KOKAM Muhammadiyah Sebagai Talenta Terbaik Persyarikatan (Refleksi 54 Tahun KOKAM)

0
Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Delanggu Buya Al Ghazali. (Foto/Dok Pribadi)

Oleh Buya Al Ghazali*

KOKAM : Masak apa hari ini Umi sayang? Abi sudah lapar nich
Istri : Abi sayang … umi sudah siapkan menu istimewa di meja makan.
KOKAM : Alhamdulillah, Umi emang istri yang pengertian …

Sang KOKAM pun bergegas ke meja makan dengan riang gembira penuh harapan istrinya memasak makanan kesukaannya. Namun alangkah terkejutnya ketika membuka tutup meja makan. Dia melihat seragam KOKAM lengkap dengan baretnya. Istrinya pun berkata, “Makan tu seragam KOKAM.”

TabloidCermin.Com – Kutipan anonim anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) di atas merupakan gambaran totalitas anggota KOKAM dalam berjuang dan mengabdi kepada umat, persyarikatan dan bangsa. Sehingga seringkali ia lupa terhadap dirinya dan keluarga.

Realita di lapangan sudah menunjukkan banyak kisah mengenai totalitas KOKAM dalam bertugas. Mereka siap setiap saat kala Muhammadiyah dan umat membutuhkan kehadirannya. Berdiri di tengah panas maupun hujan mengatur lalu-lintas demi kesuksesan dakwah Muhammadiyah. Mereka juga berusaha menjaga amal usaha Muhammadiyah secara fisik maupun ideologi dari ancaman pihak-pihak yang tidak menginginkan persyarikatan ini tumbuh baik dan berkembang.

Para pemuda tegap perkasa ini siap pasang badan menjadi garda terdepan dalam melindungi ulama dan tokoh Islam dari gangguan pihak manapun. Mereka juga rela bergotong-royong membersihkan masjid demi kenyamanan jamaah. Di waktu lain mereka mengumpulkan sampah dan menjualnya. Hasilnya mereka pergunakan untuk menyantuni fakir-miskin walaupun mereka bukan orang berpunya.

Di ranah kebangsaan, KOKAM juga merupakan benteng tangguh NKRI yang selalu siap menjaga dasar negara yaitu Pancasila dari serangan faham komunis dan faham lainnya. Bisa dilihat dari rekam jejak kelahiran KOKAM yang berdiri di Jakarta pada 1 Oktober 1965, pukul 21.30 sebagai badan paramiliter, adalah respons terhadap “Gerakan 30 September 1965” yang dengan nyata sudah mengancam kedaulatan dan dasar negara Indonesia. Komandan pertamanya adalah Letnan Kolonel S. Prodjokusumo waktu itu mengeluarkan tiga instruksi penting: pertama, pembentukan KOKAM di setiap cabang Muhammadiyah dan tiap pimpinan cabang harus memberikan laporan setiap hari ke Mabes KOKAM di Jl. Limau Kebayoran Baru.

Kedua, Angkatan Muda Muhammadiyah disetiap cabang bertanggungjawab atas keselamatan semua keluarga Muhammadiyah di masing-masing cabang; seluruh pimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah agar siap dan waspada menghadapi segala yang terjadi guna membela agama, negara dan bangsa. Ketiga, mengadakan kerjasama yang sebaik-baiknya dengan kekuatan-kekuatan anti Gerakan 30 September.

Apapun kesulitan dan kebutuhan umat, KOKAM akan menjawab dengan satu kata: Siap!. Kesiagaan KOKAM bisa dianalogikan dengan senjata Palugada (apa lu minta gua ada). Waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa siap dikorbankan untuk kepentingan persyarikatan, umat dan bangsa. Terus berjuang dan bergerak dengan semangat ruhul jihad dan ruhul ikhlas.

Muhammadiyah sangat bangga memiliki KOKAM. Loyalitas dan dedikasinya tak perlu diragukan lagi. Tak banyak organisasi keagamaan maupun organisasi kemasyarakatan yang memiliki barisan muda layaknya KOKAM Pemuda Muhammadiyah. Bisa dikatakan, KOKAM merupakan salah satu talenta terbaik dan paling berharga milik Muhammadiyah.

Persyaritakan harus mampu mengelola talenta itu dengan sungguh-sungguh bila tak ingin talenta berharga itu musnah.

