiskinam tanpa bersahabat dengan harta kekayaan
Bersenandung caci dan cibiran bukan lantunan lagu dan doa pujaan
Lamunanku menghempaskanku dalam lorong gulana seorang sudra.

Silau cahaya purnama menghardik gulana
Tumpukan buku kembali membawaku pada megahnya ide dan narasi yang tak pernah layu
Halaman jurnal merudiksi pesimis yang kian banal
Tarikan pena mendikte jari kaum sudraku untuk merangkai kata laksana titah satria
Senyum kertas putih menyejukan pikirku sesejuk petuah sang brahma
Tertulis sebait kata ” gubuk sudra akan jadi istana satria penyemai ide brahmana ”
Bibirpun bergumam, ” aku sudra dari gubuk lereng bukit nestapa”.

Surakarta, 2018

25 DESEMBER 1999

Kata dan doa terakhirmu kamu untai.
Buku merah pertama anakmu penuh nilai membuat air matamu terurai.
Aku ingat sebiji tahu asin yang hanya mampu menjadi bakti.
Karena anak mu belum mampu memberi budi.

26 Desember 1999.
Saat ingatanmu perlahan memudar
Saat matamu perlahan terpejam
Saat sanak saudaramu mengantar dengan tangisan
Anakmu hanya mampu terdiam dalam kebingunan
Anakmu hanya mampu menebak dalam angan
Anakmu tak mampu membaca pesan di dalam ratapan
Anakmu tak mampu menafsirkan air mata tangisan
Anakmu hanya larut dalam kebingungan.

27 Desember 1999.
Itulah akhir dari semua mula
Perpisahan dimensi kehidupan kehendak esa
Kau berjalan dalam ruang sunyi nan hampa
Karena engkau telah purna menapaki dunia fana
Sekarang engkaulah sunyi yang menjadi sumpah bakti
Engkaulah doa yang menitiskan dua dewa
Engkaulah tangis yang kelak akan menjadi senyum manis
Engkaulah tongkat yang selalu menjadi penguat
Engkaulah mimpi yang selalu menemani sepi
Engkau selalu ada dalam setiap doa dalam sembah sujud
Engkaulah rasul yang di baiat sang kudus dengan nama sujud.

Selamat jalan 16 tahun sudah kita berpisah. Maafkan aku yang belum sempat memberi budi dan bakti. Hanya doa tulus dari sanubari, semoga engkau dalam kasih dan cinta illahi.
Aku selalu merindukanmu…

2018

Agus Saputro, Kabid Hikmah DPD IMM Jawa Tengah Periode 2016-2018.

Note: Redaksi tabloidcermin.com menerima kiriman naskah sastra cerpen atau puisi untuk ditayangkan di rubrik sastra tabloidcermin.com setiap Hari Minggu. Khusus kiriman puisi minimal tiga naskah puisi dengan syarat puisi belum pernah tayang di media cetak atau media online lain-lain. Sertakan foto santai dan data diri, karya sastra dapat dikirim melalui WhatsApp : 08218896796

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here