Kontradiktiointerminis Puasa ‘Asyura

0
M. Danusiri/Istimewa

Oleh M. Danusiri

TabloidCermin.Com – Istilah ‘kontradiktiointerminis’ adalah pertentangan dari dalam. Ketika istilah ini digabungkan dengan gabungan kata ‘puasa ‘asyura’ mengandung maksud bahwa dasar pelaksanaan puasa ‘asyura terdapat pertentangan dari dalamnya. Secara praktis menurut kajian teks hadis disebut ta’arruḍul adillah. Maksudnya, dalil tentang pelaksanaan puasa ‘asyura terdapat pertentangan.

Pengertian ‘asyura sendiri adalah tanggal 10 dalam Bulan Muharram. Jadi, puasa ‘asyura adalah puasa satu hari pada tanggal 10 Muharam. Menurut istilah Jawa pasa tanggal 10 sura. Yang dimaksud puasa di sini adalah puasa sebagaimana disyariatkan dalam Islam sebagaimana puasa-puasa sunnah lainnya atau puasa wajib pada bulan Ramadan. Yaitu mencegah untuk makan, minum, berhubungan suami-istri sejak dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Oleh karena itu, puasa ngebleng, puasa mutih, puasa ngrawat, dan puasa-puasa lain yang termasuk kategori nglakoni–non syar’i- tidak termasuk dalam bahasan tulisan ini.

Tahapan Dalil Puasa ‘Asyura
Dalil puasa ‘asyura cukup banyak. Jika hanya dipaparkan dengan model dikotomi sunnah non sunnah tentu yang tampak hanya dua kelompok hadis saling bertentangan satu sama lainnya. Untuk mengurai dalil puasa ‘asyura agar dapat menghasilkan pemahaman proporsional, penulis menerapkan manhaj historia, meskipun tidak menyebut waktu secara akurat melainkan dengan urutan yang kurang lebih mana hadis yang duluan dan mana yang kemudian.
Demikian penjelasannya:

1. Ketika pada awal-awal Rasulullah datang ke Madinah, orang-orang Yahudi telah lama melaksanakan puasa ‘asyura, dengan alasan bahwa hari ini merupakan hari baik karena Allah menyelamatkan Nabi Musa dari para musuhnya. Selanjutnya, Nabi pun, tampaknya secara spontan berpuasa karena berpendapat bahwa beliau lebih berhak untuk berpuasa daripada kaum Yahudi.Dia pun memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.

Demikian hadis dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Nabi saw datang di Madinah. Beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘asyura, beliau bertanya: Apa-apaan ini? Mereka menjawab: Ini hari baik. Pada hari ini, Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, maka Musa berpuasa di hari ini. Selanjutnya beliau berseru: Aku lebih berhak atas Musa daripada kamu semua! Untuk itu, beliau berpuasa dan memerintahkan (kepada umatnya) untuk berpuasa (al-Lu’lȗ u wal Marjan, hadis no. 692).

2. Ketika Rasulullah menyaksikan sebagian kaum Yahudi tidak berpuasa pada hari ‘asyura, justru mereka berhari raya, Rasulullah menganjurkan kepada kaum Yahudi untuk berpuasa ‘asyura sebagaimana sebagian dari mereka yang berpuasa. Anjuran atau perintah ini bukan kepada kaum muslimin, meskipun sebagian ulama menafsirkan perintah/anjuran puasa itu kepada kaum muslimin.

Demikian hadis dari Abu Musa Ra, ia berkata: Pada hari ‘asyura, biasanya dijadikan hari raya bagi kaum Yahudi. Maka Nabi saw. bersabda: berpuasalah kamu (Muttafaqun ‘alaih – Hadis no. 693, al-Lu’ lȗ u wal Marjan).

Pada tahap ini, baik kaum Yahudi maupun kaum muslimin sama-sama dianjurkan berpuasa ‘asyura oleh Rasulullah, dengan tetap berkeyakinan bahwa kaum muslimin lebih berhak melakukan puasa ‘asyura daripada kaum Yahudi.

3. Setelah datang syariat puasa Ramadan, sahabat seperti Ibnu Mas’ud dan al-Asy’as tidak berpuasa pada hari ‘asyura. al-Asy’as membatalkan puasanya.

Hadis berikut menunjukkan ketidakpuasaan keduaanya pada hari ‘asyura, Abdullah bin Mas’ud ra. Ketika didatangi oleh al-Asy’as, ia sedang makan, maka ia ditegur oleh al-Asy-a’s. Ini kan hari ‘asyura? Jawab Ibnu Mas’ud: Dahulu memang diharuskan berpuasa sebelum turun kewajiban puasa Ramadan. Tetapi setelah turun kewajiban Ramadan, puasa ‘asyura ditinggalkan. Karena itu dekatlah kemari, ayo makan (Muttafaqun ‘alaih, Hadis no. 690, al-Lu’ lȗ u wa al Marjan).

4. Tahap selanjutnya menunjukkan bahwa sebagian umat Islam berpuasa sebagian tidak berpuasa. Sangat mungkin apa yang diketahui oleh Abdullah Ibnu Mas’ud belum diketahui oleh semua sahabat, sebagaimana al-Asy’as baru mengetahuinya setelah dijelaskan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud. Sebagian sahabat mengetahui bahwa Nabi mempersilahkan untuk tidak berpuasa atau berpuasa.

