Perguruan Tinggi Muhammadiyah Lebih Banyak Dibanding PTN di Bawah Kemenristek Dikti

0
Sekjend Kemenristek Dikti RI Ainun Naim menghadiri peresmian Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan di Aula Stikes Pekajangan, Jalan Aboekambang Nomor 8 Pekalongan, Sabtu (29/6/2019). Foto: Miftah.

TablodCermin.Com, Pekalongan – Sekretaris Jenderal (Sekjend) Kemenristek Dikti Republik Indonesia Ainun Naim menyanpaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas kiprah Muhammadiyah dalam memberi layanan Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia.

“Persyarikatan Muhanmadiyah paling aktif melakukan pembenahan untuk bisa memberikan layanan perguruan tinggi yang lebih berkualitas,” kata Naim saat peresmian Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) di Aula Stikes Pekajangan Jalan Aboekambang Nomor 8 Pekalongan, Sabtu (29/6/2019).

Baca juga: Siapakah Rektor Perdana UMPP? Ini Jawaban Ketua Tim Pendiri

Naim juga tidak menampik ungkapan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincolin Arsyad yang menyatakan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah lebih banyak dibanding Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah naungan Kemenristek Dikti.

Data Majelis Diktilitbang PP Muhammaidiyah menyebutkan bahwa Per Juni 2019 PT Muhammadiyah di seluruh Indonesia berjumlah 166. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah naungan Kemenristek Dikti RI yang berjumlah 122 PTN.

“Tadi pak Linkolon menyebutkan PT yang dikelola Dikti 122 PT.
Memang ada yang di bawah kementrian agama yang jumlah 90,” kata ujar Naim.

Baca juga: Pemkab Berharap Berdirinya UMPP Naikkan Marwah Pekalongan

Naim menambahkan, tantangan PT ke depan semakin besar, semakin tinggi, dan semakin konplek. Kemudian, lanjutnya, adanya ketidakpastian yang semakin tinggi.

“Kira-kira 3 bulan lalu kami diskusi rencana stratgis ke depan tentang perguruan tinggi. Kami mendiskusikan bidang-bidang strategis yang bisa dikembangkan. Ada yang menarik, apakah perlu kita menentukan bidang-bidang penting yang diperlukan? sebab masa depan tidak pasti sehingga lebih baik tidak dibatasi. Namun ada yang berpendapat harus menentukan bidang-bidang itu sesuai kondisi masyarakat,” ujar Naim.

Naim menegaskan, perjalanan kedepan sangat dinamis. Bahkan di bidang industri saat ini sudah semakin banyak perusahaan yang memperpendek kerja karena perubahan teknologi menciptakan perubahan kompetensi berbeda yang harus dimiliki oleh karyawan.

“Ada yang mengatakan bhawa perguruan tinggi dalam wujudnya yang sekarang tidak dibutuhkan lagi. Bahkan ada perusahaan yang lebih butuh sertifikat kompetensi dari pada gelar. Artinya apa? perguruan tinggi harus memberikan kepada mahasiswa skill agar bisa berivovasi. Dan saya lihat Muhammdiyah punya potensi besar untuk bergerak ke ranah yang lebih besar lagi,” papar Naim.

Baca juga: Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Ceritakan Alasan Berdirinya UM Pekajangan Pekalongan

Sebelumnya, Mejelis Diktilitbang Iincolin Arsyad menyatakan, jumlah perguruan tinggi Muhammadiyah per juni 2019 menurun dari 173 menjadi 166. Hal itu lantaran terjadi penggabungan beberapa sekolah tinggi menjadi universitas, termasuk penggabungan Stikes Muhammadiyah Pekajangan, STIE Muhammadiyah Pekalongan dan Politeknik Muhammadiyah Pekalongan menjadi UMPP.

“Dengan bergabungnya tiga sekolah tinggi ini, data terakhir per Juni 2019 PT Muhammadiyah menururn jadi 166, dari 173 PT. Beberapa hari lalu di Sukabumi marger 2, jadi satu. Sebelum Universitas Muhammadiyah Jambi. Kami masih menunggu Pringsewu Lampung, gabungan dari tiga sekolah tinggi,” jelas Lincolin.

Namun demikian, bagi Lincolin, penggabungan sekolah tinggi menjadi univeristas tidak masalah meski secara kuantitas dapat menurunkan jumlah PT Muhammadiyah.

“Saya selalu sampaikan ke PP, nggak apa-apa menurun asal kualitasnya baik. Lebih baik kita gabung sehingga jadi PT yang sehat dan kuat,” ujar Lincolin. []

Reporter: Miftah
Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here