Polemik Membaca Surat Yasin untuk Orang Mati (1)

0

Oleh: M. Danusiri

TabloidCermin.Com – Umat Islam terbelah menjadi dua golongan dalam membaca surat Yasin untuk orang mati, apakah ketika sakaratul maut atau sudah mati. Sebagian melaksanakannya sebagai tanda kesalihan, sebagian tidak melakukan dengan alasan antara lain bukan tuntunan Rasulullah. Pada akhirnya, kedua golongan tidak dapat menghindarkan klaim sunnah-bidah. Sunnah untuk golongannya, bidah untuk luar golongannya.

Berikut ini penulis mengetengahkan dasar-dasar mengenai bentuk ritual terhadap orang yang sedang sakaratul maut. Hadis-hadis yang menjadi dasar sejumlah hadis yang menyebutkan bahwa ketika menghadapi seorang muslim yang sedang naza sakaratul maut, hendaklah dituntun membaca tahlil, Laa ilaaha illallah. Hadis yang dimaksud antara lain: لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Tuntunlah orang yang [sakartul maut] mati dengan lafal Laa ilaaha illallah. Hadis ini terdapat dalam: Muslim hadis nomor 1523 dan 1524; at-Turmuẓi hadis nomor 898, an-Nasȃi hadis nomor 1803, Abu Dawud hadis nomor 2710, Aḥmad, hadis nomor 10570, Ibnu Majah hadis nomor:1434, 1435, dan1436, dalam Pustaka Lidwa 9 kitab Hadis).

Sementara itu ada sejumlah hadis yang memerintahkan supaya membacakan surat Yasin kepada orang yang sedang sakaratul maut atau sudah mati, antara lain:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ يَعْنِي يس

Artinya: Bacakanlah untuk orang mati, yaitu surat Yasin.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad hadis nomor, 19416. Semakna dengan hadis ini diriwayatkan oleh: Ahmad hadis nomor: 19427, Ibnu Majah hadis nomor: 1434, 1435, 1436, 1438, Pustaka Lidwa 9 kitab Hadis ).

Pertimbangan
Kelompok yang tidak membacakan surat Yasin menulis demikian: Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (3121), Ibnu Majah (1448), an-Nasai dalam Amalul yaum wa lailah (1082,1083), Ahmad (5/26-27), al-Hakim (1/753), al-Baghawiy dalam Syarhu as-Sunnah (5/295), al-Baihaqiy (3/383), Ibnu Hibban dalam shahihnya (2991).

Semuanya dari jalur Sulaiman at-Taimiy dari Abu Utsman dan Lais an-Nahdiy dari bapaknya dari Maqil bin Yasar secara marfu. Selanjutnya ulasan mengenai derajat hadisnya adalah sebagai berikut: Ibnu Hajar, mengatakan dalam Talkhisul Habir: “an-Nasai dan Ibnu Majah tidak mengatakan, dari bapaknya [bapak Abu Utsman]. Ibnu al-Qathan mencacat hadis ini dengan adanya kegoncangan sanadnya dan mauquf-nya riwayat tersebut serta tidak dikenalnya Abu Utsman dan bapaknya.

Abu Bakar Ibnu al-Arabiy telah menukil dari ad-Daruquthniy bahwasanya beliau mengatakan: Hadis ini lemah sanadnya, asing matannya, dan tidak sah dalam bab ini satu hadispun’ aẓ-Ẓahabiy berkata: “Dikatakan bahwasanya nama Abu Utsman adalah Said. Ia meriwayatkan dari bapaknya dari Maqil bin Yasar sebuah hadis yang berbunyi: اقرأوا على موتاكم يس. Abu Utsman dan bapaknya tidaklah dikenal dan tidaklah meriwayatkan darinya kecuali Sulaiman at-Taimiy.“ Ibnu Qathan, berkata: “Hadis tersebut tidaklah shahih karena Abu Utsman ini tidak dikenal dan tidak meriwayatkan darinya kecuali Sulaiman bin Yasar.

