Menerjemahkan Doktrin Agama dalam Format Budaya

0
M. Danusiri/Istimewa

Oleh M. Danusiri*

TabloidCermin.Com – Mukti Ali menjelaskan bahwa unsur pokok agama ada dua macam. Tanpa keduanya, agama tidak pernah akan mewujud. Kedua unsur itu adalah Devine act (aksi Tuhan) dan Human act (aksi manusia).

Seluruh kitab suci yang diyakini berasal dari firman Tuhan, seperti Zabur, Taurat, Injil, Alquran, termasuk kitab suci agama-agama budaya, seperti: Veda (kitab suci agama Hindu), Zen Avista (kitab suci agama Parsi kuno), Mormon kitab suci sekte Nashara di Amerika yang ditulis oleh Yoseph Smith, Tri Pitaka (kitab suci Agama Budha), Wu Jing-Si Shu-Xiao Jing-Chun Qiu kitab suci agama Kong Hu cu, Kojiki-Nihonji-Yengishiki-Manyosiku kitab suci agama Shinto, termasuk Serat Sasongko Jati – kitab suci penghayat Pangestu tidak mempunyai arti sama sekali bagi orang kafir-ateis.

Orang komunis tahun 1960 hingga pecah gerakan gestapu (gerakan 30 September) yang dilibas oleh Gestok (gerakan 1 Oktober) 1965 terlihat biasa menggunakan kertas tulisan Alquran sebagai pembungkus makanan, penyambung semprong lampu teplok para penjual bami, penjual pecel atau aneka jajanan di lokasi pertunjukan wayang kulit di kampung-kampung. Kitab suci sama sekali tidak difungsikan sebagai petunjuk Tuhan yang mengatur kehidupan. Ala kulli ḥal, agama tidak terwujud.

Sebaliknya, apakah itu perseorangan atau komunitas melaksanakan dan mengajarkan berbagai perilaku moralis-etis, tanpa berpedoman kitab suci sebagai representasi firman Tuhan, mereka tidak bisa disebut beragama. Sejauh sebutan bagi mereka, untuk di Indonesia, adalah penghayat aliran kebatinan, mirip dengan itu di Eropa disebut theodicy. Untuk kasus yang disebut oleh agamawan sebagai aliran kepercayaan yang memiliki kitab suci seperti Pangestu, mereka pun menyebut dirinya sebagai pemeluk agama.

Fungsionalisme Agama
Agama apapun, termasuk kerohanian yang bersumber dari kitab yang disucikan oleh pemeluknya memiliki bergainning position antara Tuhan dan Manusia. Tuhan memberikan hidup dan kehidupan, menjawab setiap doa, memberikan petunjuk hidup menuju keselamatan, memberikan solusi setiap kesulitan yang diadukan kepada-Nya, memberikan balasan kebaikan, umpama muncul istilah: ajrun, hasanah, jannah, maghfirah, rahmat, dan mardatillah. Tuhan pun akan mengazab bagi pendosa, umpama muncul istilah: ismun (dosa), fitnah, azab, dan nar. Posisi Tuhan yang demikian ini berdasar pada keyakinan secara umum maupun  pengalaman pribadi yang sangat intens dalam inner word-nya (religious experience).

Gilirannya, manusia merespon aksi Tuhan. Sudah barang tentu, dalam aksi ini berderajat tergantung dari kadar iman, pemahaman, maupun kepentingannya berdasarkan kondisi dan situasi (umpama: sosial, politik, adat kebiasaan, geografis, bahasa, seni, dan aneka kecenderungan) di mana ia berdomisili. Gambaran gradasi keberagamaan diwakili oleh istilah: munafiqȗn, muqallidun, mulḥidun, mutadun (mewakili agamawan kelas bawah),  muthiun, muttabiun, muḥsinun, shaliḥun, muttaqun (mewakili agamawan kelas atas).

Keberagamaan Moderatif
Perlu dibedakan, untuk tidak dipisahkan, antara agama dan keberagamaan. Mengacu kepada Abu Hasan al-Asyari, pendiri teologi Asyariyah, menjelaskan bahwa  agama adalah  undang-undang ketuhanan yang diberikan kepada manusia yang berakal sehat supaya digunakan untuk memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat. Undang-undang itu disebut ad-Din. Sementara itu, beragama adalah pelaksanaan undang-undang itu oleh manusia. Pelaksanaan undang-undang  disebut at-Tadayyun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi beragama.

