Memakmurkan Pengajian Muhammadiyah

0

Oleh Tafsir

TabloidCermin.Com – Memahami agama secara benar merupakan sebuah keniscayaan karena agama hadir sebagai pegangan hidup manusia. Jika agama dipahami dengan benar, maka agama akan menjadi petunjuk bagi pemeluknya. Sebaliknya, agama yang dipahami dengan keliru, justru akan membuat pemeluknya celaka.

Lembaga keagamaan memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman agama yang benar kepada masyarakat. Terlebih di era media sosial seperti sekarang ini, dimana, banyak paham-paham keagamaan yang tidak mencerminkan watak Islam telah menjadi bagian yang dikonsumsi masyarakat. Penanaman ajaran agama yang benar menjadi salah satu tugas penting yang perlu terus digalakkan Muhammadiyah.

Muhammadiyah memiliki tradisi tersendiri bagaimana menanamkan ajaran nilai-nilai bagi warganya. Tradisi ini telah berlangsung sejak awal-awal Muhammadiyah berdiri yang dipelopori langsung KH. Ahmad Dahlan. Metode dakwah yang sering digunakan adalah pengajian. Bahkan sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan telah lama mengadakan pengajian. Dimulai sejak menggantikan ayahnya KH. Abu Bakar.

Pengajian yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan saat itu bermacam-macam. Ada pengajian rutin di pondok, pengajian keliling, dan pengajian di rumah dengan cara mengundang masyarakat setempat. Berbeda dengan pengajian pada umumnya, pola pengajian KH. Ahmad Dahlan saat itu dengan cara dialog dan tanya jawab. Dengan maksud agar isi dakwah bisa dipahami secara mendalam sekaligus dapat menjelaskan permasalahan yang belum jelas. KH Ahmad Dahlan merasa perlu memberikan pemahaman keagamaan kepada masyarakat yang pada saat itu kental dengan Takhayyul, Bidah, dan Churafat (TBC).

Tradisi pengajian yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan sampai saat ini masih kita tradisikan. Meskipun begitu, penting untuk dicatat adalah bahwa saat ini kita berada di situasi zaman dimana informasi yang tanpa batas, termasuk persebaran paham keagamaan yang beragam. Persebaran paham tanpa sekat ini berpotensi mempengaruhi dan melemahkan keyakinan warga Muhammadiyah. Maka pengajian di Muhammaidiyah tidak cukup hanya digelar secara rutin sebagaimana telah dilakukan selama ini, tapi perlu terus diperkuat dan dilakukan secara masif.

Membumikan pengajian-pengajian ini sangat penting guna membentengi warga Muhammadiyah agar tetap berada di jalur keyakinan Islam berdasarkan Manhaj Muhammadiyah. Di sisi lain, pengajian juga sebagai sarana ibadah dan menambah wawasan keagamaan.

Pengajian tidak harus dilakukan dengan waktu yang cukup lama hingga mengganggu aktivitas lain yang juga penting. Pengajian bisa dalam bentuk Kultum (Kuliah Tujuh Menit) yang hanya fokus pada satu persoalan, terutama tentang masalah keagaman yang sedang ramai diperbicangan.

Dengan tidak memakan waktu lama, maka kiranya model ini juga akan sangat efektif dan efisien apabila dilakukan dalam setiap kegiatan Muhammadiyah. Misalnya, sebelum rapat, sesudah sholat fardlu, atau sebelum melaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat formal. Dengan begitu maka paham keagamaan warga Muhammadiyah akan tetap terjaga dari pengaruh paham lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Muhammadiyah. []

Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here