[Laporan Utama] Merawat Lingkungan Menjaga Keseimbangan

0
Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah bersama Lembaga Lingkungan Hidup PP ‘Aisyiyah dan Penanggulangan Bencana PP ‘Aisyiyah menggelar pernyataan sikap "Bencana Lingkungan Hidup di Indonesia" di Hall 4 Baroroh Baried, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu (22/12/2018) Foto: unisayogya.ac.id.

Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar masih menjadi masalah yang kunjung selesai. Muhammadiyah mempunyai peran penting menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga dan merawat lingkungan demi keseimbangan alam.

PERIODE 2017-2018, Provinsi Jawa Tengah dan 35 kabupaten/ kota melakukan revisi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota. Hingga medio April 2019, dua wilayah sudah mendapati kejelasan RTRW. Sedangkan 14 wilayah lainnya masih dalam tahap revisi, 14 sudah masuk di kementerian, dan 5 wilayah masuk tahapan berikutnya.

Proses revisi Perda RTRW Provinsi Jateng dilakukan untuk memetakan daerah-daerah yang menjadi lumbung pangan, kawasan industri, kawasan hijau lestari, dan daerah wisata secara baik dan tepat sasaran. Namun, beberapa hal memicu kekhawatiran, khususnya tentang alokasi perubahan lahan untuk tambang sebesar dua kali lipat dari alokasi sebelumnya.

Aliansi Masyarakat Sipil untuk Penataan Ruang Jawa Tengah melalui siaran pers yang salah satunya disampaikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang pada Senin, 8 Oktober 2018, menyebut alokasi tersebut mengejutkan. Terlebih saat krisis ekologi terjadi dimana-mana.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk revisi RTRW Jawa Tengah itu mengalokasikan lahan untuk tambang seluas 259.762,19 hektare. Berdasarkan data Dinas ESDM Jateng hingga 2018 Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Jawa Tengah mencapai 133.018,9 hektare. Itu belum termasuk dengan tambang ilegal.

Sepanjang tahun 2015 Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah telah menertibkan 107 praktik pertambangan Galian C atau mineral non-logam dan batuan illegal. Jumlah tersebut tersebar seluruh Kabupaten dan Kota di Jateng.

Semua praktik pertambangan Galian C tanpa izin di daerah yang tidak sesuai dengan tata ruang akan ditutup. Sedangkan yang sesuai dengan peruntukannya tapi belum mengurus izin diarahkan untuk mengurus.

“Meskipun sudah dilakukan penertiban, tapi praktik pertambangan Galian C ilegal diperkirakan masih terus berlangsung sampai sekarang,” kata Kepala Bidang Geologi, Mineral, dan Batubara, Dinas ESDM Provinsi Jateng, Achmad Gunawan, sebagaimana dikutib dari Tribunjateng.com, (07/01/2016).

Kerusakan karena tambang dinilai berkorelasi pada tingginya bencana ekologis yang terjadi. Jawa Tengah selalu yang tertinggi dalam hal jumlah bencana selama delapan tahun terakhir. Untuk kekeringan, hingga 6 September 2018, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah merilis data distribusi air akibat kekeringan. Jumlahnya mencapai 7.191 tangki, meliputi 710 Desa dan 196 Kecamatan se-Jawa Tengah.

LBH Semarang mencatat, dari 34 kasus lingkungan Jateng selama 2017, 16 kasus adalah pencemaran lingkungan. Sementara itu, data aduan pencemaran/ kerusakan lingkungan hidup kota Semarang tahun 2017, mencatat ada 62 aduan. Jumlah tersebut meningkat mengalami penoingkatan dari tahun sebelumnya yang hanya, di angka 52 aduan.

Muhammadiyah Menjaga Lingkungan
Muhamamdiyah menolak segala tindakan yang dapat memicu kerusakan lingkungan. Karena itu, melalui Muktamar ke-44 Tahun 2010, Muhammadiyah telah merumuskan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang salah satu hasilnya tentang kelestarian lingkungan.

Setidaknya ada enam poin penting tentang rumusan tentang lingkungan hidup. Pertama, lingkungan hidup sebagai alam sekitar dengan segala isi yang terkandung didalamnya merupakan ciptaan dan anugerah Allah yang harus diolah/dimakmurkan, dipelihara, dan tidak boleh dirusak.

Kedua, setiap Muslim khususnya warga Muhammadiyah berkewajiban untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe ekosistemnya dan terkendalanya cara pengelolaan sumber daya alam. Sehingga terpelihara kelangsungan dan kelestariannya demi kemaslahatan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan sistem kehidupan di alam raya ini.

Ketiga, setiap Muslim khususnya warga Muhammadiyah dilarang melakukan usaha dan tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam. Termasuk kehidupan hayati seperti binatang, pepohonan, maupun lingkungan fisik dan biotik termasuk air laut, udara, sungai, dan sebagainya yang menyebabkan hilangnya keseimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan.

Keempat, memasyarakatkan dan mempraktikkan budaya bersih, sehat, dan indah lingkungan disertai kebersihat fisik dan jasmani yang menunjukkan keimanan dan keshalihan.

Kelima, melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dalam menghadapi kezaliman, keserakahan, dan rekayasa serta kebijakan yang mengarah, mempengaruhi, dan menyebabkan kerusakan lingkungan dan tereksploitasinya sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan, dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Keenam, melakukan kerja sama dan aksi praksis dengan berbagai pihak baik, perseorangan, maupun kolektif untuk terpeliharanya keseimbangan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan hidup, serta terhindarnya kerusakan-kerusakan lingkungan hidup sebagai wujud dari sikap pengabdian dan kekhalifaan dalam mengemban misi kehidupan di muka bumi ini untuk keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Budiyono mengatakan, sebagai khalifah, sampai kapan pun, manusia punya tanggung jawab menjaga alam semesta. “Termasuk lingkungan hidup, menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya demi keberlangsung anak cucu kita yang akan datang,” katanya kepada Tabloid Cermin, Senin (20/5).

Menurut guru besar Teknik Kimia pada Fakultas Teknik (FT) Undip ini, berbagai upaya telah dilakukan Muhammadiyah dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Upaya itu diwujudkan salah satunya dalam bentuk peyelarasan program sadar lingkungan dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan MLH di tingkat kabupaten/ kota.

“Kegiatannya bisa dalam bentuk penyulusan, sosialisasi, atau teknis langsung,” katanya.

Ia mencontohkan, di Kabupaten Boyolali MLH PWM Jateng telah membuat Unit Produksi Biogas di beberapa Pondok Pesantren Muhammadiyah. Sistem kerjanya, sampah yang diproduksi oleh pesantren akan diolah menjadi gas untuk keperluan, memasak dan lain sebagainya.

“Itu suatu contoh, suapaya tidak mencemari lingkungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PWM Jateng Tafsir menjelaskan, kepedulian Muhammadiyah terhadap lingkungan dapat dilihat dari upaya Muhammadiyah yang telah merumuskan Fiqih Air dan Fiqih Kebencanaan.

Menurut Tafsir, air adalah kunci kelestarian alam karena air menjadi sumber kehidupan. Oleh sebab itu, jika umat Islam mampu membangun tata kelola air, maka berhasil pula membangun tata kelola lingkungan.

“Terlebih, umat Islam merupakan pemeluk agama dengan penggunaan air paling banyak. Dalam Islam ada wudlu, mandi wajib dan mandi sunnah,” terang Tafsir, Jumat (24/5). (Aulia’/rif).

Keterangan: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin cetak edisi Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here