Dalil dan Ketentuan Zakat Properti Menurut Muhammadiyah

0
Dalil dan Hukum Zakat Properti. Ilustrasi: Istimewa.

TabloidCermin.Com – Kewajiban mengeluarkan zakat merupakan salah satu dari sekian permintaan Allah yang wajib dilakukan untuk seluruh hamba-hamba-Nya yang meminta beriman kepada-Nya. Perintah untuk mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang dikeluarkan. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an telah disetujui, misalnya dalam surat Al-Baqarah ayat 43:

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk (Qs Al-Baqarah [2]: 43).

Baca juga: [Laporan Utama] Denyut Nadi Umat di Tanah Wakaf

Kewajiban mengeluarkan zakat juga membantu untuk mengatur dan menyalurkan jiwa bagi pemilik kekayaan tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Taubah Ayat 103:

Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka (Qs At-Taubah [9]: 103).

Selain itu ada juga hadits Rasulullah SAW.

Artinya: “… Dari Abu Hurairah (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah melihat bersabda: Jika kamu telah mengeluarkan zakat hartamu, maka kamu harus sudah melaksanakan… [HR. At-Tirmidzi: 561, dan Ibnu Majah: 1778].

Salah satu jenis kekayaan yang banyak dimiliki oleh sebagian besar orang saat ini adalah kekayaan jenis properti.

Properti berasal dari Bahasa Inggris properti yang berarti sesuatu yang dapat dimiliki seseorang. Di Indonesia, istilah properti identik dengan real estat, rumah, tanah, ruko, gedung, atau gudang. Properti dalam KBBI adalah tanah dan bangunan dengan prasarana dan prasarana yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanah dan/atau bangunan yang meliputi; tanah milik dan bangunan.

Properti dibagi menjadi dua yaitu, properti yang mengandung barang dan properti yang sebaliknya bukan barang. Properti yang mengandung barang: adalah semua benda yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang terkait dengan pihak lain (pemerintah) atau yang disetujui oleh adat. Properti yang mengandung bukan barang: semuanya dibuat oleh individu atau kelompok, seperti karya ilmiah, dan ini sering disebut kekayaan ilmiah.

Sementara pengertian properti menurut ulama fiqh seperti yang dikemukakan dalam buku Wahbah alZuhaili al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu adalah harta yang telah diinvestasikan untuk pembangunan pabrik-bangunan untuk disewakan, pabrik-pabrik, sarana transportasi udara, laut, darat dan sebagainya.

Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fiqh Zakat mengistilahkan kegiatan ini dengan al-Mustaghallat atau investasi, baik untuk disewakan maupun melakukan kegiatan produksi yang kemudian dijual. Dia mencontohkannya dengan perumahan, alat transportasi yang disewakan, bahkan juga pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai komoditas untuk kemudian dijual di pasar-pasar. Dikatakan pula bahwa properti disebut juga dengan investasi.

Termasuk harta yang termasuk dalam kategori investasi yaitu:

1. Rumah yang disewakan untuk kontrakan atau rumah kos, hotel, gedung, gudang, dll;
2. Kendaraan seperti angkot, taksi, bajaj, bus, kapal, kapal laut, bahkan pesawat terbang;
3. Pabrik dan industri yang memproduksi barang-barang; Lembar-lembar saham yang nilainya akan berubah;
3. Tanah yang disewakan;
4. Hewan-hewan yang diambil Manfaatnya seperti kuda sebagai penarik, atau domba yang diambil bulunya.

Pada saat menyetujui mengeluarkan zakat dari harta kekayaan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Milik Penuh
2. Berkembang
3. Cukup satu nisab
4. Lebih dari kebutuhan biasa
5. Bebas dari hutang
6. Berlalu satu tahun (haul)

Berdasarkan keterangan di atas, dapat diketahui bahwa salah satu syarat yang diperlukan adalah zakat yang harus disetujui pihak yang berkembang, yaitu harta yang memberi keuntungan atau pemasukan. Hadis Nabi dijelaskan sebagai berikut:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra (diriwayatkan) dari Nabi saw bersabda: Tidak ada kewajiban zakat bagi para muslim di budak dan kudanya [HR. alBukhari: 1371].

