[Lipsus] Muktamar Solo 2020: Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

0
Soft Launching Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di Surakarta Juli 2019. Foto: Suara Muhammadiyah.

Muktamar Muhammadiyah ke-48 akan digelar di Solo. Sidang tertinggi Muhammadiyah yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Juli 2020 tersebut digadang-gadang menjadi acara termegah. Agenda yang diusung pun tak hanya berskala nasional, namun juga internasional.

KEPUTUSAN PP Muhammadiyah Nomor 218/Kep/1.0/B/2017 Tentang Penetapan Tuan Rumah dan Penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-48 menunjuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah sebagai tuan rumah dan Kota Surakarta sebagai tempat penyelenggaraan hajatan lima tahunan itu.

“Jawa Tengah ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar. Bahkan lewat Tanwir di Bengkulu yang lalu telah diputuskan bebarapa hal, baik panitia penyelenggara, panitia pemilihan, termasuk beberapa aturan dan tata tertib sudah diputuskan di Tanwir,” kata Sekretaris PWM Jateng Bisyron Mukhtar kepada Tabloid Cermin, Sabtu (20/7).

Kegiatan Muktamar akan dipusatkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Guna mendukung kegiatan tersebut, saat ini UMS tengah membangun gedung auditorium berkapasitas 7.000 orang. Pembangunan gedung baru yang dimulai sejak medio April 2019 tersebut direncanakan selesai pada Februari 2020. Sehingga, ketika pelaksanaan Muktamar pada 1 s.d 5 Juli 2020, gedung dipastikan dapat digunakan dengan maksimal.

“Diharapkan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah beserta sidang-sidang gabungan dapat diselenggaran di gedung baru tersebut,” kata Bisyron.

Dalam hitungan Bisyron, peserta yang akan hadir di Muktamar berkisar 3.000 orang, ditambah peserta dari Muktamar ‘Aisyiyah sekitar 1.500 orang. Jumlah tersebut belum termasuk tamu undangan, panitia, dan keamanan yang akan dilibatkan selama proses penyelenggaraan Muktamar.

“Peserta dalam ketentuan ad/art bahwa setiap wilayah, daerah, dan cabang sudah ada ketentuannya. Setiap 7 cabang mendapat 1 perwakilan bersama 4 Pimpinan Daerah Muhammadiyah,” jelas pria asal Temanggung ini.

Pemantapan Materi
Ditemui di kediamannnya, Jl. Matoa Raya 2 N. 6, Karangasem Surakarta, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahlan Rais mengatakan, saat ini Muhammadiyah sedang melakukan pemantapan materi yang akan dibawa ke Muktamar. Pihaknya sedang merumuskan pemikiran-pemikiran yang berkembang dengan mengadakan serangkaian seminar di berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

“Seminar mengangkat tema yang berbeda-beda. Kita memulai itu dari Bulan September tahun ini, sampai menjelang Muktamar,” kata Dahlan kepada Tabloid Cermin, pekan terakhir Juli 2019.

Muktamar Muhammadiyah mengangkat tema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”. Tema itu diangkat karena memandang posisi Muhammadiyah yang tidak bisa terpisahkan dari bangsa Indonesia. Dahlan menjelaskan, jika bangsa ini maju maka Muhammadiyah akan akan maju. Jika bangsa ini terpuruk maka Muhammadiyah juga akan terpuruk. Begitu, pula sebaliknya. Di samping itu, dilihat dari sejarah berdirinya Indonesia, Muhammadiyah adalah salah satu bagian dari pendiri republik ini.

“Muhammadiyah dan bangsa Indonesia ini ada dalam satu tarikan nafas dan satu langkah yang harus dipahami dan dijaga dengan sebaik-baiknya,” tegas Dahlan Rais.

Sebab itu, lanjut Dahlan, pembahasan menyangkut Indonesia ke depan akan mendapatkan porsi banyak dalam Muktamar. Saat ini, kata dia, dalam bidang pendidikan dan kesehatan, Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan bangsa lain. Di Asean sendiri, Indonesia masih kalah dengan negara-negara tetangga.

Kondisi yang demikian juga terlihat dalam bidang ekonomi. Menurut Dahlan, ketergantungan Indonesia pada negara lain semakin kuat. Hal ini lantaran Indonesia memposisikan diri sebagai konsumen, bukan sebagai produsen. Keadaan itu, membuat ekonomi Indonesia terus terdesak. Sehingga Indonesia mudah impor dan hutang.

“Ini harus menjadi kesadaran bersama. Jadi amanah konstitusi kemerdekaan itu kan, Allah menganugerahkan kepada kita. Kemerdekaan itu artinya kepercayaan, amanah untuk mengelola sendiri masa depan bangsa ini,” paparnya.

Muhammadiyah untuk Dunia
Agenda lain yang akan dibahas Muhammadiyah dalam Muktamar ada kaitannya dengan paham-paham dalam Islam. Dahlan mengatakan, saat ini umat Islam secara umum mempunyai dua kecenderungan besar, yakni adanya Muslim yang serba tidak boleh (ekstrimis) dan ada yang sebaliknya yaitu serba boleh. Fenomena itu tidak hanya ada di Indonesia, namun juga di banyak negara berpenduduk Muslim.

“Muhammadiyah harus mengingatkan keduanya yang sama-sama tidak menguntungkan umat Islam,” katanya.

Di samping itu, menurut Dahlan, terjadi anomali dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Meski saat ini Iptek begitu maju, namun dalam laju yang sama juga terus menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

“Ini kan menjadi titik lemah. Kemudian orang semakin jauh dari nilai-nilai fitrah manusia. Kasih sayang, penuh kedamaian,” ujar Dahlan.

Oleh karenanya, Dahlan menyebutkan, agenda Muhammadiyah kedua dalam Muktamar juga mencerahkan semesta. Muhammadiyah, kata dia, harus keluar dari himpitan globalisasi yang semakin memperburuk kemanusian.

“Kita tidak boleh diam. Bagaimana kemudian lepas dari himpitan itu dan mengatakan pada dunia bahwa Islam akan membawa pencerahan. Membawa ke kehidupan yang lebih baik. Termasuk pengembangan ilmu pengetahuan,” tandasnya.

Saat ini Muhammadiyah telah hadir di 32 negara. Pimpinan Cabang Istimewah Muhammadyah sebagian telah memiliki kegiatan-kegiatan yang riil. Dahlan mencontohkan PCIM Mesir yang saat ini memiliki penerbitan rutin dari hasil kajian-kajian yang dikembangkannya.

“Umat Islam harus berani secara tegas dan jelas. Konkrit. Tidak bermain pada verbalistik. Ucapan-ucapan belaka. Bagaimana menghadirkan Islam yang santun yang rahmatan lil alamin yang kemudian bersifat wasatiyah (tengah),” papar Dahlan.

Besarnya agenda yang akan dibicarakan Muhammadiyah dalam Muktamar membuat pria yang juga menjabat sebagai Badan Pengurus Harian (BPH) UMS ini tak main-main dalam penyelenggaran. UMS bahkan menggelontorkan dana lebih dari Rp300 miliar untuk membangun infraktur khusus persiapan Muktamar.

“Total anggaran mungkin lebih dari Rp300 miliar. Karena yang kontrak dengan pemborong Rp284 miliar. Sedangkan sebelum itu kan sudah mengeluarkan biaya untuk membangun jembatan, mengurus ijin, sosialisasi, dan macam-macam. Itukan di luar itu,” pungkasnya. (Aulia’/rif)

Keterangan: Laporan ini tayang di Tabloid Cermin edidi cetak Juli 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here