Mewujudkan Gerakan Budaya Literasi Kader IMM

0
Dewan Pimpnan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD-IMM) Jawa Tengah. Foto: Istimewa.

Oleh Siti Nuratika Ambarsari*

IKATAN Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu ortom (organisasi otonom) Muhammadiyah dari eksponen mahasiswa yang bergerak di bidang dakwah dan pengkaderan. Gerakan dakwah IMM amar ma’ruf nahi munkar dengan memakai trikompetensi dasar yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Dalam pergulatannya, perjuangan dalam struktur IMM terdapat beberapa koreksi dan evaluasi berkaitan dengan wewenang dan kebijakan pimpinan IMM.

Nilai-nilai budaya keilmuan menjadi pijakan yang tidak ada henti-hentinya bagi kader ikatan dalam menjalankan tugasnya sebagai pelengkap dakwah Muhammadiyah. Dalam ranah inilah gerakan budaya keilmuan perlu di angkat secara mendalam dalam proses pengkaderan sehingga sumber daya melimpah kedepannya. Maka dari itu budaya merupakan sisi untuk mempermudah pembentukan profil identitas dalam pengkaderan.

Konsep Islam modern adalah reformulasi pemikiran Islam yang berdampak pada hadirnya Islam pada wacana dan realitas zaman yang terus berkembang. Islam menjadi agama yang relavan kapanpun dan dimanapun (shalihun ‘ala kulli zaman wa makan). Dengan model berpikir Islam modern ini Ahmad Dahlan kemudian mengaplikasikan ke dalam praktek nyata. Kemudian lahirlah teologi Al-Maun sebagai spirit Muhammadiyah dalam melakukan aksi nyata seperti menghadapi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan dengan mendirikan sekolah Islam formal.
Ahmad Dahlan meyakini pendidikan adalah kata kunci dan merupakan pangkal dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Lembaga pendidikan Islam formal menjadi gebrakan awal pemikiran Ahmad Dahlan di tengah kejumudan berpikir kala itu.

Merespon pandangan Drs. Mohammad Djazman Alkindi, orang menjadi peka dan cepat beraksi karena menganggap bahwa perubahan merupakan ancaman yang akan mendistorsi nilai-nilai idiologi yang dianut. Artinya, jika kita mempunyai pandangan tentang perubahan sosial, senantiasa muncul gagasan atau ide pembaharuan yang berusaha menjembatani antara idiologi yang masih eksis dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi. Ancaman distorsi inilah yang nantinya kita minimalisir dalam setiap kajian budaya keilmuan.

Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr menyampaikan alternatif terbaik guna mengatasi keadaan ini, yaitu dengan menjadikan kalangan intelektual dengan spesifikasi khusus itu sebagai Nucleus tersebut. Diharapkan dapat meregenerasi dan memproduksi jenisnya secara lebih banyak, secara berlipat ganda. Maka tugas fungsi pokok budaya keilmuan inilah yang nantinya memproduksi, melakukan proses pengkaderan dalam keilmuan.

Menandai Budaya dalam Ikatan

Cara hidup pada kelompok yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke genaerasi merupakan karakteristik pembangunan budaya. Koentjaraningrat mengartikan budaya sebagai semua sistem ide, gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang di hasilkan manusia dalam kehidupan masyarakat yang nantinya dijadikan klaim manusia dengan cara belajar. Belajar dapat diartikan pula proses berilmu. Proses berilmu tidak hanya didapat dari buku tetapi juga di dapat peradaban-peradaban yang ada.

Budaya dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah masih relavan dan tidak lebih jauh dari nilai dasar pemikiran Ahmad Dahlan. Bahkan, sosok dari pendiri ikatan, Djazman Al Kindi, memberikan fondasi berfikir menekankan ilmu amaly, amal ‘ilmy. Pemikiran beliau masih relavan untuk kita kembangkan sampai sekarang. Sampai muncul istilah “jangan mengaku kader Ikatan kalau belum membaca minimal sepuluh lembar dalam sehari”.

Sedemikian pula terdapat pengkaderan formal dalam literasi. Contoh di cabang IMM Sukoharjo membuat pengkaderan baret merah. Formulasi baret merah ini menandai budaya ilmu menjadi prioritas dalam ikatan. Contoh lain di cabang Surakarta terdapat rumah singgah mahasiswa dengan nama Griya Pena. Griya Pena ini merupakan perpustakaan, tempat diskusi, mengkaji, dan sekaligus rumah singgah yang mempelopori kegiatan pemikir dalam Ikatan. Di sinilah benih-benih pendidikan budaya keilmuan tertanam. Dan banyak contoh lainnya di beberapa cabang seluruh Indonesia.

Permasalahannya, potensi ini masih belum dirasa mempunyai bangunan yang dinamis. Masih sedikit tradisi budaya literasi yang tertanam secara menyeluruh di setiap kota dalam tahapan perkembangan organisasi. Cabang-cabang dalam tahap perkembangannya perlu membentuk bangunan gerakan yang permanen untuk kegiatan kristalisasi keilmuan.

Untuk memformulasikan gerakan budaya keilmuan maka dibutuhkan ide gagasan kelompok membaca diskusi dan menulis dalam formulasi madrasah literasi. Madrasah literasi yang nantinya dapat mewujudkan untuk mengarahkan berjalannya tradisi budaya ilmu.

Madrasah Literasi

Madrasah secara etimologi berarti sekolah atau perguruan yang biasanya berdasarkan agama Islam. Dalam bahasa Arab, dari kata dasar “darasa” yang artinya “belajar”. Madrasah berarti tempat untuk belajar. Kemudian yang dimaksud dengan literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktifitas membaca dan menulis.

Dalam hal ini arti madrasah literasi dalam pemaknaan mahasiswa Muhammadiyah adalah tempat belajar mengasah potensi dan keterampilan dengan membaca, mengkaji, menulis untuk merespon pemikiran gagasan baru guna muncul gagasan baru dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi.

Harapan dari madrasah literasi yakni: pertama, terciptanya transformasi ideologi dan identitas IMM dalam memperkuat intelektualitas menuju Blora yang dinamis. Kedua, berkembangnya tatanan kehidupan global yang adil, damai, dan bermartabat serta semakin proporsional peran dan tanggung jawab Masyarakat satu terhadap kondisi masyarakat yang lain.

Ketiga, Terciptanya perkembangan IMM sebagai gerakan intelektualitas yang berkualitas utama (unggul) dalam melaksanakan misi dakwah dan tajdid yang ditujukan oleh keunggulan pelaku gerakan, sistem gerakan, organisasi dan kepemimpinan, jaringan, dan aksi gerakan. Gambaran inilah yang merupakan hasil akhir dari maksud desain “Mewujudkan Kader IMM Sebagai Gerakan Budaya Keilmuan”. []

*Ketua Umum PC IMM Blora

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here