Dalam hadis di atas, sebagai seorang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat bagi para pejantan dan kuda yang ia miliki, karena dua jenis tersebut merupakan harta yang tidak dikembangkan, akan tetapi hanya digunakan untuk kepentingan si pemilik pribadi.

Dari hadis di atas juga beberapa ulama menyetujui rumah, tempat tinggal dan pengalihan serta kendaraan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini karena harta dibuat untuk kepentingan konsumsi pribadi, bukan untuk dikembangkan atau diinvestasikan.

Sejauh yang kami bahas juga tentang harta dalam bentuk yang diinformasikan adalah tumbuh dan berkembang, demikianlah yang diperlukan untuk mewajibkan zakat diperlukan. Oleh karena itu rumah yang disewakan, kendaraan yang disewakan, dan tanah yang disewakan, wajib dikenakan zakat kerena dikategorikan sebagai harta yang berkembang.

Jika kekayaan ini membentuk rumah kontrakan, kendaraan, dan pabrik atau investasi yang sejenis, maka yang dikeluarkan zakatnya adalah hasil sewa atau hasil produknya. Jumlah uang yang diperlukan dizakati adalah setelah dihitung dengan kebutuhan primer seperti sandang, makanan, papan, perumahan, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 219 sebagai berikut:

Artinya: “… Dan mereka meminta kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan, Katakanlah: kelebihan dari apa yang dibutuhkan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu menerima” (Qs Al-Baqarah 2]: 219).

Kata ‘al’afwa’ di dalam ayat di atas memiliki makna “kelebihan dari apa yang dibutuhkan”, sehingga dapat disangkal yang diharuskan dikeluarkan zakatnya bukan dari seluruh harta milik, akan tetapi setelah diperdebatkan dengan kebutuhan apa yang telah tersedia di atas. Dalam sebuah hadis dikatakan:

Artinya: “… Dari Az-Zuhriy (diriwayatkan) ia berkata telah melaporkan kepada saya Sa’id bin Al-Musayyab tentang dia mendengar Abu Hurairah ra dari Nabi saw berkata: Shadaqah yang paling baik dari yang sudah cukup. Maka mulailah dengan orang-orang yang menjadi keluargamu. [SDM. Al-Bukhari: 1337].

Berdasarkan hadits di atas, dapat dibahas juga tentang sedekah yang paling baik kualitasnya adalah sedekah yang dikeluarkan dari kelebihan harta yang telah dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Dilihat dari waktu dikeluarkannya pada pemilikan yang berjalan satu tahun atau 12 bulan dalam perhitungan bulan Qamariyah. Jika harta tersebut berkurang di tengah-tengah tahun ini, maka genapnya kembali lagi, maka perhitungan akhirnya dimulai lagi kompilasi genapnya.

Jumlah zakat yang harus dikeluarkan dari kekayaan investasi adalah sebesar 85 gram emas murni (24 karat), maka dikeluarkan zakatnya 2 ½%. Hal ini karena untuk zakat emas, uang perak dan perdagangan, nisabnya disamakan dengan zakat emas. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Dari Ali ra (diriwayatkan) dari Nabi saw… dan kemudian disetujui memiliki dua ratus dirham, dan telah mencapai haul maka diminta berisi zakat lima dirham, dan dipertanyakan apakah berkewajiban dengan bantuan emas sebanyak dua dinar. Maka dari itu, dapatkan uang dua puluh dinar dan telah mencapai haul maka mulailah zakat setengah dinar, kemudian selebihnya sesuai dengan perhitungan tersebut… [HR. Abu Dawud: 13].

Baca juga: [Laporan Utama] Merawat Lingkungan Menjaga Keseimbangan

Berdasarkan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan tentang properti yang merupakan salah satu jenis yang harus dikeluarkan zakatnya, jika telah memenuhi persyaratan dan ketentuan yang dikeluarkannya zakat, setelah sesuai dengan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, perumahan, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan. Jumlah besar zakat yang harus dikeluarkan dari kekayaan investasi adalah dalam jumlah satu tahun mencapai jumlah uang seharga 85 gram emas murni (24 karat), maka dikeluarkan zakatnya 2,5%. [Redaksi]

Keterangan: Diambil dari Suaramuhammadiyah.id. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 2 Tahun 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here