Manajemen Talenta
Manajamen talenta merupakan kemampuan organisasi menarik sumber daya manusia (SDM) yang berpotensi tinggi, mengembangkan, dan mempertahankannya untuk memenuhi tujuan organisasi di masa depan. Manajemen talenta merupakan proses untuk memastikan kemampuan organisasi dalam mengisi posisi kunci pemimpin masa depan dan posisi yang mendukung kompetensi inti organisasi. Di sisi lain, manajemen talenta juga perlu memantapkan konsentrasi pada pengembangan talenta untuk melahirkan sekumpulan SDM organisasi yang memiliki keterampilan tinggi dan berkualifikasi (talent pool).

Muhammadiyah perlu menggalakkan program pengembangan talenta dengan program pelatihan, pendidikan, pengalaman kerja, pemberdayaan, dan sebagainya untuk mengoptimalkan potensi dan kompetensi talenta tersebut. Sehingga mereka berkontribusi secara maksimal pada persyarikatan, umat, dan bangsa yang pada saat bersamaan dapat selaras dengan tujuan-tujuan hidup pribadinya.

Manajemen talenta Muhammadiyah merupakan suatu proses berkelanjutan yang meliputi: pertama, membuat rencana kebutuhan SDM. Kedua, membangun citra untuk menarik talenta terbaik dari luar untuk masuk. Ketiga, memastikan talenta yang ada produktif. Keempat, melaksanakan program untuk mempertahankan talenta terbaik. Kelima, orbitasi kader (memfasilitasi talenta secara terus-menerus ke majelis, lembaga, amal usaha, dan semua bagian persyarikatan, pemerintahan serta kemasyarakatan berdampak signifikan bagi keunggulan Muhammadiyah).

Dalam manajemen talenta, Muhammadiyah perlu melaksanakannya secara komprehensif. Dimulai dari proses identifikasi kompetensi inti yang dibutuhkan organisasi. Dilanjutkan dengan proses rekrutmen seleksi yang cermat, tidak hanya berdasarkan kesukaan (like or dislike) pimpinan ataupun dari satu segi keahlian semata.

Pimpinan Muhammadiyah perlu memastikan pula adanya kesempatan bagi talenta terbaiknya untuk terus-menerus mendapatkan kesempatan pengembangan maupu pelatihan, terutama untuk mengembangkan kader-kader pemimpin di internal persyarikatan. Langkah awalnya adalah mengidentifikasi pemain-pemain kunci dan Most Valuable Player (MVP) dalam organisasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Orang-orang inilah yang akan dimasukkan dalam program talent pool.

Fasilitator
Pengembangan ini dapat memastikan keberlangsungan persyarikatan, dimana, Muhammadiyah akan mampu menyiapkan calon pemimpin melebihi kebutuhan persyarikatan. Hal ini penting, karena pemimpin yang bagus pun akan memasuki masa purna tugas dan mengalihkannya kepada suksesornya.

Muhammadiyah tidak perlu khawatir berinvestasi untuk untuk pengelolaan SDM (dengan catatan dikelola secara efektif). Hal tersebut akan mendatangkan keuntungan berupa meningkatnya nilai intangible persyarikatan di mata umat maupun masyarakat dengan kekuatan kompetensi SDM yang mendukung dinamika persyarikatan, umat, masyarakat maupun bangsa dan negara.

Sebuah organisasi “pemenang” memiliki ciri pola pikir manajemen modern dan memahami bahwa faktor pembeda kinerja sesungguhnya adalah adanya talenta-talenta berkualitas dan merata di semua level. Tidak hanya level tertinggi saja tetapi juga hingga level terrendah. Persyarikatan harus mampu melihat talenta-talenta yang ada KOKAM Pemuda Muhammadiyah maupun ortom lainnya.

Setelah “terciduk” beberapa talenta-talenta terbaik, persyarikatan berperan sebagai fasilitator bagi penyempurnaan talenta tersebut. Dengan modal dedikasi tanpa gaji, loyalitas tanpa batas, ruhul jihad, dan ruhul ikhlas yang dimiliki KOKAM Pemuda Muhammadiyah, maka akan mampu menyokong terwujudnya Muhammadiyah dan Indonesia yang berkemajuan. Fastabiqul Khoirot. []

*Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Delanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here