Demikian hadis yang menggambarkan kenyataan ini Hadis dari ‘Aisyah Ra. Berkata: Bangsa Quraisy biasa berpuasa ‘asyura di zaman jahiliyyah, sementara itu Rasulullah berpuasa pada hari itu hingga diwajibkan puasa Ramadan. Selanjutnya Rasulullah saw bersabda: Siapa yang akan berpuasa ‘asyura, maka berpuasalah, dan siapa yang tidak berpuasa ‘asyura, makanlah (Hadis Muttafaqun ‘alaih, no 688, al-Lu’ lȗ u wa al-Marjan).

5. Apresiasi puasa ‘asyura di kalangan sahabat secara umum terbelah menjadi dua golongan. Sebagian berpuasa, sebagian lainnya tidak berpuasa. Keadaan ini berlangsung minimal sampai masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah, di bawah khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Disebutkan bahwa, pada musim haji, Muawiyah berkhutbah di Madinah, tetapi waktu itu kurang mendapat tanggapan dari penduduk Madinah karena kurang simpatik pada khalifah. Trauma politik fitnatul kubra masih segar di ingatan kaum muslimin, bahwa prosesnya untuk menduduki jabatan khalifah bermain kurang fair.

Demikian khutbah Muawiyah, hadis dari Muawiyah bin Abu Sufyan Ra, dari Ḫumaid bin ‘Abdurraḥmȃn, bahwa dia mendengar dari Muawiyah bin Abu Sufyan, pada hari ‘asyura di musim Haji, di atas mimbar, ia berseru: Hai penduduk Madinah! Mana para Ulama’mu? Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: Ini hari ‘asyura, sedang beliau tidak mewajibkan kepadamu untuk memuasainya. Tetapi aku berpuasa (hari ini). Karena itu, barang siapa hendak berpuasa, ya, berpuasalah! Barang siapa yang tidak ingin berpuasa, ya, , makanlah (Muttafaqun ‘alaih, hadis no 691, al-Lu’lȗ u wa al-Marjan).

6. Variasi lain Rasulullah agak menganjurkan untuk berpuasa daripada membiarkan tidak berpuasa. Dan cara berpuasa bisa dimulai sesudah sarapan pagi atau bahkan setelah makan siang, tergantung kapan sahabat menerima pengumuman dari utusan Rasulullah. Jadi, pola puasanya tidak seperti puasa wajib Ramadan.

Demikian hadis Nabi saw, dari Salamah bin al-Akwa’ Ra, bahwa Nabi Saw mengutus orang untuk berseru: Siapa yang telah makan, selesaikan makannya, (setelah itu) hendaknya berpuasa. Barang siapa belum makan, maka jangan makan. (HR Muttafaqun ‘alaih, Hadis no 694, al-Lu’lȗ u wa al-Marjan).

Dari ke enam tahap i’lan dari Rasulullah ini dapat dipahami bahwa puasa Ramadan menjadi garis demarkasi mengenai puasa ‘asyura. Sebelum puasa Ramadhan, Rasulullah sangat menganjurkan memuasainya, baik kaum Yahudi maupun kaum Muslimin. Setelah datang kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘asyura menjadi ibadah yang sifatnya keutamaan, bukan kewajiban.

Bagi yang tetap ingin melaksanakan puasa ‘asyura, mereka bisa mengacu pada hadis “Puasa yang paling utama sesudah puasa bulan Ramadan adalah puasa dalam bulan Allah, yaitu puasa Muharram” (Hadis riwayat at-Turmuẓi dari Abi Hurairah, nomor 740; Ibnu Majah nomor 1742, dan Muslim nomor 169).

Dari kehujjahan dalam beragama, hadis-hadis riwayat Imam at-Turmuẓi dan Ibnu Majah ini berstatus lemah menurut kesepakatan Imam Bukhari dan Muslim. Di samping itu, kualitas hadis Muslim masih di bawah dua tingkat dari hadis muttafaqun ‘alaih. Jadi, dasar pelaksanaan puasa ‘asyura lebih lemah dibanding untuk tidak melaksanakannya. Artinya, Dalil tidak melaksanakan puasa ‘asyura jauh lebih kuat.

Tambahan, hadis ini bukan sekedar puasa ‘asyura, melainkan puasa sembarang hari di bulan Muharram, apakah sebagian bulan atau sepenuh bulan, di mana ‘asyura merupakan bagian dari bulan Muharram. Jadi, secara matan tidak berbicara mengenai ‘asyura.

Dapat dinyatakan bahwa puasa ‘asyura boleh dilaksanakan boleh ditinggalkan. Tidak ada penjelasan sanksi atau ekstrimnya azab bagi yang meninggalkan. Demikian juga tidak ada gambaran pahala bagi yang melaksanakannya. Oleh karena itu, toleransi dan saling menghormati antar sesama muslim sangat dianjurkan dalam kaitannya puasa ‘asyura.

Bagi yang melaksanakannya tidak perlu membumbuinya dengan aneka gambaran pahala fantastik yang tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Hendaklah kita sadar bahwa soal pahala adalah perkara-perkara sam’iyyah (eksegesis). Yaitu hak prerogatif Allah dan atau Rasulullah. Selain keduanya tidak memiliki hak sama sekali mengenai perkara sam’iyyah ini. []

M. Danusiri, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PWM Jateng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here