Kajian Hukum Zikir Bersuara dan Tidak Bersuara (2-Habis)

0
Ilustrasi: Zikir

Oleh M. Danusiri*

Lanjutan Kajian Hukum Zikir Bersuara dan Tidak Bersuara (1)

TabloidCermin.Com – Secara tegas Rasulullah melarang melakukan zikir bersuara. Demikian hadisnya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Sufyan dari ‘Ashim dari Abu ‘Utsman dari Abu Musa al-‘Asy’ariy raḍiallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apabila menaiki bukit kami bertahlil dan bertakbir dengan suara yang keras”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya.” (HR. Bukhari 2770, 3883).

Hadis ini sinergi dengan ayat 205 dari surat al-A’raf, yaitu berzikir tanpa suara, alias khafi.

Madharat Zikir Bersuara Keras
Ada kejadian yang menghebohkan pada zaman Nabi, sehingga mengagetkan banyak orang, termasuk mengagetkan Nabi sendiri. Demikian gambaran hadis berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ بَزِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَوْ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَأَى نَاسٌ نَارًا فِي الْمَقْبَرَةِ فَأَتَوْهَا فَإِذَا رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
الْقَبْرِ وَإِذَا هُوَ يَقُولُ نَاوِلُونِي صَاحِبَكُمْ فَإِذَا هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالذِّكْرِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim bin Bazi’, telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dari Muhammad bin Muslim dari ‘Amr bin Dinar telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Abdullah atau aku telah mendengar Jabir bin Abdullah berkata; orang-orang melihat api di sebuah kuburan, kemudian mereka mendatanginya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kuburan dan beliau berkata: “aku dapatkan sahabat kalian!” Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang mengeraskan suara ketika berdzikir (HR. Abu Dawud, 2751).

Teks hadis ini penulis komentari. Pertama, ada dua kata yang seakar, yaitu maqbarah dan qabri. Kata yang pertama merupakan bentuk isim zaman, atau isim makan, atau isim alat. Dilihat dari konteks nash hadis, tentu isim makan, artinya kata yang menunjukkan tempat. Maqbarah berarti sebidang tanah yang di bawahnya ada satu jasad orang yang telah meninggal. Sementara qabri merupakan isim masdar (kata dasar, yang darinya dapat diubah dengan bentuk kata yang dikehendaki, qabara, yaqbaru, qabran wa quburan) yang secara praktis dipadankan dengan kata kuburan dalam bahasa Indonesia.

Jadi qabri berarti areal tanah yang di dalamnya banyak makbarah. Ketika orang banyak berlari menuju ke kuburan, tanpa mengindahkan Rasulullah. Mereka tiba-tiba tersadar bahwa Rasulullah telah mendahului mereka datang lebih duluan di tanah pekuburan itu. Kejadian ini sangat ekstrim karena biasanya sahabat mengikuti atau bersama-sama dengan Rasulullah jika melakukan perjalanan, dekat ataupun jauh.

Di dalam maqbarah, sebagaimana terjadi dalam adegan ini disebut oleh Rasulullah “shaḥibakum”, artinya temanmu. Analisis selanjutnya demikian. Struktur sosial di Madinah saat itu terdiri atas: kaum Muhajirin, kaum Anshar, kaum afiliatur Muhajirin dan atau Anshar, tiga kelompok sosial kaum Yahudi, kaum Nashara, kaum munafiqun, kaum yang terlalu dalam nifaq-nya, dan kaum musyrikun (QS.at-Taubah/9:99-102; al-Baqarah/2:39, 62; al-Bayyinah/98 :6).

Dengan demikian, maksud yang ditunjuk shaḥibakum itu adalah orang Muhajirin, atau orang Anshar, atau afiliaturnya. Indikator ini semakin jelas bahwa orang tersebut semasa hidupnya biasa berzikir, hanya saja bersuara keras. Selain mukmin-muslim tentu tidak berzikir. Kalaupun melakukannya tentu bermotif non agamis, umpama zikir politik, zikir kucuran dana, dan zikir dalam partisipatoris research.

Dapat dipahamkan bahwa akibat berzikir yang tidak mengindahkan aturan yang ditentukan oleh Allah maupun Rasulullah berakibat fatal. Tanah maqbarah-nya menyala api yang menyembul dari dalam maqbarah. Harus dinyatakan bahwa secara alami, tanah tidak mungkin terbakar dan menyala. Pada saat itu belum ada minyak tanah, bensin atau pertalite yang tumpah di maqbarah itu. Tidak disebutkan ada tumpukan sampah di maqbarah. Karena itu, satu-satunya dugaan adalah jasad itu yang terbakar hingga apinya menjulang keluar dan dapat dilihat oleh orang banyak.

Penutup
Tanpa menyalahkan siapapun, dengan motif meluruskan praktik keberagamaan sebagimana ditunjukkan dan dituntunkan oleh Allah dan Rasulullah, maka penulis lebih memilih melakukan zikir khafi, kecuali takbir terkait dengan ‘idul fitri maupun ‘idul aḍḥa. Disadari sepenuh hati bahwa hanya istiqamah zikir khafi tidak popular, terlihat religiusitasnya kering, hasil dakwah kurang menggembirakan, tetapi selamat di kemudian hari, yaitu di zaman kelanggengan.

Harap diingat bahwa shalat itu baik dan wajib. Puasa itu baik dan wajib, zakat itu baik dan wajib bagi orang yang telah masuk dalam kategori muzakki, haji itu baik, prestisius dan wajib bagi yang memiliki istitha’ah. Zikir itu baik dan utama. Membaca Alquran itu baik dan menjadi syafi’ di hari kiamat kelak. Tetapi kalau aturan dari pembuat syariat itu diabaikan, kebaikan akan berubah menjadi azab. Karena itu beribadahlah tanpa merubah, mengurangi, menambah, atau membuat-buat dari ketentuan syar’i. Kita mesti hanya melakukannya sejauh kita tahu dan mampu, karena itu tuntutlah ilmu seakurat mungkin mengenai aturan ibadah, sambil memperbanyak memohonan ampunan dan belaskasih dari Allah. Wallahu a’lam bi as-shawab. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here