[Laporan Utama] Pati Asuhan Muhammadiyah: Menebar Kasih, Mengasuh Kaum Lemah

0
Salah satu kegiatan di Panti Asuhan Muhammadiyah. Sumber Foto : https://safaripanti.wordpress.com/

Membela kaum lemah (mustad’afin) menjadi ajaran yang paling ditekankan oleh Muhammadiyah, sejak awal berdirinya sampai sekarang. Konsistensi gerakan sosial yang berangkat dari pengalaman Surah Al-Ma’un ini dibuktikan dengan terus berkembangnya panti asuhan milik Muhammadiyah, tak terkecuali di Jawa Tengah.

KIAI AHMAD Dahlan (1868-1923) dalam satu pengajian tafsir pernah membuat muridnya bertanya-tanya. Saat itu, pendiri Muhammadiyah ini, secara berulang menafsirkan surah Al-Qur’an Surah Al-Ma’un tanpa beralih ke lain surah.

“Pak kiai, pengajiannya kok membahas Al-Ma’un terus, kapan mengaji surat lain?” tanya Murid.

“Sudahkah kamu mengamalkan surat ini?” KH. Ahmad Dahlan balik bertanya.
Murid menjawab sudah. “Saya sudah menggunakan surat ini dalam salat saya dan suka membacanya berulang-ulang di rumah,” jawabnya.

“Bukan begitu, sudahkah kamu mengamalkan kandungan surat ini? Sudahkah kamu peduli pada anak yatim di sekitarmu? Sudahkah kamu memberi santunan terhadap orang miskin di sekitarmu?” jelas Kiai Dahlan.

Murid akhirnya paham maksud sang kiai. Dari dialog itu pula para murid mengerti bahwa Al-Quran tidak hanya menyangkut dimensi kognitif, tetapi sekaligus sebagai pedoman bagi aksi sosial. Mulailah para murid mencari orang-orang miskin dan anak yatim di sekitar Yogyakarta untuk disantuni dan diperhatikan. Inilah cikal bakal berdirinya panti asuhan dan Rumah Sakit PKU tahun 1923, salah satu perwujudan dari aksi sosial Muhammadiyah.

Muhammadiyah menjadi pelopor gerakan filantropi atau pembelaan pada kaum mustad’afin di Indonesia, sebuah entitas yang tetap menjadi ruh perjalanan gerakan sepanjang masa. Pemahaman Tafsir Al-Ma’un mengkristal dalam bentuk teologi dan tauhid sosial Muhammadiyah. Dari tafsir ke teologi kemudian kepada fikih Al-Ma’un.

Amanat Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang tahun 2005 meminta Majelis Tarjih menyusun konsep Teologi Al-Ma’un diterima dan disahkan menjadi keputusan Munas Tarjih ke 27 di Malang pada 3 April 2010 dengan perubahan nama menjadi Fikih Al-Ma’un.
Secara umum Munas Tarjih ke-27 menyepakati bahwa sistematika Fikih Al-Ma’un ada dalam “Kerangka Amal Al-Ma’un” yang berupa penguatan dan pemberdayaan kekayaan fisik, moral, spiritual, ekonomi, sosial dan lingkungan. Kemudian “Pilar Amal Al-Ma’un” terdiri dari rangkaian berkhidmat kepada yang yatim, berkhidmat kepada yang miskin, mewujudkan nilai-nilai salat, memurnikan niat, menjauhi riya’, dan membangun kemitraan yang berdayaguna.

Sementara “Bangunan Amal Al-Ma’un” yang disepakati adalah untuk kesejahteraan individu yang bermartabat, mensejahteraan keluarga (keluarga sakinah), kesejahteraan masyarakat yang berjiwa besar, kesejahteraan bangsa dan negara.

Di Muhammadiyah terdapat Majlis Perberdayaan Sosial (MPS) yang diamanati membela kaum mustad’afin. Ada lima model pelayanan sosial yang digunakan, yakni, santunan keluarga, asuhan keluarga, panti sosial, rumah perlindungan sosial anak, rumah singgah, dan balai kesejahteraan sosial.

