Kajian Hukum Zikir Bersuara dan Tidak Bersuara (1)

0
Ilustrasi: Zikir

Oleh M. Danusiri*

TabloidCermin.Com – Di tengah-tengah masyarakat Islam terdapat pola berzikir secara bersuara (jahr) dan pola zikir tidak bersuara (khafi). Pelaku zikir jahr biasanya juga melaksanakannya secara berjamaah, yaitu zikir yang berkomando (imam). Pola zikir ini berkembang sangat bervariasi, seperti: vida’, ‘ataqah, arwah jama’, zikir tahlil, yang kemudian popular dengan tahlilan. Semua jenis zikir yang disebutkan ini selalu identik dengan mengirim pahala kepada orang yang telah meninggal, bahkan juga untuk orang yang masih hidup.

Formula pengiriman pahala ini: Allaahumma taqabbal sa aushil tsawaaba maa qara’naa minal Qur’aanil ‘adhiim wamaa sabbaḥna wamaa hallalnaa wamaa shalainaa ila ruuḥi . . . . (Ya Allah terimalah dan sampaikan (pahala) apa yang kami baca, baik dari al-Qur’anil ‘Adhim, tasbih kami, tahlil kami, dan shalawat kami kepada ruh. . . . . ).

Baca juga: Polemik Membaca Surat Yasin untuk Orang Mati (1)

Sementara pelaku zikir khafi hanya sendirian, atau meskipun tampak berkelompok, namun tetap individual kegiatan zikirnya. Pelaku zikir jahr sangat empirik karena dapat ditangkap suaranya, dapat dilihat kelompoknya (ḥalaqah-nya). Saking empiriknya, pola zikir demikian sering dilakukan secara massal dan ber-load speaker kelas tinggi. Sementara itu pelaku zikir khafi tidak dapat diamati, sehingga seseorang itu sedang berzikir, atau berdoa, atau melamun tidak bisa dibedakan. Akhirnya muncul stigma, entah siapa yang mengatakannya, pola zikir jahr tampak lebih religius, kualitas agamanya lebih mantab, batinnya senantiasa berkesadaran ilahiyah. Sementara non pelaku zikir jahr tampak kering penghayatan religiusitasnya.

Pada kesempatan ini penulis mencoba mengetengahkan argumentasinya masing-masing pihak. Tujuannya tidak untuk memecah-belah umat, melainkan agar masing-masingnya saling memahami sehingga, meminjam istilah Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI dan pelopor ilmu perbandingan Agama RI, agreement in disagreement (setuju dalam keperbedaan). Meskipun begitu, analisis menampakkan kebenaran juga penulis lakukan.

Dasar Zikir Jahr
Banyak dasar yang dikemukakan untuk mendukung pelaksaaan zikir jahr. Namun yang benar-benar mantuq (tektualis) sepertinya tidak ada, kecuali interpretasi yang memang berkecenderungan untuk membenarkannya, antara lain adalah hadis berikut:

a. Ibnu Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ إنْقِضَاءِ صَلَاةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ – رواه البخاري ومسلم

(Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (HR. Bukhari-Muslim).

Secara gramatikal, hadis ini menceritakan bahwa Rasulullah mengakhiri shalat dengan takbir. Jadi secara matan sangat aneh. Setidaknya ta’arruḍ (bertentangan) dengan hadis-hadis lain yang menyebutkan salam sebagai penutup shalat. Seandainya dimaknai zikir sesudah shalat, hadis ini juga merupakan varian lain zikir sesudah shalat yang biasanya istighfar terlebih dulu sebelum melafalkan yang lainnya.

Baca juga: Polemik Membaca Surat Yasin untuk Orang Mati (2-habis)

Selanjutnya, bagaimana jamaahnya bertakbir atau tidak, tidak disebutkan. Ini aneh. Rasulullah beraksi, sahabat tidak mengikutinya. Padahal, beliau adalah uswatun ḥasanah dan beliau selalu diikuti sahabat yang menyaksikannya, kecuali beliau melarangnya. Dari segi sanad, hadis ini merupakan hadis mursal shaḥabi karena berdasar penuturan shahabat, yaitu Ibnu ‘Abbas. Memang boleh dijadikan dasar dalam beribadah kalau jenis hadisnya fi’liyyah sehingga diperlakukan marfu’. Akan tetapi dari segi matan, ada kejanggalan sebagaimana saya sebut ‘aneh’.

b. HR. Bukhari Muslim

أَنَّ رَفْعَ الصّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ – رواه البخاري ومسلم

(Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jamaah selesai shalat fardlu terjadi pada zaman Rasulullah–HR. Bukhari-Muslim).

