Peran Muhammadiyah dalam Mempertahankan Kemerdekaan dan Era Sekarang

0
Mutofa, SH, Ketua Majelis Hukum Dan HAM PDM Kabupaten Pemalang.

Oleh Mustofa. SH

TabloidCemin.Com – Kemerdekaan adalah disaat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan diri tanpa campur tangan orang lain atau tidak tergantung pada orang lain lagi. Menurut Bung Karno kemerdekaan adalah kebebasan untuk merdeka. Artinya setiap bangsa merdeka harus punya untuk menentukan politiknya sendiri, arah dan tujuan sendiri.

Baca juga: IMM Jateng Akan Perangi Hoaks dan Radikalisme di Medsos

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa maka oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Demikian pembukaan UUD 1945 alinea pertama.

Kontek kemerdekaan pada hakekatnya adalah bebas berpikir, berpendapat dari intervensi manapun.

Peran Muhammadiyah Awal Kemerdekaan
Kontribusi pemikiran Muhammadiyah di awal kemerdekaan sangat besar. Keterlibatan muhammadiyah dalam perumusan dasar negara ditunjukkan oleh Ki Bagus Hadikusumo dan Kahar Muzakir dalam ikut keanggotaan BPUPKI guna merumuskan dasar negara dan akhirnya BPUKI diganti PPKI.

Dalam perjalanan ada polemik kalangan Islam dengan kalangan nasionalis, maka untuk mencari solusi dan jalan titik tengah guna mengakomodir semua komponen anak bangsa maka di bentuklah panitia sembilan.

Dan tugas panitia sembilan meliputi: pertama, bertanggung jawab penuh atas perumusan atau pembentukan dasar negara Indonesia Merdeka. Kedua, memberikan saran-saran lisan maupun tulisan , dan disamping itu merumuskan dan menetapkan dasar negara Indonesia merdeka.

Abdul kahar Muzakir, Agus Salim, Abi koesno, Wahid Hasyim para utusan golongan Islam merumuskan dasar negara dengan ide terkenalnya yaitu piagam Jakarta. Maka pada tanggal 22 Juni 1945 rumusan itu terbentuk dengan kalimat “Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya.”

Akan tetapi konsep piagam Jakarta tidak berlangsung lama karena ada pertentangan dari Indonesia Timur dan kalangan nasionalis. Bila tetap piagam Jakarta di berlakukan akan memisahkan diri dari Indonesia. Untuk itu inisiatif Moh Hatta mengajak tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo (tokoh Muhammadiyah), Wahid Hasyim (Tokoh NU) untuk merelakan menghilangkan Syariat Islam di ganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ki Bagus Hadikusumo dibujuk oleh Teman kolega di Muhammadiyah yang bernama Kasman Singodimejo akhirnya mau dan legowo untuk menghilangkan kalimat Syariat Islam bagi pemeluknya demi kepentingan lebih luas yaitu akan kebhinekaan, keberagaman demi Kesatuan Negara Republik Indonesia.

Berarti bahwa umat Islam dan khususnya Muhammadiyah sangat demokratis dalam membangun peradaban bangsa Indonesia pada proses perumusan dasar negara.

Banyak tokoh Muhammadiyah punya peran penting pada awal kemerdekaan semisal Ir Soekarno sang proklamator yang pernah menjadi ketua Dikdasmen di Bengkulu. Panglima jenderal Soediman tokoh yang dilahirkan dan dibesarkan di Hisbul Wathon menjadi panglima untuk mengusir kaum penjajah.

Ir Joeanda dengan terkenal konsep Deklarasi Joenda juga pernah aktif di Muhammadiyah di Bandung pernah mengajar di perguruan Muhammadiyah dan pernah menjabat majelis Dikdasmen di Bandung. Semua itu karena peran tokoh Muhammadiyah di awal kemerdekaan adalah semata mengabdi kepada negara dan bangsa untuk mencapai Indonesia merdeka.

Peran Muhammadiyah Era Sekarang
Muhammadiyah di era sekarang banyak memberikan peran besar kepada negara dalam kaitannya mengisi kemerdekaan Indonesia. Peran Muhammadiyah di era sekarang yaitu dengan hadirnya Amal Usaha Muhammadiyah di seantero negeri.

Data statistik Muhammadiyah menyebutkan bahwa Perguruan Muhammadiyah berupa TK/TPQ berjumlah 4.623 buah, SD/MI 2.252 buah, SMP/MTS 1.111 buah, SMA/MAN 1.291 buah, Pondok Pesantren 67 buah, Perguruan Tinggi 171 buah, Rumah sakit dan
Bersalin 2.119 buah, dan Panti Asuhan 318 buah.

Peran Muhammadiyah dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia sangat besar dalam kaitannya pencerdasan kehidupan bangsa dan pelayanan sosial yang tidak bisa di ragukan lagi. Muhammadiyah dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan sampai merdeka serta pada era sekarang bersifat kontribusi pemikiran dan karya nyata kehidupan dari hulu sampai hilir.

Baca juga: Santri Muhammadiyah Kudus Diterjunkan ke 15 Ranting Bantu Masyarakat dan AUM

Maka pemerintah dalam setiap membentuk kabinetnya selalu memberikan peran tokoh Muhammadiyah untuk berpartisipasi dalam ikut mengelola negara. Prof Mukti Ali menteri Agama di era Soeharto, Prof Bambang Soedibyo di era Abdurahman Wahid, Prof Muhajir Efendi Menteri Pendidikan Nasiona di era Jokowi, Prof Yahya Muhaimin, Prof Malik Fajar, Prof Dr Fadilah Supari Menteri kesehatan. Prof Moh Amin Rais mantan ketua MPR, Prof Buya Syafii Watimpres.

Mengapa memilih tokoh Muhammadiyah? Karena peran besar Muhammadiyah serta tokohnya punya kemampuan manajerial kepemimpinan punya kompetensi, kapable, akseptable, integritas moral yang tinggi sehingga ikut diperankan dalam ikut serta pengabdian bagi ibu pertiwi.

Untuk menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke 48 di Surakarta dengan yang bertema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta” berarti bahwa Muhammadiyah tidak henti-hentinya untuk berperan serta dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan karya nyata, membangun Indonesia yang beradab dan untuk memajukan Indonesia yang makmur loh jinawi, damai aman dan berkeadilan yang bermartabat.

Dirgahayu Indonesia ke-74 menuju SDM Unggul Indonesia Maju. []

Mustofa SH, Guru PPKn SMP Muhammadiyah 02 Comal, Pemalang, Ketua Majelis Hukum Dan HAM PDM Kabupaten Pemalang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here