Jika diukur kebenarannya, agama bersifat mutlak benar atas dasar iman. Dalam Islam, wujud undang-undang itu adalah Alquran dan as-Sunnah al-maqbulah. Sementara itu, kebenaran beragama bersifat relatif-subjektif oleh berbagai faktor: kecerdasan, keikhlasan, dan aneka kepentingan. Itulah sebabnya dalam level keberagamaan muncul aneka mazhab, sekte, golongan, dan aneka komunitas keberagamaan.

Dalam posisi disparitas kelompok sosial keagamaan bisa menimbulkan gesekan, intrik, dan khilafiah karena perbedaan tampilan empirik keberagamaan, bahkan bisa meningkat pada konflik-anarkhisme terhadap siapa saja yang dikategorikan out group atau minhum. Dalam posisi ini, kaum komunis-ateis, positifistis, dan materialis menuduh agama sebagai racun atau candu masyarakat.

Karena keperbedaan tampilan beragama dari masing-masing kelompok sosial keagamaan, dan tidak mungkin diseragamkan menjadi satu mazhab kaum agamawan harus sadar bahwa bertikai hanya merugikan diri sendiri maupun secara umum kaum agamawan itu sendiri. Untuk itu alangkah bijaksana kalau umat beragama, dari mana pun asalnya, jenis agama apapun yang dipeluk mengembangkan sikap toleransi dan moderasi sehingga antar umat beragama bisa menjalani agama dan hidupnya bebas dari rasa didiskrimanasi dan rasa takut.

Pembudayaan Agama
Sebagaimana telah disebutkan bahwa agama tidak pernah mewujud kalau tidak dilaksanakan oleh manusia. Dengan kata lain, agama hanya akan tampak dalam format suatu budaya. Sebaliknya, budaya sering diilhami dan disuntik oleh norma agama. Dengan demikian, untuk menjadi dewasa dalam kehidupan manusia, baik agama maupun budaya berada dalam suasana saling  ketergantungan. Shalat sebagai kewajiban agama yang paling otoritatif hanya tampak dalam tradisi atau budaya. Ungkapan “Biasanya (masuk ranah budaya), orang Islam melakukan shalat” adalah karena terlihat secara berulang-ulang seseorang melakukan shalat.

Karena interdependensi agama terhadap budaya dan sebaliknya, maka dibutuhkan para agen budaya (brouker cultural), dalam hal ini ulama dan toga (tokoh agama: tuan guru, ajengan, malin, kiyai, ustadz, mursyid, pendeta, biksu, pastor, maulana atau istilah lain yang semakna) perlu terus menerus berkreasi mencipta budaya yang aspek spiritualnya adalah agama. Muhammadiyah akan lebih berkembang dari perkembangan selama ini terjadi kalau para mubalighnya piawai mencipta tradisi yang membuat empati masyarakat luas.

Mencipta budaya baru tidak mesti harus berangkat dari nol, melainkan bisa mengubah format budaya lama dengan cara di-wedel (cat, labor, semir, poles, wenter) sehingga sama sekali tampak baru, budaya ingkung kenduri umpamanya. Format ini telah mendapat cap mengandung tahayyul, bidah, khurafat, dan syirik oleh kaum puritanis seperti Muhammadiyah. Di dalam ritual kenduri (dari kata khuḍuri yang berarti hadir) meyakini ruh Kanjeng Nabi Muhammad, syeh Abdul Qadir Jaelani, atau ruh siapa yang diharapkan hadir dalam halaqah secara gaib oleh orang awam kebalikan khash), akan dikatakan tahayyul karena kepercayaan hadirnya ruh dalam halaqah adalah aqidah buatan jauh sesudah Rasulullah wafat dan khurafat karena telah menjadi aqidah massal umat Islam. Ingkung dipersembahkan kepada ruh, bentuk ritualnya akan dikatakan bidah karena asalnya memang persembahan kepada yang dipertuhan dalam Hinduisme, dan akibatnya akan dikatakan syirik karena persembahan itu ditujukan  kepada selain Allah swt.