Dari keenam model pelayanan, panti sosial yang di dalamnya tercakup panti asuhan menjadi garapan yang dipandang paling potensial untuk diberdayakan.

Optimalisasi Panti Asuhan

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 menyebutkan, terdapat 766 panti asuhan di Jawa Tengah. Rinciannya, sebanyak 715 milik swasta dan 51 panti asuhan milik negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 146 panti asuhan dimiliki dan dikelola Muhammadiyah dan Aisyiyah.

“Secara fisik berkembang cukup baik. Secara program juga berjalan. Yang kita tingkatkan saat ini adalah pemberdayaannya,” jelas Ketua Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PWM Jateng Muhammad Syamsuddin, saat ditemui di sela-sela Rapat Koordinasi Wilayah di Hotel Foustine, Jln. Gajah Raya, No.88, Kota Semaranag, Sabtu (16/03).

Pria yang pernah bekerja di Dinas Perdagangan Kota Semarang ini menjelaskan, fokus garapan MPS PWM Jateng saat ini adalah pemberdayaan. Sejumlah kegiatan menuju ke arah sana sudah dilakukan. Di antaranya, mengadakan pelatihan e-Commerce yang diikuti kepala dan pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Hal ini dilakukan dalam rangka membuka potensi panti asuhan dalam merambah wirausaha daring.

“Panti itu mempunyai potensi yang cukup banyak. Asetnya juga berlimpah. Makanya kita berdayakan,” tambahnya.

Penguatan hubungan antar-panti asuhan Muhammadiyah-Aisyiyah juga sudah dilaksanakan. Wujudnya berupa kegiatan Jambore panti asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jateng. Kegiatan ini sudah berlangsung dua kali. Pertama, di Bumi Perkemahan Pakis Adhi, Kabupaten Jepara pertengahan 2018. Kedua, yang sebelumnya juga sukses digelar pada 2017, di Bumi Perkemahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Prioritas Utama

Ditemui di tempat yang sama, Sekretaris MPS PWM Jateng Muhammad Nasihin memandang, perkembangan panti asuhan diukur dari keberhasilannya meningkatkan jumlah. Dia mencontohkan, di Kabupaten Semarang duhulunya hanya ada tiga panti asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Sekarang, Sudah berkembang menjadi tujuh panti asuhan.

“Itukan perkembangan yang luar biasa, satu kabupaten ada tujuh panti. Mereka mampu berdiri sendiri-sendiri,” ungkapnya, Sabtu (16/3/2019).

Contoh lain, panti asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah di Magelang. Kabupaten tersebut memiliki 13 panti asuhan, sangat jauh jika dibandingkan dengan kota Semarang yang hanya ada tiga panti asuhan. Satu dikelola oleh Muhammadiyah dan dua dikelola oleh Aisyiyah.

Menurut Dosen Akademi Statistik Muhammadiyah Semarang ini, jika dilihat dari sisi kulitas, maka perkembangan panti asuhan Muhammadiyah-Aisyiyah sangat beragam. Ada yang perkembangan menanjak betul seperti Panti Asuhan Putri Aisyiyah yang berada di Tuntang Kabupaten Semarang. Akreditasi yang dimiliki sudah A plus.

Jika akreditasi A plus, lanjutnya, berarti pendidikannya sudah cukup baik, sarana dan prasana memenuhi. Makanya, tolak ukur perkembangan menurut Nasihin adalah, kalau sebuah panti bisa terus bertambah secara kuantitas.

“Isi pendidikannya, sebenarnya ya biasa aja kalo habis subuh ada ngaji bareng, mandi sekolan, sore ada ngaji, lalu. Kegiatan kegitan dalam keterlibatan Muhammadiyah yang cukup penting,” imbuhnnya. (Aulia’/rif).

Note: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin Cetak Edisi Maret 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here