Cerita untuk Menumbuhkan Karakter Anak

0
Mustofa, SH.

Oleh : Mustofa, SH

TabloidCermin.Com – Biasanya, sebuah cerita punya makna besar bagi orang yang suka menceritakan masa lalu kepada teman dekat, sohib, sobat ataupun teman lainnya. Si pencerita musti ingin didengar, karena menarik dan mungkin membawa manfaat sebagai pembelajaran dalam hidup.

Cerita sendiri setidaknya ada dua jenis:fiksi dan non fiksi. Fiksi itu cerita khayalan yang dibumbui dengan segala macam cara, rekaan, sehingga para pembacanya jadi menarik. Contohnya novel ataupun cerpen.

Non fiksi sebuah cerita sesuai akurasi data, fakta sesuai realita dilapangan. Non fiksi bukan khayalan atau bualan semata, akan tetapi sebuah kenyataan yang sesuai dengan kehidupan nyata.

Menceritakan segala sesuatu adalah hal lumrah untuk dijadikan sharing atau pengalaman dalam perjalanan hidup yang dilalui. Orang dulu, era delapan puluhan, curhat atau cerita khalayak ramai nggak begitu tahu. Teman dekatpun juga banyak tidak tahu, apa itu? Yaitu buku diary, buku harian atau catatan cerita tiap hari yang didokumentasikan melalui tulisan di buku harian.

Mengapa demikian? sebagai ungkapan isi hati orang lain tidak tahu karena untuk menjaga privacy-nya agar orang lain tidak tahu atau mungkin sengaja supaya tidak tahu guna menjaga nilai kerahasiaan pribadinya.

Tipologi orang untuk diajak cerita ada yang mendengarkan dan menjaga kerahasiaan teman bercerita. Akan tetapi ada orang mau mendengarkan tetapi tidak menjaga amanah untuk tidak diceritakan kepada orang lain,khalayak ramai. Akibatnya menjadi cerita liar, tidak terbendung, meluap kemana-mana. Istilah sekarang, viral.

Bercerita sesuatu enak untuk didengar tergantung siapa yang bercerita dan apa yang diceritakan. Orang yang bercerita, dengan nama kerenya pendongeng, sebut saja misalnya Mochammad Awan Prasojo, Dwi Cahyadi, Kak Seto, Bahana Patria dll. Pendongeng itu mumpuni, piawai dalam menceritakan segala hal. Anak-anak tertarik untuk mendengarkan karena ketertarikan isi cerita. Baik itu cerita hero, inspiratif, maupun motivasi. Semua itu penyemangat anak dalam belajar dengan mengambil isi cerita.

Era kekinian sangat jarang literasi akan buku karya yang mensajikan tentang buku cerita anak-anak. Kemunculan gadget, android memang banyak. Muncul pula aplikasi permainan instant yang bisa didownload dan anak bisa melihat tayangan di aplikasi tersebut tanpa filter dari orang tua kita. Mungkin ada orang tua yang mendampingi anak dalam menggunakan android sesuai kebutuhan seusia anak tersebut, tapi tak banyak.

Era disrupsi semuanya menggunakan alat canggih dengan teknologi tinggi, dengan terkenal era revolusi 4.0. Dengan era tersebut pemerintah perlu memberikan pemahaman tentang kegunaan teknologi bagi anak dengan metode pembimbigan sehingga anak akan tahu bagaimana cara menggunakan dan bisa memilih conten, conten sesuai umur agar tidak melanggar norma, dan agar anak kita tidak culture shock dengan hadirnya teknologi. Dan bisa juga dari Mendikbud membuat alih teknologi aplikasi berkenaan tentang cerita hero,atau yang lainnya sebagai model pembelajaran anak. Istilah sekarang pembelajaran menggembirakan.

Era disrupsi adalah penguatan karakter anak agar ke depan bisa menatap masa depan yang baik gemilang tanpa meninggalkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, dan norma hukum. Ini adalah kunci pendidikan unggul dan berkemajuan.

Tugasnya siapa?
Tugas kita semua element bangsa yaitu keluarga, sekolah,masyarakat ,bangsa dan negara. Keluhuran pendidikan kita adalah menggali nilai luhur budaya kia. Sesuai cita-cita luhur para perintis pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH hasyim Asyari.

Semoga kita menjadi bangsa yang bermartabat unggul disertai budi pekerti. []

Mustofa, Guru SMP Muhmmadiyah 02 Comal, Kabupaten Pemalang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here