Tradisi ingkung bisa didesakralisasi, yaitu tafsir ulang yang bebas dari TBC+S dan sepilis. Kata Ingkung dimaknai di-tlekung, yaitu sayap dan kaki ayam diikat, meskipun sudah mati karena disembelih dan tidak bisa bergerak. Lidah ayam harus dijulurkan keluar ke arah kanan atau kiri dari paruh (melet ngiwo utowo nengen). Dengan ini dimaksudkan bahwa lisan sudah tidak bisa berkata kotor dalam segala bentuk dan jenisnya. Sayap dan kaki tercincang dimaknai tidak bisa  pergi dan berbuat apa saja yang masuk dalam kategori maksiat. Urat leher ketiganya putus karena disembelih dimaknai bahwa kerongkongan tidak bisa  menelan makanan haram. Jerohan ayam dibersihkan dari perutnya melambangkan bahwa apa saja yang dimakan sudah halalan thayyiban. Jenis masakan ayam harus terasa gurih melambangkan lezatnya iman karena sudah selamat dari dosa kecil maupun dosa besar. Warna kuning emas ingkung melambangkan cahaya atau sinar iman yang memancar ke dalam totalitas kehidupan.

Jadi, makna kenduri (khuḍuri) bukan lagi mendatangkan ruh orang yang sudah mati, melainkan hadirnya kualitas iman khalish yang terbebas dari TBC+S dan sepilis. Sementara itu format halaqah sudah lumrah terjadi dalam kelompok sosial agama apapun. Audio visual ingkung tetap dilestarikan sebagai varian visualisasi digitalis dengan berbagai aplikasi, mulai sekedar power point hingga aplikasi yang paling canggih menggambarkan lebih dari sekedar naturalianya, umpamanya membuat visualisasi tongkat Nabi Musa bisa membelah laut.

Hanya saja, segera disadari bahwa berkreasi mencipta tradisi baru atau revitalisasi budaya lama dalam format baru untuk dakwah haruslah tidak dilestarikan terlalu lama, sebaiknya hanya tingkat popularitas seumur jagung. Setelah itu muncul kreasi baru sehingga aroma dakwah selalu fresh. Jika suatu tradisi terlalu lama dipelihara dan diuri-uri terus hampir pasti memunculkan tahayyul dan khurafat berikut akibat sesatnya.

Tradisi ya qawiyyu (Yang Maha Kuat) menebar ampunan yang divisualisasi menyebar apem (dari kata afwun yang berarti ampunan) pada tahap awalnya menuai dakwah yang sangat menggembirakan. Tradisi itu sudah berjalan berabad lamanya. Sekarang, sudah muncul kepercayaan bahwa apem yang tersebar dan ditangkap itu telah mengandung tuah secara praktis diidentikan dengan barakah. Sehingga, apem tidak dimakan, melainkan menjadi jimat di rumah dan dipercayai bahwa semula Allah di yakini maha kuat memberi ampunan kepada yang bertaubat, lenyap tertimbun kerak khurafat yang mewujud dalam bentuk apem kering dipotong-potong (cuwil kecil-kecil). Satu cuwilan dicampurkan ke dalam beras yang telah dibersihkan untuk dimasak.

Satu contoh lagi tradisi bukak luwur di Kudus dan Muria, yaitu membuka kain  penutup pusara (kijing) dan rumah bangunan makam Sunan Kudus dan Sunan Muria untuk diganti dengan luwur yang baru. Pelaksanaanya bukan hanya sekedar mengganti luwur, melainkan sarat dengan upacara sacral, antara lain tahlilan yang didalamnya terdapat unsur mengirim pahala kepada parah ruh orang-orag yang sudah meninggal. Setelah itu ada acara makan bersama, yang bahannya adalah nasibungkus daun jati. Makan ini merupakan daya tarik untuk dakwah pada saat itu. Akan tetapi, nasibungkus itu sekarang diperebutkan tidak hanya sekedar dimakan, melainkan dibawa pulang dan dijadikan sebagai tuah dan diyakini membawa barakah. Nasi itu sesampai di rumah dijemur hingga kering. Selanjutnya setiap masak hari demi hari setelah beras itu dipususi, selanjutnya diberi beberapa butir (upo) dari nasi kering tersebut. Nasi yang telah masak itu diyakini mengandung barakah dari pada sekedar nasi, melainkan mengandung tuah yang  lebih dan sulit diuangkap dengan kata-kata.

Mubaligh Muhammadiyah tampak lebih piawai menjustifikasi penyimpangan suatu budaya agamis dan kebanyakannya tanpa memberi alternatif baru, kecuali mengembalikan makna tekstualitas suatu doktrin agama. Mengakhiri tulisan ini, penulis berpesan kepada para dai atau mubaligh Muhammadiyah. Dakwah amar maruf nahi munkar akan berhasil lebih jika mereka mampu menerjemahkan doktrin agama dalam format budaya. Sudah barang tentu harus tetap memperhatikan unsur TBC+S-nya agar tidak menyesatkan umat. Selamat berkreasi dalam berdakwah. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here