Apabila dia tidak dikenal maka bapaknya lebih tidak dikenal lagi. Padahal dia meriwayatkan darinya. Imam an-Nawawiy berkata: “Sanadnya lemah karena di dalamnya terdapat dua perawi yang tidak dikenal namun Abu Dawud tidaklah melemahkannya.” Syaikh al-Albaniy berkata: “Dalam sandanya terdapat cacat yang lain yaitu kegoncangan sanadnya. Sebagian perawi mengatakan dari Abu Utsman dari bapaknya dan sebagian mengatakan dari Abu Utsman dari Maqil bin Yasar dengan tidak mengatakan dari bapaknya dan bapaknya juga tidak dikenal.”

Selanjutnya disimpulkan bahwa “hadis ini dhaif sanadnya karena ada dua perawi yang majhul, yaitu Abu Utsman dan bapaknya. Selain itu terdapat idhthirab (kegoncangan) dalam sanadnya (Zaenuddin Abu Qushaiy dalam: https://muslim.or.id/25124-derajat-hadits-membacakan-surat-yasin-pada-orang-yang-akan-meninggal.html).

Sementara itu, kelompok yang membacakan surat Yasin pada orang mati berargumen, antara lain: Ibnu Katsir mengatakan bahwa membaca Surat Yasin di dekat orang akan meninggal adalah sebagai berikut:

ثُمَّ قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اِقْرَؤُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ” يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ النَّسَائِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوْجُ الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ – يَعْنِي يس- عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا (تفسير ابن كثير 6 / 562 (“

Imam Ahmad berkata (dengan
meriwayatkan ) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i dan Ibnu Majah). Oleh karenanya sebagian ulama berkata: di antara keistimewaan surat Yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan memudahkannya dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal adalah agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan keluarnya ruh. Imam Ahmad berkata: “Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin tersebut” (Ibnu Katsir VI/342).

Kitab Musnad Ahmad mengenai pembacaan Yasin di samping orang yang akan meninggal adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ ثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَرْثِ الثَّمَالِيَ حِيْنَ اشْتَدّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السُّكُوْنِي فَلَمَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ بْنِ مَعْبَدٍ (مسند أحمد بن حنبل 17010 (

Para guru bercerita bahwa mereka mendatangi Ghudlaif bin Hars ats-Tsamali ketika penyakitnya sangat parah. Shafwan berkata: Adakah di antara anda sekalian yang mau membacakan Yasin? Shaleh bin Syuraih as-Sukuni yang membaca Yasin. Setelah ia membaca 40 dari Surat Yasin, Ghudlaif meninggal. Maka para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan Surat Yasin tersebut. Begitu pula Isa bin Mu’tamir membacakan Yasin di dekat Ibnu Ma’bad” (Musnad Ahmad No 17010).

Ibnu Hajar menilai atsar ini: “Riwayat ini sanadnya adalah hasan” (al-Ishȃbat fi Tamyiz ash-Shahabat, V/324). Ia juga menilai riwayat amaliyah ulama salaf membaca Yasin saat Ghudlaif akan wafat sebagai dalil penguat (syahid) dari hadis riwayat Ma’qil bin Yasar yang artinya: Bacakanlah Surat Yasin di dekat orang yang meninggal (Rauḍah al-Muḥadditsin X/266). Ibnu Hajar memastikan bahwa Ghudlaif adalah seorang sahabat. Sanadnya hasan. Ghudlaif adalah seorang sahabat menurut mayoritas ulama.

Sementara ‘para guru’ yang dikutip oleh Imam Ahmad tidak disebut namanya, namun mereka ini tidak lain antara sahabat dan tabi’in senior. Hal ini bukanlah pendapat perseorangan, tetapi berstatus sebagai hadis yang disandarkan pada Rasulullah (marfu’). Al-Qurthubi menjelaskan: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia memerintahkan agar dibacakan surat al-Baqarah di kuburannya.”

Diperbolehkan membaca al-Quran di kuburan diriwayatkan dari ‘Ala’ bin Abdurrahman. an-Nasai dan yang lain menyebutkan hadis dari Ma’qil bin Yasar al-Madani dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda: Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal. Hadis ini bisa jadi dibacakan di dekat orang yang akan meninggal dan bisa jadi yang dimaksud adalah membacanya di kuburnya” (Taẓkirat al-Qurthubi I/84). Pendapat tentang membacakan surat Yasin kepada orang mati juga didukung oleh: Muhammad bin Ali asy-Syaukani, ‘Athiyah Shaqar, dan Muhammad ash-Shan’ani. (akan berlanjut di bagian dua….)

Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here