[Editorial] Meneropong Langkah Muhammadiyah Membela Kaum Lemah

0
Ilustrasi: Salah satu anak asuh dan aktifitas di Panti Asuhan Muhammadiyah. Foto: Istimewa.

DIALOG Kiai Ahmad Dahlan dengan para murid tentang Tafsir Surat Al-Ma’un menjadi cikal bakal lahirnya gerakan Muhammadiyah membela kaum lemah (mustad’afin). Berdirinya sejumlah panti asuhan dan Rumah Sakit PKU tahun 1923 adalah wujud nyata aksi sosial Muhammadiyah saat itu.

Fikih Al- Ma’un disahkan menjadi keputusan Munas Tarjih ke 27 di Malang pada 3 April 2010. Ini sebuah tanda bahwa ajaran esensial Muhammadiyah yang diajarkan sesepuhnya terus dipertahankan kader generasi sekarang. Fikih Al-Ma’un telah menjadi sebuah konsep Muhammadiyah dalam memberdayakan dan mesejahterakan masyarakat, bangsa, dan negara, tanpa mengabaikan kaum lemah seperti anak yatim sebagai landasan awal gerakan sosial Muhammadiyah.

Di Jawa Tengah, jumlah Panti Asuhan Muhammadiyah-‘Aisyiyah tidak kurang dari 146 buah dengan jumlah anak asuh 3000 orang lebih. Panti asuhan Muhammadiyah tersebar di 35 kabupaten di Jawa Tengah. Meskipun belum sepenuhnya panti mencover seluruh anak yatim di Jawa Tengah, jumlah ini tentu harus dibanggakan. Perluasan dan pengembangan panti menjadi PR selanjutnya, dalam hal ini Majelis Pemberdayaan Sosial (MPS) Wilayah Muhammadiyah.

Membela kaum lemah sebenarnya merupakan tugas pribadi setiap muslim. Ajaran mengeluarkan zakat bagi yang mampu, baik zakat fitrah maupun zakat harta, menunjukkan bahwa kaum lemah bukan tugas kolektif. Namun, Muhammadiyah telah membuat sistem, dengan gerakan kepedulian terhadap kaum lemah dilakukan secara kolektif atas nama Amal Muhammadiyah.

Gerakan organisasi ini terbukti telah memiliki dampak yang sangat besar. Di samping bagi kemajuan Muhammadiyah, gerakan amal Muhammadiyah berdampak besar bagi masyarakat. Jika tidak lantaran Muhammdiyah Jawa Tengah, tidak mungkin ribuan anak yatim bisa terpenuhi kebutuhannya oleh personal.

Warga yang peduli terhadap Muhammadiyah secara tidak langsung akan mendapatkan kebaikan yang dilakukan Muhammadiyah. Pemahaman ini tidak lantas mengandaikan bahwa kewajiban warga Muhaammadiyah selesai. Justru sebaliknya, gerakan amal organisasi harus ditransformasikan menjadi gerakan pribadi.

Gerakan pribadi bisa berbentuk dua hal. Pertama, ikut membantu Muhammadiyah dalam gerakan kepedulian kepada sesama melalui gerakan organisasi. Kedua, mengambil nilai-nilai gerakan Muhammadiyah menjadi gerakan pribadi yang dilakukan untuk masyarakat sekitar.

Jika dua gerakan ini dimiliki setiap warga Muhammadiyah sekaligus, maka amal Muhammadiyah tidak hanya dikenal secara organisasi, tetapi secara personal yang menunjukkan kesempuranaan kader Ber-Muhammadiyah. [Redaksi]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here