Tafsir Minta Pondok Pesantren Muhammadiyah Ajarkan dan Kuasai Ilmu Alat

0

TabloidCermin.Com, Pekalongan – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir menyampaikan Pondok Pesantren Muhammadiyah harus mengajarkan ilmu-ilmu alat terhadap santrinya.

Hal tersebut disampaikan Tafsir saat memberi tausiah pada acara Khataman Bil Ghaib di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tahfidz Qur’an Wonopringgo Kabupaten Pekalongan, Minggu (2/2/2020).

Menurut Tafsir, Ilmu alat bagi pesantren wajib adanya. Begitupula dengan penguasaan santri terhadap ilmu tersebut.

“Nahwu shorrof santri Muhammadiyah harus menguasai,” ucap Tafsir.

Tafsir menjelaskan, ilmu alat adalah ilmu dasar dalam memahami agama. Agar mendapatkan pemahaman yang utuh tentang agama maka harus menguasai ilmu alat terlebih dahulu.

Dengan mempelajarui ilmu alat, lanjutnya, maka santri Muhammadiyah tidak akan terjebak pada pengetahuan praktis. Sebab, melalui ilmu alat santri akan memahami akar dan pokok masalah dalam pemahaman agama.

“Ilmu praktis akan mencerabut tradisi intelektual kepesantrenan, ungkapnya.

Karenanya, Tafsir berharap, selain memperdalam Tahfidz Qur’an, pondok pesantren Muhammadiyah harus mengimbangi dengan pendalaman ilmu alat.

Selain itu, Tafsir menambahkan, melahirkan ulama atau kiai bagi Muhammadiyah menjadi keharusan. Muhammadiyah menurutnya adalah organisasi Islam yang tidak bisa lepas dari ilmu-ilmu agama. Di sisi lain, Muhammadiyah juga mengusung paham Islam berkemajuan. Maka tentu akan bersentuhan dengan beragam khazanah keilmuan, bahkan di luar ilmu agama.

“Ulama atau Kyai di Muhammadiyah tidak cukup menguasai ilmu-ilmu agama saja, lebih dari itu harus terbuka terhadap disiplin keilmuan lainnya. Apakah Ulama Intelektual Muhammadiyah saat ini sudah muncul?” tanyanya kepada ratusan hadirin pada pengajian tersebut.

Lebih lanjut, Tafsir menyampaikan Pondok Pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah saat ini terdapat 136, tersebar di seluruh daerah di Jawa Tengah. Jumlah tersebut presentase terbanyak di tingkat nasional. Pondok pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah berpresentase 40% dari jumlah keseluruhan di Indonesia.

Tafsir mengapresiasi akan tumbuh kembangnya pondok pesantren Muhammadiyah terutama di Jawa Tengah. Menurutnya hal tersebut menjadi tanda kesadaran Muhammadiyah dalam menyiapkan kader ulama.

Sementara itu, pengasuh MBS Tahfidz Qur’an Wonopringgo Syaifurrahman menyampaikan bahwa dirinya telah menerapkan pembelajaran ilmu alat di Pondok pesantren yang ia kelola. Diantaranya adalah ilmu Nahwu dan Shorrof sebagaimana diharapkan Ketua PWM Jawa Tengah.

Penyanpaian ilmu Nahwu dan Shorrof kepada santri MBS Tahfidz Qur’an Wonopringgo menggunakan metode Tamyiz. Sebuah metode pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorrof yang aplikatif melalui lagu.

“Kitab Shorrof kita pakai Amtsilatu at-tasrifiyah dan Nahwu al-Wadi untuk kitab Nahwu,” ucap Syaifur kepada tabloidcermin.com usai acara pengajian.

Syaifur menyampaikan, Khataman Bil Ghaib ini merupakan kegiatan rutin tahunan MBS Tahfidz Qur’an Wonopringgo. Saat ini diikuti oleh 36 santri putra dan putri. Mereka adalah siswa kelas 8 dan 9. []

Reporter: Fawaid
Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here