[Editorial] Belajar dari Wakaf Produktif PRM Longkeyang

0
Potret Wakaf PRM Longkeyang. Foto: Istimewa.

TabloidCermin.Com – Pengelolaan wakaf yang dilakukan Muhammadiyah telah berkontribusi besar bagi umat. Persyarikatan Muhammadiyah telah memiliki berbagai aset berupa lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia, dan beragam bentuk amal usaha yang lain.

Keberhasilan Muhammadiyah ini tidak luput dari perwakafan yang dikelola Persyarikatan. Muhammadiyah berusaha memanfaatkan tanah-tanah wakaf. Selain untuk sarana ibadah, perwakafan Muhammadiyah digunakan untuk sarana sosial.

Meskipun begitu, pengelolaan wakaf sampai saat ini belum bisa dikatakan maksimal. Artinya, masih banyak hal yang perlu dikerjakan Muhammadiyah. Seperti pembedayaan tanah yang masih kosong untuk kegiatan-kegiatan dan program-program yang produktif. Pemanfaatan tanah wakaf Muhammadiyah tidak harus berupa sekolah atau rumah sakit. Program produktif dapat berupa apa saja sesuai dengan potensi daerah.

Dalam hal ini, pengelolaan wakaf produktif yang dilakukan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Longkeyang Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang dapat menjadi contoh. Wakaf produktif di PRM ini dimulai dengan iuaran receh sebesar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu rupiah per bulan. PRM Longkeyang juga mengoptimalkan wakaf berupa tanah, pohon, dan tanaman. Aset-aset tersebut terus dikembangkan dan keuntungannya digunakan untuk membeli tanah.

Gerakan ini terbukti berhasil. Tanah PRM Longkeyang yang semula hanya 1000 M Persegi kini sudah mencapai 3 hektare. Presentase tertinggi dalam kepemilikan tanah di Desa Longkeyang. Tanah tersebut terus dikelola secara produktif. Muhammadiyah Longkeyang pun mendapat penghargaan sebagai Pengembangan Ranting Alternatif oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2018. (Baca: Potret Muhammadiyah di Pelosok Longkeyang: Pelopor Wakaf Produktif, dari Iuran Receh hingga Lahan Cengkeh ).

Apa yang dilakukan PRM Desa Longkeyang ini dapat menjadi rujukan bagi PRM, PCM, maupun PDM di Jawa Tengah dalam mengelola dan mengembangkan wakaf produktif. Tentu saja harus disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Misalnya, gerakan kaum Muda Muhammadiyah di Desa Ketanonageng, Sragi, Pekalongan, yang baru-baru ini mulai bergerak mengelola sapi dan kambing khusus memenuhi kebutuhan Hewan Qurban.

Disamping menyambut gagasan Majelis Wakaf dan Kehartabendaan (MWK) PWM Jateng yang menginginkan agar setiap PDM punya wakaf produktif, tujuan wakaf produktif untuk mengembangkan aset-aset Muhammadiyah yang ujungnya tidak lain untuk kemashalatan umat. Ini menjadi tugas warga dan kader Muhammadiyah sebagai bentuk Amar Ma’ruf yang telah diajarkan Muhamamdiyah. Selanjutnya, baca laporan terkait kondisi perwakafan Muhammadiyah Jawa Tengah: Denyut Nadi Umat di Tanah Wakaf [redaksi]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here