Hadis ini juga berjenis mursal shaḥabi fi’liyyah, meskipun secara sanadiyyah marfu’. Akan tetapi, matan hadis ini tidak eksplisit menyebutkan lisan Nabi. Jadi, tidak qath’i bahwa Nabi melakukan zikir jahr.

c. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

كنت أعلم إذا انصرفوا بذالك إذا سمعته – رواه البخاري ومسلم

(Aku mengetahui bahwa mereka setelah selesai shalat dengan mendengar suara berdikir itu. (HR Bukhari-Muslim).

Hadis ini sama posisinya dengan hadis nomor I dan 2 di atas. Pesannya juga sama, artinya tidak merupakan informasi bahwa Rasulullah melakukan zikir keras.

Kesimpulannya, zikir bersuara keras dari Rasulullah sesudah shalat atau di luarnya tidak atau minimal kurang jelas. Dengan tidak mengatakan iḥdas atau bid’ah. Salah atau benar, tradisi tahlilan di luar sesudah shalat seperti tiap malam Jumat atau mengiringi hari-hari tertentu berkenaan dengan kematian tidak ditemukan perintah, anjuran, atau larangan dari Rasulullah. Mungkin sekali, meminjam istilah kaum hermenutis, di luar kawasan yang dipikirkan oleh Rasulullah semasa beliau masih hidup.

Dasar Zikir Khafi
Pelaku zikir khafi menggunakan sejumlah dalil, antara lain:

a. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 205: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. at-Taubah/9:205).

Kandungan ayat ini dapat disebutkan sebagai berikut:
1). Perintah menyebut atau mengingat Allah di dalam jiwa dengan kata lain dalam batin
2) Dalam berzikir dilandasi rasa rendah diri di hadapan Allah
3) Dalam berzikir dilandasi rasa takut di hadapan Allah
4) Dalam berzikir tidak menggunakan suara keras
5) Boleh berzikir di waktu pagi atau sore, dengan kata lain kapan saja
5) Peringatan jangan sampai lalai tidak berzikir.
6) Terkandun makna jangan lalai aturan pelaksanan berzikir

Kesimpulannya, berzikir itu sepenuhnya dalam suasana hati, rasa hina, dan rasa takut. Zikir semacam ini sangat kontras jika dibandingan dengan zikir bersuara. Mengapa? Dalam zikir bersuara bisa, dan ini sudah terjadi, dilagukan, berirama mars dan menghentak, bergoyang kepala, bahkan ada yang berjoget, sebagaimana terlihat viral di you tube, khususnya zikir tahlil, melafalkan Laa ilaaha illallah. Dalam suasana demikian tidak mungkin hatinya hadir dalam suasana hati yang rendah diri, apa lagi tunduk kepala dan takut di hadapan Allah. Jadi aturan teknis zikir yang diperintahkan oleh Allah terabaikan.

Sedikit komentar untuk tahlil La ilaaha illallah dalam catatan saya dari suatu kelompok tarekat. Zikir ini disebut zikir nafi isbat. Nafi artinya peniadaan. Pada saat mengucapkan lafal Laa, kepala tunduk, pemusatan kesadaran tertuju ke pusar (wudel), terus ditarik ke atas ke ubun-ubun. Ketika mengucapkan lafal “ilaha” kepala menoleh dan dipusatkan ke pundak kanan yang paling luar (bahasa Jawa walikat). Ketika mengucapkan illallah, kepala digeser dan dipusatkan ke dada sebelah kiri, persis di bawah punting susu kira-kira berjarak dua jari melintang (bahasa Jawa rong penyari).

Titik itu disebut lathifatul qalbi. Gerakan kepala vertikal dari pusar ke ubun-ubun berisi kesadaran bahwa sejak dasar bumi lapis ke 7 (sapta pertolo) hingga langit lapis ke-7 (langit sap pitu) hingga pusat terluar dari pundak sebagai fokus kesadaran batin bahwa sejauh garis vertikal dan horizontal, sebagai simbol yang menunjuk alam semesta, tidak ada Tuhan sama sekali. Itulah filosofi nafi. Selanjutnya menghentakkan kepala ke titik lathifatul qalbi adalah penetapan hanya Allah isi kesadaran batinnya. Itulah filosofi isbat. Jadi, ringkasnya di alam semesta ini tidak ada Tuhan sama sekali, kecuali Allah yang dimantabkan di dalam hati.

Jika tahlil ini diucapkan pelan, gerakan irama kepala masih bisa benar. Fokus batiniah masih bisa dikendalikan. Akan tetapi, ketika lafal tahlil itu berada di puncak mars-nya, gerakan kepala hanya terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Rasa rendah diri dan takut di hadapan Allah lenyap, dan berubah menjadi penghayatan penyesuaian irama. Ke arah mana kepala berhentak dalam gerakannya, apalagi kalau sudah berdiri dan berjoget atau bergoyang. (bersambung ke bagian-2: Kajian Hukum Zikir Bersuara dan Tidak Bersuara)

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here